Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Membuatmu Jatuh Cinta


__ADS_3

"Menurutmu kesetiaan itu seperti apa?"


Alis Saira terangkat sempurna mendengar pertanyaan dari pria yang sedang mengemudikan mobil dengan pelan. Ia masih memikirkan mengenai jawaban apa yang akan ia berikan agar Aksa merasa tertohok atas pertanyaannya.


"Menurutku, ketika kita sudah terikat dengan satu orang, selamanya akan terus bersama dia tanpa berniat melirik wanita lain."


"Kalau tidak ada cinta di antara salah satu dari mereka, bagaimana?"


"Kurasa kamu perlu bertindak tegas jika kamu tidak mencintainya." Saira menatap Aksa dengan senyuman.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?" tanya Saira dengan serius, meskipun ia tahu betul jawabannya. Ia hanya sedang memancing saja.


"Hanya penasaran saja sama jawaban kamu Eve."


"Aksa, bagaimana awal pertama kalian bertemu. Maksudku antara kamu sama almarhum kekasihmu."


Aksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia tidak bisa menceritkan hal menyakitkan jika sedang berkendara. Saira mengernyit heran melihat tingkah Aksa yang tiba-tiba seperti itu. Apa dia baru saja mengangkat hal yang salah. Saira masih tetap menatap Aksa yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Ada apa? Apa pertanyaanku membuatmu kurang nyaman? Kalau iya, abaikan saja." Saira berkata dengan tidak enak hati, tapi sebuah senyuman terukir tipis di bibirnya.


"Bukan begitu, hanya saja aku tidak bisa bercerita mengenai masa laluku kalau sedang berkendara. Itu saja," ucapnya dengan pelan.


Saira mengusap pelan pundak Aksa yang terlihat sedikit bergetar. Meski tidak terlihat tapi masih bisa ia rasakan getarannya. "Ya sudah kalau begitu."


"Aku akan menceritakannya, tapi tidak sekarang. Semua masih terasa menyakitkan untuk diceritakan."


"Oke, kita pulang saja, apa kamu sanggup menyetir? Kalau tidak biar kugantikan. Takutnya kamu kenapa-napa."


"Enggak perlu, Aku yang menawarkan diri, mana mungkin membiarkanmu menyetir mobilku." Aksa menyugar rambutnya dan segera menatap Saira yang terlihat sangat khawatir.


"Nggak papa, yang penting kamu enggak apa-apa. Mengenai malam ini anggap saja sebagai pengalaman."


Saira tidak sabar membuat Aksa jatuh cinta padanya. Ia akan melakukan apa yang pernah dilakukan Aksa kepadanya. Penghinaan, siksa batin masih teringat jelas di benaknya.


Mereka segera pulang menuju kediaman Saira. Alyne tampak sudah menunggu di depan rumah dengan pakaian santainya. Semua dia lakukan karena menjaga Saira adalah prioritasnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, udah ngantar sampai selamat."


"Jangan berterima kasih, aku jadi nggak enak. Kapan-kapan masih mau kan?"


"Mau apa?" tanya Saira bingung.


"Mau kuantar pulang." Aksa menunggu jawaban Saira dengan jantung berdetak kencang.


"Mungkin ini akan menjadi yang terakhir karena aku akan segera pulang ke Autralia."


Jawaban Saira membuat Aksa galau tidak menentu. Ia tersenyum singkat dan pamit pulang. Di kamar, ia selalu terbayang senyuman Saira yang sangat menenangkan. Bahkan gadis itu terlihat sangat menawan jika tersenyum. Ia bersyukur Saira jarang memamerkannya karena siapa pun bisa diabetes melihatnya.


"Evellyn, kenapa kamu mengingatkanku pada Saira. Wanita yang sampai saat ini tidak bisa kulupakan." Aksa kembali memikirkan kalimatnya barusan. Benarkah ia masih mencintai Saira, jika benar kenapa dia terbayang pada senyuman Evellyn.


"Sejak kedatangan Evellyn, hidupku terasa lebih bergairah. Dia seperti warna di kehidupanku yang kelam ini." Aksa merebahkan tubuhnya ke ranjang dan segera terlelap dalam bayangan Evellyn.


------------

__ADS_1


PENGANCAMAN DIMULAI!


Wahai pembacaku, jika kalian tidak setia, jika kalian tidak memberiku hadiah, maka aku akan mengutuk kalian menjadi doyan makan biar gendut kayak aku 🤣🤣🤣


__ADS_2