Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mengikhlaskan Masa Lalu


__ADS_3

Setelah di kamar, Aksa kembali menghubunginya. Ia juga kembali mengabaikan pria itu. Tidak ada lagi sedikit pun rasa yang dulu ia simpan setinggi gunung. Bahkan ia rela melakukan apa pun demi pria itu, tapi kini ia menyadari kesalahannya di masa lalu. Tanpa disadari ada sosok lain yang jauh lebih terluka darinya yakni Izora. Seketika ingatannya melayang pada memori lima tahun yang lalu. Di mana keduanya pergi liburan ke pantai.


"Saira, jangan berlari sambil melihat ke belakang, nanti kamu menabrak orang." teriak Izora tapi Saira tidak mendemgarkan sama sekali, ia lebih memilih berlari dan alhasil menabrak seseorang.


Izora yang melihat hal itu, segera menghampiri mereka dan meminta maaf.


"Makanya, kalau jalan pakek mata, jangan dengkul!"


"Maaf sekali lagi Mbak," ucap Izora.


Gadis yang tadi ditabrak olehnya seolah tidak puas jika hanya dengan permintaan maaf. Ia masih saja memancing amarah dengan memaki Saira.


"Sudah sebesar ini tapi kayak gadis idiot!"

__ADS_1


Saira yang tidak terima dirinya dikatakan seperti itu terpancing amarah. Tapi Izora lebih dulu melayangkan tamparan keras ke pipi gadis itu.


"Jaga mulut kamu ya, saya masih bersikap sopan karena adik saya memang bersalah, tapi permintaan maaf belum cukup? Apa harus dngan menghina? Saya bisa saya mengamuk dan mencakar mulut kamu jika masih berada di sini!" teriak Izora kasar.


Mendengar hal itu, gadis tersebut memutuskan pergi dari pada harus kehilangan wajah cantiknya. Ia akan menganggap tidak pernah bertemu sama sekali dengan keduanya.


"Kamu nggak papa kan? Makanya jangan bandel kalau Kakak bilangin." ceramahnya setelah membersihkan lutut Saira yang kotor karena jatuh.


"Kakak bawel karena sayang sama kamu, loh. Pokoknya nanti kalau kita liburan lagi, Kakak akan bawa bodyguard supaya bisa memantau kamu sekalian galakin orang yang galak seperti tadi."


"Tapi galakan Kakak malah," kekeh Saira membuat gadis berusia 25 tahun itu kesal mendengar ucapan adiknya.


"Awas, nanti kamu Kakak laporin ke Mama." ancamnya, meski pun itu semua hanya dalam untaian kata tanpa bemar-benar pernah dilaporkan kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Izora sangat menyayangi Saira yang hanya berbeda dua tahun dengannya. Setiap kemauan adiknya selalu ia penuhi tanpa merengut. Begitu pun dengan kedua orang tuanya. Apa yang diinginkan Saira, akan segera dikabulkan tanpa perlu menunggu lebih lama. Ia sangat dimanja,berneda dengan sang kakak yang sangat mandiri dan selalu menjadi tamengnya.


Saira perlahan menangis, mengingat dendamnya hanya karena rasa sakit yang ia alami. Ia tidak pernah memikirkan apa yang sudah dilalui kakaknya seorang diri. Tanpa peduli apa yang dirasakan sang ayah saat kehilangannya. Ia sudah sangat berdosa karena menghakimi tanpa memahami. Izora memang pernah berbuat kesalahan dengan terus menjalin hubungan dengan Aksa. Tapi ia tidak pernah bertanya dalam hati,apakah Izora melakukan semua murni menyakitinya atau yang lain.


"Bodoh, Saira bodoh!" isaknya.


Masih terbayang wajah pucat, lesu dan mata penuh keputusasaan. Berjuang sendirian demi kesembuhan ibu mereka. Di sini Saira hidup dengan bergelimang harta dari gadis pemilik tubuhnya.


"Maaf, Mama. Maaf!" bahunya bergetar kuat menahan setiap dentuman keras dari jantungnya. Kenapa ia tidak pernah mau memahami apa yang dirasakan oleh kakaknya. Ia sudah sangat egois begitu lama.


"Maaf, Kakak."


------

__ADS_1


__ADS_2