Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Senyum Lega


__ADS_3

Saira dengan ditemani Romeo kembali datang ke rumah sakit untuk memeriksa pergelangan kakinya. Saat sudah selesai, mereka berjalan di koridor rumah sakit sembari bercanda. Tanpa sengaja Saira bertabrakan dengan Izora yang sedang membawa makanan dari kantin untuk ayahnya.


"Maaf, saya tidak sengaja."


Saira memperhatikan wajah yang dulu tirus dan tidak bergairah, kini sudah terisi penuh dan berbinar. Ada perasaan senang dan gembira di hatinya.


"Tidak masalah, kami juga salah karena tidak melihat ke depan," jawab Saira.


Izora mengangkat wajahnya dan terpana melihat ke arah Saira. Terakhir mereka bertemu, gadis itu sangat judes dan terkesan tidak menyukainya bahkan ibunya. Tapi kali ini ia sedikit heran karena gadis itu sangat berbeda dari yang terakhir kali.


"Semoga ibumu cepat sembuh."


Saira mengucapkan kalimat itu dan segera pergi dari sana bersama Romeo. Pria itu sangat tahu apa yang sedang dirasakan oleh Saira. Kerinduan akan sosok seorang ibu, pasti pernah dirasakan olehnya. Apalagi sosok seorang Kakak, setidaknya mereka pernah memiliki kenangan indah bersama-sama.


"Tidak ingin menjenguknya?" tanya Romeo lembut.


Saira menggeleng dan memilih pergi dari sana. Semua memang hanya tinggal kenangan. Semua masa lalu harus segera dilupakan. Tapi bisakah dia melupakan semuanya, di saat mereka semua sama-sama sudah terluka.


"Mau mampir ke suatu tempat?" tawar Romeo saat mereka sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Kemana saja, asal jangan ke rumah. Aku tidak ingin Alyne menyadari raut wajahku."


"Apa dia sudah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya?"


Gelengan kepala Saira sudah menjelaskan semuanya. Pria itu menghela napas dan tersenyum bangga. Setidaknya Saira telah mempercayainya sebagai orang pertama yang mengetahui identitas yang sebenarnya.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Aku senang karena aku menjadi orang pertama yang kau percayai untuk menceritakan rahasiamu yang sudah tersimpan selama ini sayang."


"Kau bukan menjadi yang pertama tahu soal ini."


"Sang pencipta!


Wajah Romeo seketika lega, jika Tuhan selalu menjadi yang pertama tahu, maka bagi Romeo tidak masalah asal bukan manusia lain, ia tidak akan pernah terima. Pria itu segera menjalankan mobilnya menuju suatu tempat, kali ini hamparan hijau menjadi pilihan mereka.


Saira segera turun dari sana dan menghirup aroma yang sangat menenangkan untuk dinikmati. Ia menutup mata dan merentangkan kedua tangan sambil berteriak.


"Romeo aku sangat mencintaimu!"

__ADS_1


Suara tersebut seolah menggema di gendang telinga Romeo. Pria itu mengikuti Saira dari belakang dan ikut merentangkan kedua tangan lalu berteriak.


"Aku lebih mencintaimu Saira!"


Ia memeluk pinggang Saira lembut dan merebahkan kepalanya di bahu Saira. Ia menghirup wewangian yang selalu berhasil membuatnya tenang. Semua kegelisahan yang selama ini ia rasakan hilang begitu saja. Gadis yang berada di depannya adalah penawar yang paling mujarab untuk mengobati goresan luka dalam hidupnya.


"Apa kau sudah bahagia sekarang?"


"Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain seperti ini Romeo, selama ini hidupku terlalu sia-sia karena menghabiskan waktu memikirkan pria seperti dirinya. Aku mengabaikan pria sepertimu yang jauh lebih baik."


Romeo terkekeh, "terkadang kita butuh seseorang untuk menjadi batu sandungan untuk menikmati hidup yang kita inginkan."


"Kau benar, Romeo. Aku juga bersyukur karena Tuhan tidak membuat Aksa mencintaiku selagi aku masih hidup."


"Aku ingin melihat dirimu yang dulu, apa aku bisa melihatnya?"


"Tentu saja," ucap Saira dan mengeluarkan ponselnya ia mengutak atik beberapa kali dan setelah menemukan fotonya, ia menyerahkan kepada Romeo.


------

__ADS_1


Selamat berbuka puasa bagi yang sudah ya. Aku masih pukul 18:41 😭😭😭😭


__ADS_2