
Sudah dua minggu semenjak Evellyn sadar dari koma. Kini perusahaan akan diserahkan padanya lantaran sang ayah ingin istirahat dan menikmati waktu tua bersama istri tercinta. Namun, meskipun begitu, ia masih tetap memantau putrinya dalam memipin perusahaan. Walau bagaimana pun ia tidak bisa membiarkan perusahaan hancur di tangan yang tidak kompeten. Tapi ia sangat yakin dan percaya, hanya putrinya yang mampu mengurus perusahaan yang ia rintis dari nol. Saira menatap tajam sekumpulan keluarganya yang berada di ruang tamu. Ia berjalan ke sana dengan anggun, mereka menyadari kehadiran Saira dan menyapa gadis itu.
"Selamat pagi Kak Eve," sapa mereka yang hanya dibalas tatapan tak acuh.
"Apa kalian tidak memilik pekerjaan selain menghabiskan waktu berkumpul?" sindir Saira sarkas.
Mereka tampak terdiam, lalu salah satu dari mereka menatap menantang ke arah Saira. "Apa pedulimu pada kami!"
Saira menatap tajam gadis yang tempo lalu menanyakan hal bodoh padanya. Sudut bibir Eve terangkat dan terlihat mengejek. "Sejak kapan aku peduli, tapi dengan kalian seperti ini bukankah menghabiskan uang keluargaku dengan cuma-cuma."
Tangan gadis itu mengepal marah mendengar ucapan Saira. Namun, belum sempat ia mengeluarkan sumpah serapahnya. Terlihat William menuruni tangga. Mereka menyapa William dengan sopan, termasuk gadis yang tadi bersikap kurang ajar padanya. Setelah menyapa keponakannya, ia menyapa Saira yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Halo sayang, sudah siap untuk hari esok?" tanya William tersenyum.
Gadis yang diketahui bernama Chloe mencuri dengar percakapan mereka. Kabar yang sangat mengejutkan untuknya harus segera disampaikan kepada ibunya.
"Siap, kok Pa."
"Kamu adalah anak kebanggaan Papa sayang, Papa tahu kalau kamu mampu membawa perusahaan lebih baik lagi ke depannya."
"Makasih atas kepercayaan Papa."
"Ma, ini sangat gawat!" teriak Chloe dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Tasma yang sedang membaca majalah pun dibuat kaget oleh kedatangan putrinya. Ia meletakkan majalah kepangkuannya lalu bertanya dengan tatapan penasaran. Jika wajah putrinya sangat cemas maka hal buruk sedang terjadi.
"Ada apa?"
"Ma, Om William akan menyerahkan perusahaan kepada Eve besok."
Mata Tasma terlihat membulat mendengar ucapan putrinya. Ia bangun dari sofa dan menghampiri Chloe dan meminta penjelasan yang lebih rinci.
"Kamu mendengar dari siapa?" tanya Tasma.
"Aku mendengarnya langsung, Ma. Tadi kami sedang berkumpul di ruang tamu. Tentu saja aku menguping."
__ADS_1
"Kalau apa yang kamu katakan memang benar, maka ini sebuah musibah untuk kita. Usaha yang selama ini kita lakukan akan sia-sia belaka."
-----