
Alyne mendatangi mereka dengan wajah garang. Kekesalannya belum juga reda karena Saira pergi tanpa pamit dan Romeo juga tidak mengatakan apa pun. Padahal dia sempat menanyakan apakah Saira sedamg bersamanya atau tidak.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Romeo tanpa dosa.
"Dari mana saja kalian? Eve, tahu tidak? Aku sangat mencemaskanmu. Kupikir kamu diculik alien atau sejenisnya dan ternyata aku benar."
Alyne menatap sengit ke arah Romeo yang sedang terkekeh geli melihatnya. Untuk sesaat ia melupakan fakta bahwa keduanya merupakan atasannya. Padahal dia hendak mengajak Saira jalan-jalan ke taman untuk membersihkan pikirannya yang sempat kusut masai.
"Kau berani menatapku seperti itu?" tanya Romeo membuat Alyne meneguk ludah dengan susah payah. Karena emosi yang menggebu lantaran khawatir, ia sampai melupakan sopan santun antara atasan dan bawahan.
"Maaf, Pak. Tapi saya sedang emosi."
Tawa Romeo pecah membelah malam dan lagi-lagi berhasil membuat Alyne dongkol setengah mati. "Ya Tuhan, Alyne. Kau tahu, wajahmu sangat lucu dan ekspresimu ya Tuhan. Ingin sekali aku memiliki kucing peliharaan."
Mata gadis itu melotot sempurna mendengar kalimat tersebut. Tapi dia sedang tidak ingin berdebat karena energinya baru saja habis karena memaki bibinya yang menelpon dan mengatainya sebagai keponakan tidak tahu diri. Ingin sekali rasanya Alyne menendang wanita itu ke palung mariana, biar tenggelam sekalian.
"Alyne, ada apa denganmu?" tanya Saira , ia menangkap ada sesuatu yang aneh dari caranya berbicara bahkan tatapannya.
"Aku baik-baik saja," ucapnya pelan sambil melempar senyum paksa.
"Baiknya seorang wanita, berarti dia sedang tidak baik-baik saja, ayo katakan!"
__ADS_1
Gadis itu menghela napas pelan dan menceritakan semuanya. Romeo mendengar dengan kidmat tanpa terlewat sedikit pun. Saira mengangguk paham dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Jauhkan wanita bernama Stefi dari pusat kota, cari saja rumahnya di pinggiran desa atau pedalaman sekalian."
Saira menatap wajah gadis itu yang mendadak pias. "Beres, dia tidak akan pernah menganggumu lagi."
"Kamu tidak sedang berniat membunuhnya kan?"
"Rencananya sih gitu, tapi setelah dipikir-pikir lagi, percuma melenyapkan orang seperti itu, tidak ada untungnya juga."
Romeo menatap Saira dengan bibir menganga, kenapa gadis secantik itu berencana melakukan pembunuhan. Ia bahkan melihat ke arah Alyne yang ikut melihatnya dengan aneh. Keduanya sedang tidak berencana membunuh dirinya kan? Pertanyaan itu mendadak muncul di benaknya.
"Tidak ada sayang, hanya sedang sedikit kaget," ucapnya dengan terbata.
"Sayang? Pak Romeo memanggilmu sayang?" tunjuk Alyne dengan mata membola sempurna.
"Ya, dia baru saja mengajakku pacaran tapi aku menolaknya, lalu akhirnya dia melamarku."
Alyne bersorak gembira mendengar kabar tersebut, ia ikut merasakan kebahagiaan yang sedang keduanya rasakan. Apalagi mereka berdua sama-sama serasi dan tinglah Romeo bisa mengimbangi sikap cuek Saira pada lingkungan. Sampai saat ini, Alyne belum mengetahui alasan dibalik sikap Saira yang sering datar dan cuek.
"Aku pulang dulu," ucap Romeo pada akhirnya.
__ADS_1
"Tidak ingin makan di sini?" tanya Saira, pria itu menggeleng.
"Lain kali saja sayang, aku masih ada urusan yang belum selesai."Romeo segera pamit kepada keduanya.
"Tadi dari mana?" tanya Alyne penasaran.
"Jalan-jalan sama Romeo."
"Kemana?" tanya Alyne kepo.
"Ke kamar!"
"Kalian melakukan itu?" tanya Alyne sedikit syok.
"Bawa aku ke kamar Alyne, aku sangat lelah."
"Kupikir kalian sudah itu-itu."
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak," tergur Saira membuat gadis itu menganguk paham.
--------
__ADS_1