
Yudi mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Gadis yang saat ini berada di hadapannya memiliki lidah yang sangat berbisa. Namun, hal itu semakin membuatnya tertarik untuk terus mendekati. Selama ini tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Siapa yang tidak tahu dirinya, dia adalah pria yang memiliki kekuasaan di Indonesia. Ayahnya seorang petinggi di sebuah perusahaan dan dirinya adalah seorang manajer di perusahaan yang bergerak di bidang periklanan.
"Saya tidak pernah bermaksud menganggap pertemuan ini sebagai sebuah candaan!" tekannya dengan tegas.
"Lalu kenapa Anda tidak fokus?" tanya Saira datar.
"Apa maksud Anda?" tanya Yudi. Ia sangat suka gadis seperti Saira. Selain cantik, dia juga cerdas. Yudi akan membuat gadis itu memohon kepadanya. Tidak ada satu gadis pun yang tidak bertekuk lutut padanya.
"Oh, saya tahu. Bagaimana mau fokus saat mata Anda dengan jelalatan memperhatikan saya."
Romeo mengepalkan tangan saat mengetahui hal tersebut. Ia sangat fokus menjelaskan dan tidak mengetahui jika pria yang saat ini sedang menatap congkak ke arah Saira sudah berbuat tidak baik pada kekasihnya. Beraninya dia menatap Saira dengan tatapan seperti itu.
"Sayang, ayo kita pergi, perusahaan kita tidak begitu perlu bekerja sama dengan perwakilan yang tidak kompeten."
"Apa maksud Anda?" tanya Yudi dengan kemarahan. "Apa kamu tidak tahu siapa yang sedang dihadapan Anda sekarang?"
__ADS_1
"Lihatlah pria ini! Semakin lama kewarasannya semakin menghilang. Waktu kita sudah sangat sia-sia karena harus bertemu dengan pria sampah seperti ini."
Saira segera menggandeng lengan Romeo dan melenggang pergi dari sana meninggalkan Yudi yang menahan kemarahan di mejanya. Ia bersumpah akan membuat mereka berdua yang sudah mempermalukannya merasakan penyesalan. Namun, satu hal yang tidak diketahui oleh Yudi, bahwa Saira dan Romeo memiliki kekuasaan jauh di atasnya. Jika dia hanya membanggakan kekayaan yang dimilikinya, maka dia sudah salah memilih lawan untuk bersaing.
"Dasar pria menyebalkan, tidak tahu diri." kesal Saira setelah sampai di dalam mobil.
"Kamu kalau kesal sangat cantik sayang."
"Aku tahu, tapi Romeo lihatlah, dia sudah membuat jam makan siang kita berantakan, sekarang kita sudah harus kembali ke kantor." dengkus Saira.
"Oh iya, sayang bagaimana kelanjutan cerita Elca?" tanya Romeo setelah kembali menjalankan mobilnya menuju kantor.
"Ah, aku sampai lupa, ah masalah pria itu, aku tidak mengetahui namanya. Mungkin Alyne akan segera mengetahuinya."
"Kita harus menyelidiki soal ini, jika Elca terus bungkam seperti ini maka akan sangat merepotkan. Kita tidak akan bisa membantunya."
__ADS_1
"Kamu benar, sayang." Saira mendesah pelan.
Romeo menghentikan mobilnya dengan mendadak, Saira sampai tersentak ke depan dan menatapnya demgan tatapan bingung. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu menginjak rem?"
"Bukan begitu sayang, untuk pertama kalinya kamu memanggilku sayang. Aku kaget setengah mati."
"Cuma karena itu?" tanya Saira kesal.
"Itu bisa jadi keajaiban dunia kedua puluh."
"Ngawur kamu, jalankan lagi mobilnya nanti kita masuk terlambat."
Romeo terkekeh geli melihat raut wajah Saira. Dengan segera ia melanjutkan laju mobil dengan kecepatan sedang. Saat di lampu merah mobil mereka dilempari telur oleh orang yang tidak dikenal. Saira mengepalkan tangan. Ia segera mengaktifkan kamera ponselnya meskipun mobil Romeo memiliki kamera tersendiri.
------
__ADS_1
Nah sudah mencium bau peperangan kan? kita akan segera memasuki dunia pembantaian 🤣🤣🤣🤣🤣