
"Bukankah saya bilang agar jangan menganggu, apa Anda tidak memiliki telinga? Kalau begitu, bagaimana kalau telinganya diambil sekalian."
Viya segera melarikan diri dan melaporkan hal tersebut langsung kepada Romeo. Ia beserta manajernya menemui Romeo dengan sebuah drama.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Romeo penasaran.
Mereka berdua menceritakan semua yang mereka alami barusan, lalu ditambahi sedikit oleh mereka. Hal itu membuat Romeo harus memanggil Saira. Ia harus mendengar dari kedua sisi. Romeo menekan sebuah tombol.
"Panggilkan Nona Lyn ke ruangan saya."
Setelah itu ia mematikan panggilannya. Sambil menunggu kedatangan Saira, ia meminta keduanya melanjutkan ceritanya sampai ia menarik sebuah kesimpulan dari pihak pertama. Sebuah ketukan mulai terdengar, sekretarisnya masuk dan segera memberitahu kedatangan Saira.
"Pak, Nona Lyn sudah datang, silakan."
"Terima kasih, Raya. Kamu bisa kembali."
Gadis itu segera kembali ke mejanya. Saira masuk dengan wajah datar dan tidak bersahabat sama sekali. Ia bahkan menatap Romeo dengan tajam. Tatapannya terasa sangat familiar di mata Romeo. Seolah ia sangat mengenalnya. Lalu cara berjalannya sedikit tertatih, seperti ada sesuatu di telapaknya.
"Silakan duduk," ucap Romeo. Kemudian ia meminta penjelasan dari Saira.
Saira tidak mau membuka suara sama sekali, hal itu tentu sangat menguntungkan pihak Viya dan sang manajer yang biasa disapa Tedi. Mereka tersenyum licik mengetahui keterdiaman Saira. Mereka menganggap jika Saira takut, karena sebentar lagi dia akan ditendnag dari perusahaan.
__ADS_1
"Lyn, kenapa kamu diam saja, saya meminta kamu untuk menjelaskan hal yang sedang menimpa mereka berdua. Kenapa kamu melakukannya? Saya yakin bahwa kamu pasti punya alasan."
Saira masih kukuh untuk tetap diam. Ia tidak ingin repot-repot menjelaskan kepada Romeo mengenai pendapatnya. Romeo mendesah pelan melihat kebisuan Saira.
"Kalau kamu tidak menjawabnya, itu artinya kamu bersalah kepada mereka berdua. Tindakan kamu bisa berpotensi sebagai tindakan kriminal."
"Pak, kami sangat takut, kenapa ada karyawan bar-bar seperti dia di sini." Viya mulai menangis dan Saira tersenyum mengejek.
"Saya rasa sudah diputuskan siapa penjahatnya dan siapa korbannya. Saya siap menerima konsekuensinya."
Mendengar suara itu, Romeo seperti mengenalinya. Ia segera menyuruh keduanya pergi dengan kemenangan. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana. Romeo memutari tubuh Saira.
"Benar, Pak."
"Nah, kan. Suaramu sangat familiar."
"Maaf, Pak. Suara saya memang liar."
Romeo terkekeh pelan mendengarnya. Ia kemudian menatap mata Saira dengan dalam, ia mengambil kaca mata besar yang bertengger di sana. Meski Saira melakukan perlawanan kecil. Terkahir, Romeo mencoba melepas ikatan pada rambutnya, alhasil Saira menangkisnya dan tidak bisa menahan tubuhnya. Ia terbentur ke dada bidang Romeo.
"Evellyn," ucap Romeo membuat Saira sangat kaget.
__ADS_1
"Ternyata benar, itu adalah dirimu. Hei, apa yang kau lakukan di sini? Jangan bilang kalau kau menjadi sangat merindukanku."
Ia kembali menggoda Saira yang masih menempel di dada bidangnya. Gadis itu mencubit pinggang Romeo sampai terdengar suara teriakan kecil. Saira akhirnya bisa kembali berdiri tegak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Romeo sambil mengusap pinggangnya.
"Kau yang apa-apaan, selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Kau ini sangat cantik, tapi semua dari dirimu sangat berbisa."
"Karena aku bukan manusia, melainkan ular, makanya berbisa." dengkus Saira dengan sarkas. Kembali, Romeo dibuat tertawa begitu saja.
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Romeo terlihat khawatir. "Maaf karena sudah menyuruhmu kemari, kalau saja aku tahu yang mereka bicarakan adalah dirimu. Pasti aku yang akan ke sana."
"Sudahlah, lagi pula aku sudah di sini. Kakiku sakit."
"Rasanya pasti ngilu, iya kan?"
"Sudah tahu, malah bertanya." kesal Saira dengan suara kecil sehingga pria itu tidak mendengarnya sama sekali.
------------
__ADS_1