
"Melihat dari sini saja sudah cukup bagiku," ucapnya lembut.
Alyne yersenyum dan memegang bahu Izora untuk memberinya sedikit kekuatan tidak kasat mata.
"Kamu bisa kembali bersama jika keadaan sudah membaik, Eve hanya tidak ingin kamu terkena masalah yang bisa membahayakan kalian."
"Aku tahu, untuk itu aku akan mendengarkannya."
"Tapi satu hal yang membuatku bingung, apa yang dikatakan Eve kepada kedua orang tuaku sampai mereka tidak merasa cemas sama sekali." Alis gadis itu terlihat menukik.
"Eve bisa melakukan segalanya. Jika orang tuamu merasa baik-baik saja, itu artinya ada kabar bahagia yang dia sampaikan kepada mereka."
Gadis itu mengangguk dan mereka segera pergi dari sana menuju kediaman Saira.
"Aku masih memikirkan soal Elca, entah bagaimana nasibnya sekarang."
Izora tampak tertunduk lesu dengan merebahkan tubuhnya ke badan kursi penumpang. Alyne mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang sampai terdengar suara dari seberang.
__ADS_1
"Hai, ada apa menghubungiku!" teriak Elca dari seberang karena saat ini ia sedang berada di pantai.
"Ada seseorang yang merindukanmu."
Mendengar suara tersebut, bola mata Izora membulat sempurna. Meski pun mereka baru mengenal beberapa hari. Namun, gadis itu sudah seperti keluarganya sendiri. Hidup beberapa hari di kediaman Saira membuat jalinan persaudaraan terikat di antara mereka semua.
"Hai, Zora! Bagaimana kabarmu?" tanya Elca sambil melambai ke arahnya.
"Bukankah, kau ...." kalimatnya tidak terucap karena Elca sudah lebih dahulu memotongnya.
"Jangan mengkhawatirkan aku, semua ini perbuatan Eve. Dia yang merencanakan sandiwara ini sehingga aku bisa menikmati liburan ke Bali."
"Bagaimana bisa?" tanyanya bingung.
"Tidak ada yang bisa mengetahui jalan pikiran Eve, termasuk diriku."
Mendengar hal itu cukup meyakinkan jika Saira masuk dalam kategori gadis dengan pemikiran yang tidak teridentifikasi sama sekali. Wajar jika aura gadis itu saat mereka pertama kali bertemu sangat berbeda dengan yang sekarang.
__ADS_1
"Elca, sepertinya teman kita sedang syok, kusudahi dulu panggilannya! Have nice day," ucap Alyne dan segera mengakhiri panggilan.
"Aku bukan hanya syok tapi double syok. Jika sandiwara saja semeyakinkan itu, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi." Izora menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar
"Semua hanya bisa terjadi jika Eve lah orang yang melakukannya."
"Kamu benar sekali," jawab gadis itu dengan nada setuju.
Mereka pun akhirnya sampai di depan pagar kokoh yang berdiri perkasa memberi sekat. Gerbang tersebut secara otomatis bergeser dan Alyne segera memasukkan mobil ke dalam. Di ruang tunggu, Saira sedang serius membaca beberapa majalah ditemani beberapa cemilan kesukaannya.
"Kamu sudah pulang duluan ternyata," ucap Alyne sambil meletakkan kunci mobil di gantungan khusus dan ikut merebahkan diri di sana tanpa terkecuali.
"Di luar begitu membosankan, tidak ada hak yang lebih menarik selain berdiam diri di rumah."
"Meski pun kamu keluar bersama Romeo?" tanya Alyne.
"Dia tidak pernah membosankan, hanya lingkungan saja yang membosankan!"
__ADS_1
Izora tertawa kecil mendengar jawaban Saira, bahkan tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran Saira selain dirinya sendiri. Terbiasa memasang wajah jutek, cuek, datar dan dingin. Banyak orang yang enggan mendekat hanya untuk sekadar bertegur sapa. Tapi semakin dikenal, dia sosok yang sangat baik. Setidaknya begitulah bagi mereka bertiga.
-------