
Kaki jenjang dengan menggunakan celana panjang berwarna hitam dan jas yang senada. Dipadukan dengan hills sembilan senti meter. Ditemani seorang gadis cantik yang berjalan di sejajar dengannya memasuki sebuah perusahaan ternama di Indonesia. Mereka disambut hangat saat di lobi. Namun, tidak ada sedikit senyuman pun yang diberikan oleh Saira. Wajahnya tampak sangat dingin saat menatap semuanya.
"Selamat datang, Bu." mereka menyambutnya dengan bahasa inggris.
"Terima kasih," ucap Alyne tersenyum.
Mereka membawa Saira menuju sebuah ruang pimpinan mereka yang terletak di lantai dua puluh lima. Sepanjang perjalanan Saira menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan kecantikannya yang mampu membuat semua pria bertekuk lutut di kakinya. Pesona yang tersimpan di auranya yang sedingin kutub utara. Sejauh ini belum ada pria mana pun yang mampu membuatnya terpesona.
"Silakan, Bu. Pak Aksa sudah menunggu di dalam." seorang wanita mempersilakan ia masuk.
Jantung Saira berdegup kencamg saat nama Aksa disebut. Hatinya masih sama, masih mencintai satu pria dalam hidupnya. Pria yang memberinya miliaran luka. Ia menguatkan hati untuk menemuinya. Lagi pula pria itu tidak akan pernah mengenali dirinya lagi.
Di dalam ruangan, Aksa merasa jantungnya semakin berdegup kencang. Entah mengapa ia merasakan perasaan seperti ini. Sebuah ketukan menyadarkannya.
"Pak, nona Evellyn Ophelia—tamu dari Autralia sudah sampai," ucapnya dengan sopan.
__ADS_1
"Persilakan mereka masuk!"
"Baik, Pak."
"Silakan, Bu."
Saira memasuki ruang tersebut dan disambut oleh seorang pria yang sangat tampan. Jantungnya berdetak semakin menggila.
"Selamat datang, silakan duduk."
"Apa Anda mau minum sesuatu?" tanya Aksa dengan sopan.
Suara yang sangat dirindukan oleh Saira selama ini, kini berada di depannya. Setiap mengingat semuanya, luka semakin menganga. Ia tidak akan pernah terlihat lemah dihadapan siapa pun lagi. Cukup dirinya yang dulu menjadi lemah. Tidak untuk sekarang ini.
"Langsung ke intinya saja, saya tidak suka berbasa-basi!"
__ADS_1
Aksa memakluminya dan segera membahas tujuan mereka bertemu. Keduanya segera membahas proyek yang akan mereka kerjakan bersama-sama. Sedangkan sekretaris dari masing-masing mencatat hal yang perlu mereka diskusikan serta mencatat beberapa poin penting lainnya.
"Jika begitu, saya setuju!"
Aksa tersenyum mendengar kalimat yang dilontarkan Saira padanya. Entah mengapa ia merasakan ketertarikan pada wanita yang kini duduk di depannya. Seolah ada bibir tak kasat mata berbisik di telinganya.
"Baiklah, kalau begitu. Kita akan segera melaksanakannya besok. Kami juga sudah menyediakan segala yang diperlukan." Aksa mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Saira melihat semua itu dengan datar.
"Baik, terima kasih Pak Aksa. Kami permisi." Alyne menjabat tangan Aksa dan segera keluar dari sana bersama dengan Saira.
"Mohon maaf, apa saya bisa berbicara dengan nona Evellyn sebentar?" tanya Aksa sopan pada Alyne. Gadis cantik itu mengangguk.
"Bu, saya akan menunggu di luar ruangan." ia segera meninggalkan keduanya di sana.
----
__ADS_1