
Saira dan kedua temannya kembali ke kantor sambil tertawa saat bersisian. Romeo tertawa kecil melihatnya, ia sangat senang saat tawa Saira memenuhi gendang telinganya. Mereka juga sempat berpapasan dan Romeo membisikkan sesuatu di telinganya.
"Temui aku di ruangan nanti sore." bisiknya.
Saira menatap sekilas manik Romeo dan tersenyum singkat. Beberapa orang yang melihat interaksi keduanya mendadak dibuat cemburu, termasuk Elca yang asyik menanyakan apa yang dibisikkan Romeo kepadanya.
"Dia minta dibelai," ucap Saira asal dan berhasil membuat Elca batuk-batuk.
"Maksudmu belai di giniin?" tanyanya sambil mempraktikkan ke pada Alyne yang sedang berada di sebelahnya.
"Kau ini sangat polos, belaian mereka bukan yang seperti itu." kekeh Alyne kali ini membuat Elca menganga. Ia mengalihkan tatapan pada Saira yang sedang tersenyum misterius menatapnya.
"Jangan memikirkan banyak hal, nanti kau bisa jatuh sakit!" peringat Saira.
Mereka pun kembali ke meja masing-masing dan melakukan rutinitas seperti biasanya. Saira mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan segera keluar berjalan ke ruangan Romeo sambil membawa beberapa berkas. Ia memasuki lift menuju pantai ruangan pria itu dan bertemu dengan sekretarisnya.
__ADS_1
"Apa Pak Asthon ada di dalam?"
"Silakan, Bu Lyn," ucapnya.
Saira segera masuk dan disambut oleh Romeo yang sudah menunggunya di sana. Saira berjalan ke arah pria itu sambil mengulurkan berkas yang dia bawa barusan. Sedangkan Romeo menelpon sekretarisnya agar tidak ada yang menganggunya. Ia bahkan sampai mengunci ruangannya karena ingin bersama Saira dan tidak ingin diganggu.
"Apa kau begitu merindukanku?" goda Saira sambil membelai jemari Romeo yang berada di atas meja.
"Aku sangat merindukan semua yang melekat padamu sayang."
"Kenapa, hm?" Romeo tampak khawatir.
"Hanya sedikit letih, tapi bukan masalah yang serius."
Romeo bangkit dari kursinya dan mengajak Saira ke ruangan rahasianya dibalik lemari berkas. Di sana tersedia kamar tidur yang mewah lengkap dengan kamar mandinya.
__ADS_1
"Sejak kapan kau memiliki ruangan ini?" tanya Saira dengan takjub.
"Sejak kamu memilihku untuk menjadi pendampingmu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Saira terkekeh mendengar jawaban Romeo yang menurutnya lucu. Entahlah, tapi satu hal yang pasti, dia merasa sangat bahagia saat berada dalam dekapan Romeo. Pria itu memang sering menyentuhnya tapi Saira tahu, sentuhan itu bukan nafsu seperti pria hidung belang melainkan karena Romeo ingin menyalurkan rasa cintanya. Pahitnya saat enggan disentuh membuat Saira merasa sangat kotor dan jijik dan murahan, tapi Romeo tidak pernah membuatnya merasakan ketiga hal tersebut.
"Sini biar kupijat bahunya." Romeo mengambil minyak dan menyuruh Saira untuk membelakanginya. Gadis itu menurut dan perlahan pijatan tangan kekar mulai bekerja di sana. Saira merasa sangat nyaman dan matanya perlahan tertutup.
"Bagaimana rasanya?" tanya Romeo.
"Sangat nyaman, rasa sakitnya juga perlahan hilang," jawab Saira lebih kepada bisikan.
"Syukurlah," ucap Romeo.
Pria itu terus melakukan pijatan lembut dan tanpa ia sadari Saira sudah lelap dan tidak lagi bisa mendengar kalimatnya. Pria itu terkekeh geli saat melihat wajah Saira yang terlihat sangat damai. Romeo membenarkan letak tubuh Saira dan ikut berbaring bersamanya, meski masih ada beberapa berkas yang belum ia selesaikan. Berada di dekat gadis itu selalu menimbulkan sebuah kenyamana yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mendekap, mengecup dan menyentuh menjadi sebuah candu baginya. Namun, tidak pernah sekali pun ia melebihi batasnya, karena bagi Romeo kesucian Saira hanya boleh ia ambil saat mereka sudah terikat oleh janji pernikahan.
__ADS_1