Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Melayat


__ADS_3

"Kita harus melayat," ucap Saira membuat Alyne menatap horor. Ia menggeleng beberapa kali dan menatap Saira dengan tajam.


"Kenapa?" aku sudah sadar dan masih bernapas. Lega kan?"


"Bukan begitu, tapi kamu harus istirahat total. Tidak boleh pergi kemana pun. Nanti kalau jatuh sakit lagi gimana?"


Saira menatap Alyne dengan serius. "Aku akan istirahat setelah melayat besok. Bisa kan kita melihatnya sebentar, setelah itu aku akan istirahat sesuai dengan yang kau inginkan."


"Baiklah, tapi ingat! Hanya sebentar saja."


"Baik Tuan Putri, sekarang malah kau yang jadi bosnya." kesal Saira membuat Alyne salah tingkah.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu."


"Kau ini serius sekali, aku tahu kau sangat menyayangi bos mu ini." Saira mengatakan hal itu sambil memikirkan sesuatu. Dia tidak tahu akan bersikap seperti apa besok.


Keesokan harinya, Saira bersama Alyne pergi melayat ke rumah Aksa yang sudah dibanjiri lautan manusia. Di sana Saira melihat keluarga di masa lalunya sedang menangis. Sepupu Aksa juga terlihat hadir. Perasaan tidak nyaman mulai merayap ke dalam hatinya.

__ADS_1


"Alyne, aku mendadak tidak enak badan karena tubuhku sangat lemah. Ayo kita pulang saja."


"Kita sudah sampai di depan pintu dan tidak ada lagi jalan untuk pulang. Kamu sih dibilangin bandel." omel Alyne membuat Saira memberengut kesal.


Aksa yang masih berduka, melihat kedatangan Saira. Ia segera mendekat dan mempersilakan gadis itu duduk. Saira awalnya menolak. Namun, pada akhirnya segera duduk dengan manis.


"Terima kash sudah bersedia datang kemari," ucap Aksa dengan tulus.


"Sebagai rekan bisnismu, kami sudah harus datang." Alyne tersenyum kepada Aksa.


"Terima kasih sekali lagi," ucap Aksa. Ia menatap wajah Saira yang terlihat sangat pucat. Ia bertanya pada dirinya sendiri apa gadis itu sedang sakit.


Pukulan demi pukulan memori menghantam kepalanya sehingga ia jatuh pingsan. Semua yang ada di sana tampak terkejut melihat tubuh Saira tergeletak di bahu Alyne yang sedang mengirim sesuatu di ponselnya.


"Eve, kamu kenapa?" ia menepuk pelan pipi Saira yang terasa dingin.


"Alyne, kita bawa Evellyn ke kamar saya saja." Aksa segera menggendong tubuh Saira ke kamarnya dan membaringkan. Entah kenapa jantung yang sudah lama tidak berdetak kencang. Kini berdetak dengan menggila.

__ADS_1


"Ada apa dengan jantungku, sudah lama tidak pernah merasakan hal seperti ini." gumamnya.


Wawa yang memang sedang menatapnya terlihat sangat khawatir. Ia menghampiri Aksa.


"Aksa, apa Tante boleh melihat temanmu, Tante sangat khawatir."


Meski tubuhnya masih lemah, entah kenapa tenaga tak kasat mata seolah terisi ke dalam tubuhnya. Ia menghampiri Saira di kamar yang sedang dijaga oleh Alyne.


"Apa saya boleh melihat temanmu?" tanya Wawa dengan lembut.


Alyne menganguk dan sedang menunggu kedatangan dokter yang akan memeriksa tubuhnya. Selang beberapa menit, dokter pun sudah datang dan segera memeriksa kondisi Saira.


"Dia hanya kelelahan akibat terlalu banyak bekerja. Usahakan dia istirahat yang cukup." terangnya pada mereka bertiga.


"Terima kasih, Dokter."


Aksa segera mengantar dokter tersebut dan kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan takziah bersama penduduk di sana.

__ADS_1


------


__ADS_2