
"Apa kata Pak Asthon, apa dia juga memarahimu?" tanya Elca dengan penasaran akut.
Gadis yang selalu manis dengan tampilan feminim itu mendekati Alyne yang baru saja selesai dari ruangan Romeo. Ia sangat takut jika gadis itu sampai dipecat, bukan apa, cuma bersama Alyne ia sudah sangat nyaman. Meski pun bersama Saira tidak secanggung dulu karena gadis itu sudah mau tersenyum kepadanya.
"Pak Asthon itu cerdas, Viya yang dipecat, syukurlah aku nggak perlu mengajaknya berperang lagi."
Saira mengangkat alisnya sedikit heran, sejak kapan Alyne suka berperang dengan orang yang tidak begitu penting. Lalu gadis itu mendekat sembari berbisik pelan.
"Pak Romeo titip salam." bisiknya.
Bulu kuduk Saira tiba-tiba berdiri mendengar ucapan Alyne. Kenapa pria itu semakin tidak normal. Baru saja mereka bertemu bahkan pria itu yang menemaninya ke rumah sakit.
"Kenapa aku merinding," ucap Saira tiba-tiba.
"Aku juga merinding," timpalnya.
Elca menatap curiga keduanya yang sedang berbisik. "Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Bukan apa-apa, ayo lanjutkan bekerja, nanti kita ditegur." Saira bersuara dan Elca kembali ke mejanya.
__ADS_1
Bunyi notif sebuah pesan terdengar di ponsel Saira. "Kamu lagi apa?"
Saira mengernyit lalu membalas pesan tersebut. "Tentu saja lagi bekerja memangnya apa lagi!"
"Apa Alyne ada mengatakan sesuatu?"
"Mengenai kau titip salam padaku." Saira memasang emot sinis. "Sudah, jangan menggangguku."
Saira kembali memasukkan ponselnya ke dalam laci dan menguncinya.
Di ruangan, Romeo tersenyum membaca pesan terakhir dari Saira. Gadis itu sangat susah jika diajak alay-alayan seperti anak zaman now. Ia harus mengatur strategi baru. Romeo menelpon toko bunga yang akan menjadi langganannya. Setelahnya, pria itu mengirim pesan kepada Saira.
Saira kembali mendengar bunyi pesan. Antara penasaran dan enggan peduli. Tapi pada akhirnya, ia memilih membuka kunci laci dan megambil ponselnya.
"Kenapa aku harus menunggumu!" dengkusnya dengan suara pelan. Tapi ada sesuatu yang terasa menghangat di dalam hatinya.
Tiga jam pun berlalu tanpa terasa, kini jam pulang kantor telah menggema dan Alyne segera pamitan dengan Saira.
"Aku duluan," ucapnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengajakku?" tanya Saira bingung.
"Romeo akan mengajakmu pulang Saira sayang, jaga diri baik-baik dan ingat kakimu, jangan dipakai buat olahraga berat." kekeh Alyne menggodanya.
"Kau ini ada-ada saja, mana mungkin Romeo mau mengajakku lari. Sudah pulang sana." usir Saira jengkel.
Gadis itu melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu. Sedangkan Saira memilih menunggu di ruangannya. Karena kakinya terasa sedikit ngilu. Sekitar setengah jam lamanya ia menunggu tapi batang hidung pria itu tidak juga kelihatan. Saira sampai menguap beberapa kali, raut kesal terlihat jelas tercetak di wajahnya yang lelah.
Sebuah notif kembali masuk, "Naiklah ke ruanganku."
Saira mendesis kesal tapi ia tetap mengikutinya. Dengan langkah pelan ia masuk ke lift dan menekan tombol menuju ruangan Romeo.
"Bikin kesal saja," ucap Saira masih dengan nada jengkel.
Lift berhenti di tempat yang dituju, lalu terbuka dan Saira melangkah dengan perlahan. Terlihat sang sekretaris sudah tidak lagi terlihat di sana. Itu artinya, hanya dia dan Romeo yang di sana. Meskipun begitu, Saira mengetuk pintu dan Romeo segera membukanya.
"Ayo masuk," ucapnya.
Saira sedang tidak mood untuk menyumpahi pria itu karena sudah membuatnya menunggu begitu lama. Ia sangat lelah dan tergoda melihat sofa panjang yang terlihat sangat empuk.
__ADS_1
-------