
Saira yang melihat Romeo hendak mengejarnya. Namun, lift sudah tertutup. Ia sampai menangis menatap Alyne yang juga sangat senang melihat kekasih dari bosnya ada di gedung yang sama.
"Lyn, itu tadi Romeo Lyn. Kamu juga lihat kan, dia Romeoku."
"Iya, iya aku juga lihat barusan Eve, kita segera ke sana ya. Tapi kamu harus kontrol emosi. Ingat lagi hamil babby Gum loh." peringatnya sambil tertawa. Mereka segera masuk ke lift dan sampai di atas, Saira terlihat mencari keberadaan Romeo tapi tidak dia temukan.
"Eve, tahan dulu. Kita ke ruang rapat siapa tahu dia ada di sana."
"Kamu benar juga, ayo!"
Mereka berdua di sambut baik oleh beberapa penghuni ruangan. Namun, ada juga yang menatap sedikit aneh saat melihat perut Saira yang menonjol. Tatapan mereka terlihat sedikit mencemooh dan itu terlihat sangat terang-terangan.
"Lihat perutnya," bisik beberapa wanita yang hadir di sana.
Sedangkan Saira bersama Alyne segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Ia tidak menghiraukan tatapan mereka karena hal itu sudah biasa baginya. Ia menahan Alyne agar tidak perlu melakukan hal yang tidak penting.
"Pak Dominic, silakan. Anda sudah ditunggu," ucap salah satu staf dan mempersilakannya menuju kursi kebesarannya.
__ADS_1
Saira yang tadinya semangat, kini mendadak lesu saat tidak ada nama Romeo. Ia terlihat sesikit murung tapi Alyne menguatkannya melalui genggaman hangat. Saira tersenyum dan mendengar suara yang sangat familiar.
Di depannya, seorang pria sedang memimpin rapat tender dengan gagah berani dan berkharisma. Saira menumpukan tatapan pada Romeo yang sedang memimpin rapat tender. Hal itu dilihat oleh Angelina dan menatap Saira dengan tajam. Saira tidak menghiraukan, ia hanya berharap
Romeo dan dirinya akan hidup bahagia bersama anak yang sedang ia kandung.
"Bu Evellyn, silakan presentasikan proposalnya."
Evellyn segera berdiri menuju ke depan. Sepanjang itu mata Romeo tidak hentinya menatap perut yang sudah menonjol itu dengan perasaan aneh. Ada sesuatu menghangat dalam hatinya. Ia juga menatap Saira dengan lekat. Namun, semakin dia berusaha mengingatnya, semakin sakit kepalanya. Ia sempat mngaduh beberapa kali dan Saira khawatir melihat kondisinya. Tapi ia harus menampilkan presentasi yang baik agar bisa bekerja sama dengan Romeo.
Saira memperhatikan interaksi sekretaris dan Romeo terlihat sangat intim. Di mana ia melihat sekretaris itu terus menggenggam tangan Romeo membuat Saira marah. Ia mengepalkan tangan. Tetapi ada sesuatu yang aneh pada Romeonya. Dia tidak mengenali siapa dirinya.
"Eve, sepertinya terjadi sesuatu dengan Romeo." bisiknya.
"Tidak masalah, aku akan mncobanya nanti, apakah dia benar-benar tidak mengingatku atau sengaja melupakanku." suara Saira terdengar sangat lemah.
Setelah acara selesai tiba-tiba kepala Saira jatuh ke meja. Hanya tersisa mereka berempat di sana, melihat hal itu membuat Romeo khawatir dan segera menyuruh mereka membawa Saira ke ruangannya. Meski awalnya Angelina menolak, tapi Romeo bersikeras, ia pun mengalah.
__ADS_1
"Maaf, Pak Ro ... Dominic, Bos saya sepertinya kelelahan karena sedang mengandung juga."
"Ayo, bawa segera ke ruangan saya."
Sesampainya di sana, Saira dibaringkan di Sofa panjang. "Kalian boleh keluar sebentar," ucapnya membuat Angelina keberatan.
"Dom, aku tidak mungkin meninggalkan kalian berdua."
"Kubilang keluar, dan ingat aku ini atasanmu!" kesal Romeo membuat Angelina keluar juga dengan tatapan marah. Ia menatap tajam pada sosok Saira yang masih menutup mata.
"Bangunlah, aku tahu kamu sedang pura-pura pingsan."
Saira membuka matanya, ia menatap lekat pria yang sudah sangat dia rindukan dan memeluknya sambil menangis.
--------
Tahan, tahan emosi. kalian akan tahu apa yang sedang saya pikirkan wkwkwmk
__ADS_1