Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Diktator Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Hawa di lobi tersebut mendadak beku saat kedatangan pria dengan wajah yang sangat tampan. Bahkan mampu menghipnotis setiap mata yang menatapnya. Seperti saat ini, setiap pegawai menatap haus ke arahnya. Romeo membuka kaca matanya dan mata sebiru lautan memandang mereka semua tanpa minat.


"Alyne, jaga tatapanmu, jangan sampai jatuh cinta!" peringat Saira ke arah Alyne yang menganga lebar dan gadis itu menepok jidatnya. Saira menyenggol lengan Alyne sampai gadis itu sadar dan menggeleng.


"Gila, dia tampan sekali." bisik Alyne masih tidak memalingkan wajahnya.


"Sudah kubilang bukan? Makanya jangan sampai menatapnya lebih dari dua detik. Nanti kau terhipnotis."


Alyne menatap ke arah Sara dan mengernyit heran. "Kenapa hanya kamu yang tidak terpengaruh sama ketampanannya?" selidiknya dengan curiga.


"Aku sangat kebal dengan pria tampan. Bagiku mereka hanya menimbulkan masalah. Apalagi kalau berkomitmen, yakinlah Alyne, mereka tidak sebaik itu untuk bertahan hidup dengan satu wanita."


"Seperti Aksa," ucap Saira dalam hati.


Romeo menatap jengah pada karyawan wanita yang menatapnya dengan memuja. Namun, sudut matanya menatap satu gadis yang dengan penampilan yang aneh. Ia memicing untuk mengamati. Hanya gadis itu yang terlihat mengabaikannya. Sudut bibir Romeo tertarik sedikit.


"Terima kasih sambutan kalian!"

__ADS_1


Setelah selesai ia segera meninggalkan lobi tersebut. Lalu seorang pria memberi perintah agar mereka segera kembali ke meja masing-masing.


"Ae, kamu lihatkan, bos kita sangat tampan dan aku semakin semangat akan hal ini." Elca berseru dengan semangat.


Saira tersenyum kecil melihatnya. Ia bukan menutup diri dari gadis itu. Hanya saja sedang tidak ingin memiliki teman selain Alyne. Baginya gadis dengan rambut sebahu itu saja sudah lebih dari cukup.


"Kau benar El, aku bahkan sampai lupa bagaimana caranya berkedip. Untung saja ada malaikat oenolong di sampingku," ucap Alyn sambil melirik ke arah Saira yang tampak tidak berminat sama sekali.


Selang beberapa menit, seseorang meletakkan setumpuk map besar kehadapannya. Wajahnya tampak tidak bersahabat sama sekali. Liostik merah membara menghiasi bibirnya yang tipis.


"Gue mau map ini sudah selesai pas makan siang!"


"Denga nggak?" suaranya naik satu oktaf dan Saira menatapnya datar.


"Baik, Bu."


Ia menatap penampilan Saira dengan senyum sinis lalu segera berlalu dari sana. Elca mendekati Alyne.

__ADS_1


"Dia salah satu pegawau paling berkuasa di sini. Tidak ada yang ingin bermasalah dengannya."


"Memangnya kenapa?" tanya Alyne penasaran.


"Karena dia sangat dekat dengan manajer, siapa pun yang macam-macam akan segera kena masalah."


Mendengar hal tersebut Saira menyungging senyum tipis. Ia sangat benci dengan pegawai rendah yang merasa berkuasa hanya karena sebuah jabatan.


Alyne sendiri terlihat mendekati Saira.


"Biar aku aja yang kerjain," ucapnya.


"Tidak perlu Alyne, ini hanya masalah kecil. Satu jam juga akan selesai."


Mendengar hal itu, Alyne mendesah lega. Ia tidak tega melihat atasannya diperlakukan semena-mena oleh pagawai yang jelas-jelas hanya memiliki jabatan rendah. Berbeda dengan mereka berdua.


"Manusia memang begitu Alyne, mereka merasa di atas awan, tanpa melihat apakah posisinya sudah kuat atau belum."

__ADS_1


 


Mana sawerannya, mana mana.... awas ya kalau gk ada saweran. aku ngambek 10 tahun 😌😌😌


__ADS_2