Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Rasa Peduli Tinggi


__ADS_3

Saira mendesis kesal dan ingin sekali memukul kepala kekasihnya. Kalau hanya urusan itu ia tidak perlu naik ke lantai setinggi ini, meski pun hanya menggunakan lift tapi tetap saja waktunya sudah terbuang dengan percuma.


"Kenapa tidak menggunakan telpon saja?"


"Karena aku ingin melihatmu datang kemari Sayang. Entah kenapa mendadak rindu."


"Astaga Romeo, kenapa kau jadi seperti ini? Apa kepalamu habis terbentur benda keras atau benda tajam?"


"Tidak, aku sedang terbentur cintamu sayang. Kamu yang sudah mengajariku arti sebuah cinta yang sebenarnya."


"Gila, sejak kapan aku mengajarimu, ya sudah aku ke bawah dulu. Kau tahu banyak sekali pekerjaan yang terbengkalai." rutuk Saira kesal mengingat ulah Romeo.


"Kamu ini kenapa begitu menggemaskan kalau diperhatikan. Makin lama makin bikin gemes," ucapnya sambil menjawil kedua pipinya.


"Jangan melakukan hal itu untukku, atau aku akan menendangmu." kesal Saira.


"Aku benar-benar sedang sangat merindukanmu sayang."

__ADS_1


"Sudahlah Romeo, nanti kita bahas rindunya. Sekarang aku harus kembali bekerja dan satu lagi, jangan minta sebuah kecupan apalagi ciuman karena aku sangat hafal trikmu untuk menggoda dan menggerayangiku."


Romeo tertawa mendengar kata gerayang yang diucapkan Saira. Gadis itu terlalu melebihkan apa yang suka ia lakukan pada Saira. Ia hanya suka menjahili Saira dengan mendekapnya lama lalu mencari berbagai alasan agar pelukan dan pagutan mereka tidak lepas dengan segera.


"Baru saja hendak kulakukan tapi sudah di wanti-wanti sama kamu sayang." Romeo melengos dengan lemah.


"Jangan berlagak menyedihkan Romeo, wajahmu tidak cocok menjadi penipu. Sudah, aku pergi dulu."


Saira segera pergi dan berlalu dari sana. Apa pun yang ia lakukan pria itu akan terus membuatnya kesal. Tapi Saira sangat mencintai Romeo meskipun sangat menyebalkan. Di sisi lain, kekasihnya sangat romantis dan pengertian juga mampu memberinya apa yang belum pernah ia dapatkan di kehidupan sebelumnya.


"Hanya urusan kecil," ucap Saira. Ia kembali memusatkan pikirannya agar pekerjaannua segera selesai. Dengan begitu, ia bisa dengan mudah beristirahat. Tubuhnya sangat pegal dan matanya juga mulai kelelahan karena terus bekerja.


Tapi Elca sangat menganggunya. Ia tidak suka pikirannya sampai terganggu karena hal seperti itu. Ia menatap Elca dengan lekat sampai membuat gadis itu ketakutan.


"Ada apa?" tanya Elca gugup.


"Apa kau akan terus berbohong padaku?" tanya Saira dengan menatap tajam.

__ADS_1


"Apa maksudmu, aku sedang tidak berbohong." elaknya.


"Baiklah jika kamu tidak mau jujur dan mengatakan hal yang sebenarnya. Aku juga tidak akan lagi bersikap peduli dengan orang yang tidak ingin dipedulikan oleh orang kain."


Saira tahu, perkataannya akan sangat menyakiti perasaan Elca yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Namun, ia tidak suka dibuat penasaran dengan apa yang dialami Elca. Gadis itu sudah dia anggap sebagai teman dan kini Saira harus dihadapkan dengan Elca yang tidak ingin berkata jujur. Memilih bungkam dalam kesakitan. Saira benci situasi seperti sekarang. Di mana saat ia merasa peduli, orang lain enggan dipedulikan.


"Menyebalkan!" kesal Saira sambil melempar bolpoinnya kasar ke sudut laci.


Elca memilih pergi dari sana dan tampak meneteskan air mata. Perkataan


Saira sangat menyakitinya. Namun, ada benarnya. Akan tetapi ia tidak tahu harus bercerita dari mana.


"Maaf Lyn," bisiknya


--------


Meski terkesan kasar, tapi Saira sangat peduli dengan orang2 yang sudah dianggap penting.

__ADS_1


__ADS_2