
Ia mencoba meraih tasnya yang terletak tidak jauh dari tempat ia berbaring. Dengan segera, mengambil ponsel serta melihat banyak panggilan masuk dari Alyne. Saira mendesah pelan, lalu mengirim sebuah pesan.
"Gadis itu pasti sangat khawatir."
Selesai dengan itu, ia segera kembali menutup mata. Lagi pula bukan ide bagus jika harus pulang pukul dua dini hari.
"Kau sudah sadar?" tanya sebuah suara yang mampu membuat Saira sedikit terkejut. Pria itu mendekat dan Saira belum melihat wajahnya.
"Bantu saja, ini sedang siap-siap untuk pulang."
"Memangnya kau mau pulang kemana jam segini. Aku yakin bahkan rumahmu sudah tidak dibuka lagi. Menginaplah di sini Evellyn."
Saira mengalihkan tatapannya pada sumber suara dan ia sangat terkejut melihat Romeo.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Apa lagi, ini apartemenku." kekehnya.
"Istirahatlah, kakimu terluka, apa kau berlari di jalanan dengan kaki telanjang?"
"Memangnya orang bodoh mana yang berlari menggunakan hills, apalagi dikejar dua penjahat." dengkus Saira dongkol mendengar pertanyaan bodoh yang diajukan Romeo barusan.
"Kau ini sangat mudah marah, ya." kekeh Romeo dan ikut duduk di sofa yang satu lagi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di Indonesia?" tanya Saira basa basi.
"Mencarimu!"
"Jangan konyol," ucap Saira cuek. Hal itu berhasil membuat Romeo tertawa.
"Apa kau melupakanku?" godanya.
Saira bersikap seolah tidak mengenalinya. Namun, ia kaget saat Romeo mendekatkan wajahnya, rona merah seketika hadir di kedua pipinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Saira gugup. Bahkan jantungnya berdegup kencang akibat ulah pria itu.
"Apa kau mengenaliku sekarang?"
"Eve, kau ingat kan, kita belum sempat berkencan tapi kau sudah pergi."
"Namanya pekerjaan, mana bisa diprediksi kapan datangnya. Lagi pula kita sudah sama-sama di sini. Apa lagi yang harus kau pikirkan."
"Aku sangat senang bertemu denganmu. Kau tahu, saat Bibi Halena mengatakan dirimu di sini. Aku langsung meminta Daddy untuk memindahkanku ke Jakarta.
"Tapi kenapa? Memangnya ada hal spesial apa di sini?"
"Kau! Alasannya adalah kau Evellyn."
__ADS_1
Saira lelah berdebat dengan Romeo yang selalu bisa menjawab pertanyaannya. Hal itu membuatnya kesal setengah mati.
Ia kembali melihat jam sudah pukul tiga dini hari. Ia kembali menguap dan Romeo tersenyum.
"Tidurlah di kamarku," ucapnya.
"Memangnya kau pikir aku ini wanita seperti apa." decak Saira sambil menatap tajam manik Romeo yang sebiru samudra.
"Memangnya apa yang kau pikirkan dengan ajakanku, kau ini! Biar aku yang tidur di sini."
"Tidak perlu, aku tidur di sini saja."
"Baiklah Tuan Putri yang keras kepala."
Romeo menggeleng pelan dan segera meninggalkan Saira yang kukuh tidur di sofa. Tapi dia sedikit khawatir jika tubuh gadis itu akan terasa sakit karena tidur di sofa. Sampai pukul empat pagi ia tidak bisa tidur karena selalu memikirkan Saira. Akhirnya Romeo keluar dari kamar dan mengembuskan napas saat melihat tubuh itu meringkuk di sofa.
"Dasar keras kepala." desah Romeo dan segera memindahkan tubuh Saira dengan pelan. Ia takut gadis itu terbangun dan menerkamnya.
Romeo tersenyum melihat wajah damai Saira yang terlihat sangat cantik.
--------------
Aku nggak semangat uodate guys, lagi flu.
__ADS_1