Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Pengelabuan


__ADS_3

"Semprotkan ke matanya." perintah Saira


"Oh, baiklah." Alyne segera menjalankan perintah Saira dan pria itu menutup matanya yang terasa pedih dan segera menghalau. Gadis itu segera menarik Izora menjauh dari sana dan menuju pintu keluar.


Mereka berdua berlari menempuh semak belukar mengingat tidak aman jika melalui jalan utama yang banyak dijaga oleh para anak buah Wira. Napas Izora mulai memendek dan mereka memutuskan untuk berhenti sejenak sebelum mereka melanjutkan kembali.


Di sini lain, anak buah Wira segera mencari keberadaan mereka. Tidak segan menembus hutan belukar dan langkah kaki mereka terdengar di telinga Alyne. Gadis itu dengan segera memberi isyarat pada Izora agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


"Ayo! Cari mereka, pasti tidak jauh dari sini." teriak pria yang tadi menjambak rambut gadis yang sedang bersamanya. Mereka terdiri dari sepuluh orang dan segera berpencar, Alyne mengisyaratkan untuk menunduk agar tubuh mereka tidak kelihatan karena mereka tepat berada di semak yang di samping pria bertubuh kekar tersebut.


"Mereka berhasil lolos, Bos." teriak salah satu anak buahnya saat melihat ada libasan di depan mereka. Alyne menatap heran melihat hal tersebut. Namun, di sisi lain ia bersyukur mungkin ini cara Tuhan membantu mereka. Terlihat mereka semua segera menuju ke arah itu.


"Sialan! Kita akan dihukum sama Tuan Wira."

__ADS_1


Pria bertubuh kekar itu yang terakhir pergi dari sana. Bagaimana pun caranya, kedua sandra tersebut harus segera ditemukan atau nyawa mereka bisa melayang kapan saja.


Setelah melihat kondisi aman, Alyne segera membawa Izora pergi jauh dari sana hingga mereka menemukan jalan raya. Saira segera menyuruh suruhannya untuk stand by di tempat Izora akan keluar. Begitu sampai di sana sudah ada sebuah mobil yang menunggu mereka dan Alyne sangat mengenal mobil tersebut.


Saat mereka sampai tiba di jalan raya, salah satu anak buah dari Wira melihat mereka dan memanggil bosnya. Kembali mereka saling mengejar dan Alyne dengan segala kekuatannya dibantu oleh pria yang menunggu mereka segera menuju ke arah mobil dan masuk ke sana. Pria itu dengan segera menjalankan mobilnya dan keluar dari sana membelah jalanan.


Saira menghela napas lega di seberang, begitu juga dengan Elca.


"Sialan!" teriak pria yang dipanggil bos tersebut.


Romeo datang sambil membawa beberapa cemilan untuk Saira, ia juga membawa sesuatu untuk Elca.


"Terima kasih," ucap Elca dan menerima dengan senang hati bingkidan tersebut.

__ADS_1


"Iya, kuakui Alyne memang cocok dijadikan mata-mata, meskipun aku sangat khawatir tapi gadis itu tidak pernah membuatku kecewa."


Sairs mengucapkan kalimatnya dengan penuh rasa bangga dan Romeo tertawa melihatnya. Jarang-jarang melihat ekspresi kekasihnya yang beragam. Dia seperti musim yang silih berganti, haya di waktu tertentu bisa menikmatinya.


Mobil yang membawa mereka sudah sampai di kediaman Saira, kini saatnya mereka menyambut dan Saira sudah berdiri di pintu. Izora yang melihat hal tersebut merasa ada sesuatu dalam diri Saira yang sangat dekat dengannya. Mungkin dulu ia sangat membenci gadis yang saat ini membuka pintu dengan wajah datar. Tapi setidaknya ia diselamatkan olehnya.


"Terima kasih," ucap Izora tulus.


"Silakan masuk," ucap Saira dengan mempersilakan dan gadis itu masuk dengan perlahan.


Romeo tahu jika saat ini Saira sangat senang melihat kedatangan saudaranya meski wajahnya menunjukkan sebaliknya.


------

__ADS_1


__ADS_2