
Mereka bertiga tertawa dan tampak kembali memesan satu porsi lagi. Mereka bercerita sedikit mengenai makanan Mbok Na bila tidak habis.
"Biasa sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan tuna wisma yang kelaparan. Jadi saya memberikannya ke pada mereka." wajah Mbok Nah tampak berseri saat menceritakan hal tersebut.
"Apa Ibu tidak rugi?" tanya Saira penasaran.
"Saya akan sangat rugi jika membuang makanan itu Neng."
Saira tersenyum mendengar jawaban itu. Mulai dari sekarang ia akan menggantikan tugas Mbok Nah. Jika makanan wanita itu tidak habis. Ia yang akan membeli lalu membagikannya ke tuna wisma yang mereka temui di jalan.
"Wah enak banget! Terima kasih Mbak Noh, sudah menyajikan gado-gado seenak ini. Rasanya tiada dua!" Elca menyeruput minuman yang disajikan bersamaan dengan gado-gado tadi.
"Ini makanan terenak yang pernah kumakan." Alyne tak kalah semangatnya setelah menghabiskan dua porsi gado-gadonya.
Gado-gado yang ada di kantin itu, berbeda dengan kebanyakan. Mulai dari tekstur, rasa bahkan bahannya juga sangat sempurna. Tapi satu hal yang membuat Saira heran. Kenapa makanan seenak ini tidak banyak yang membelinya.
"Mbok Nah, kenapa gerainya terlihat sepi. Padahal di sini banyak pegawai."
"Mereka lebih suka makan di restoran Mbak, dengan makanan luar." Terang Mbok Noh sedikit sedih. Tapi senyumnya perlahan terbit.
"Tapi bagi saya, semua tidak masalah. Mungkin ini salah satu cara Tuhan agar saya berbagi dengan tuna wisma."
__ADS_1
Melihat senyum itu, hati Saira menghangat. Sangat jarang di zaman yang sudah canggih ada penjual seperti wanita tua itu. Meski hanya memiliki gerai yang kecil, tapi masih mau berbagi dengan orang lain.
"Mbok Nah, gimana kalau Lyn, Ae sama Elca promosiin gado-gadonya."
"Apa tidak akan merepotkan Neng?"
"Tentu aja enggak, Mbok Nah. Semua orang harus mencicipi keenakan gado-gado buatan Mbok."
Wanita yang sudah tua itu terlihat terharu. Meski pelanggannya tidak banyak. Tapi hampir semua dari mereka memiliki hati yang baik. Ia selalu diperlakukan dengan baik.
"Bu, saya pesan satu porsi gado-gado!"
Banyak yang menatap iri kearah ketiganya.
"Ini Den, semoga suka."
Mbok Inah menghidangkan satu porsi gado-gado dan segelas air putih. Ia tidak pernah melihat ada pria setampan itu di kantor ini. Perlahan beberapa karyawan ikut memesan gado-gado juga. Mendadak Mbok Nah, terpaku melihat keajaiban itu.
"Mbok, ini uangnya. Kami permisi!"
"Biar saya yang membayarnya," ucap Romeo datar.
__ADS_1
"Tidak perlu Tuan, kami saja."
Saira segera menyerahkan dua lembar uang merah kepada Mbok Nah. Wanita itu menerima satu lembaran dan mengucapkan terima kasih.
"Mbok, ambil aja dua-duanya."
"Tidak Neng, ini juga sudah cukup. Terima kasih."
Romeo menyunggingkan senyum. Ketiganya pergi meninggalkan area kantin karena jam makan siang akan segera berakhir. Sesampainya di ruang kerja, kembali wanita yang biasa disapa Viya membawa tumpukan berkas.
"Kerjakan dan jangan pulang sebelum selesai!" perintahnya. Kemudian berlalu pergi. Alyne ingin sekali mengulitinya hidup-hidup.
"Biar aku aja yang ngerjain, Ev."
"Enggak apa, ini bukan hal yang sulit kok. Lagi pula aku lagi malas pulang!"
-----
Guys tahu nggak wkwkwkw... naskah ini ada adegan dewasanya. semoga tayang sebelum puasa yak. duh aku deg degan takut digaplok sama kalian. Kalau nanti udah puasa bacanya di skip ya ntar batal wkwkwkw.
__ADS_1