Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Aksa Suka Marah


__ADS_3

Hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul sepuluh. Saira baru selesai mencari bahan untuk tugasnya di perpustakaan. Ia pun segera bergegas pulang meski ia tahu tidak akan ada orang yang akan menunggu kepulangannya. Saira segera menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, ia menaikkan kecepatan motor karena merasa diikuti. Tanpa pikir panjang ia segera melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi, hingga di perempatan jalan ia tak mampu mengendalikan keseimbangan kemudian oleng hingga membuat tubuhnya terpental beberapa meter di bahu jalan.


Tidak ada luka yang serius hanya saja beberapa bagian tubuhnya terluka cukup dalam termasuk lengan dan lututnya.


Ia tidak merasakan sakit sama sekali. Beberapa orang yang membantunya menyuruh dia ke rumah sakit untuk berobat. Namun, ditolak halus olehnya. Ia kembali melajukan motornya hingga selamat sampai ke rumah. Saira lupa bahwa hari ini keluarganya berkunjung ke rumah, dengan pelan ia membuka pintu. Ia melewati beberapa anggota keluarga yang sedang bercanda tawa tanpa menghiraukan kehadirannya. Tak mau ambil pusing ia segera menaiki tangga dengan langkah pincang.


Sesampainya di kamar, ia segera mengambil kotak P3K dan segera mengobati tubuhnya yang terluka. Meski harus menahan perih yang teramat menyiksa ia tidak menangis. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali menangis.


"Aku sudah berteman dengan luka, bagaimana bisa aku menangis." Ia mensugesti diri sendiri.

__ADS_1


Ia sedang sibuk membersihkan dan mengobati luka. Namun, suara pintu menghentikan kegiatannya. Ia melangkah untuk membuka pintu tersebut dengan langkah tertatih.


"Kau ditunggu Mama sama Papa di bawah," ucap Tya selaku adek iparnya dengan ketus.


Saira hanya menganguk dan segera melangkah dengan susah payah menuruni tangga menuju tempat mereka semua berkumpul.


"Malam Ma, Pa," sapa Saira dengan kikuk kepada orang tua serta mertuanya yang hanya dibalas anggukan kecil oleh mereka. Sedangkan di sisi lain ia melihat suaminya sedang bercengkrama dengan Izora yang terlihat sangat serasi dan bahagia. Ia hanya mampu tersenyum pahit saat melihatnya.


"Tidak Pa, tadi ada tugas kampus yang harus diselesaikan dengan cepat. Alasan kenapa Saira pulang terlambat karena mampir keperpustakaan," jawabnya dengan pelan sambil menunduk.

__ADS_1


"Tidak ada yang lebih penting daripada suami. Apa yang mau kamu kejar dari pendidikanmu hidup saja menyusahkan dan memalukan orang tua!" hardik Andri pedas.


Mendengar nada penuh sindiran tersebut hati Saira kembali merepih. Namun, ia mencoba menahan sekuat tenaga agar tidak menangis karena dalam keramaian nyatanya ia hanyalah seorang diri yang kesepian. Saira undur diri sejenak dari kesesakan yang menyiksanya.


Dengan pelan ia kembali berjalan dan memaksakan lutut yang terluka seolah ia baik-baik saja. Menaiki tangga satu demi satu sambil menahan ringisan saat keringat sudah membanjiri wajahnya, ia tak mampu lagi berjalan karena rasa perih yang teramat sakit pada lututnya. Hingga pada tangga terakhir kaki kanannya oleng dan kehilangan keseimbangan. Tubuh Saira jatuh hingga berguling menuruni tangga.


Bunyi yang keras mengagetkan mereka semua. Namun, ia bangkit perlahan dan mencoba terlihat baik-baik saja karena semua tidak ada artinya bila kebencian sudah mendarah daging di hati mereka semua. "Lain kali hati-hati, mata jangan di dengkul. Taunya hanya merepotkan!" dengkus Aksa tajam. Pria itu berjalan mendekati Saira sambil menggendong menuju kamar.


"Terima kasih," ucap Saira pelan, hanya dibalas angin lalu karena Aksa sudah berlalu dari sana.

__ADS_1


"Melihatku saja ia sudah muak bagaimana nanti bila aku pergi jauh ia pasti akan sangat bahagia." Saira tertawa miris.


 


__ADS_2