
Aksa kembali menatap poto Saira yang menggantung indah di ruangannya. Kemudian ia mengambil bingkai kecil dari dalam lacinya. Senyum yang sangat menenangkan jiwa lara yang selalu menggerogoti tanpa berkesudahan.
Ia mengelus lembut bingkai tersebut. Selalu terjadi, setiap ia mengingat Saira, air mata masih betah turun tanpa disengaja.
"Sayang, maaf aku tidak mengunjungimu hari ini, aku sangat sibuk. Semoga kamu nggak marah ya."
Ia mengecup lama bingkai tersebut dan mengusap air mata yang sempat lolos. Setelah dirasa tenang, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
-----
"Pa, Mama mau ke kuburan Saira, Mama kangen sama dia."
"Kondisi Mama belum pulih, Papa pasti mengizinkan Mama ke sana tapi tunggu sehat dulu ya." bujuk Andri lembut. Ia juga ingin berjiarah ke makam putrinya. Namun, kondisi istrinya sedang tidak memungkinkan untuk melakukan semua itu. Setidaknya ia harus menunggu sampai benar-benar pulih.
__ADS_1
"Nggak, Pa. Mama sudah mendingan." ia berjalan pelan ke arah suaminya dengan wajah mengiba. "Mama kangen sama Saira."
Andri mengembuskan napas pelan dan menganguk pada akhirnya. Jika dilarang juga percuma karena istrinya sangat ingin dan tidak mau dibantah sama sekali.
"Mama siap-siap lalu kita akan pergi ke sana."
Wawa tersenyum senang, ada sebuah perasaan yang membuncah bahagia entah karena apa. Ia merasa seolah akan melihat sesuatu yang menenangkan hati dan jiwanya. Mereka segera berangkat setelah Wawa bersiap.
Di jalan, Saira menyuruh Alyne berhenti untuk membeli sebuah bunga yang sangat Saira sukai selama hidupnya. Tapi tidak pernah diberikan oleh Aksa, tapi setelah dia pergi, pria itu selalu menaruh bunga kesukaan Saira di sana. Sudut bibir Saira terangkat melihat semua itu.
"Saira, apa kamu tenang di sana? Apa kamu sudah bahagia sekarang?" tanya Saira sambil tedtawa miris. Betapa lucu saat ia menyapa dan bertanya pada makamnya sendiri.
"Hati-hati, Ma." Andri dengan setia memapah istrinya menuju sebuah makan yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.
__ADS_1
Alyne menyapa mereka dengan sopan saat mata mereka saling bertemu.
"Ziarah juga?" tanya Wawa lembut.
Alyne hanya menganguk pelan karena dia sama sekali tidak mengerti ucapan mereka. Andri melihat ada seseorang yang tampak berjiarah ke makam putri ya. Ia mengernyit bingung. Selama ini tidak ada yang pernah menjiarahi kuburan putrinya apalagi seorang gadis.
"Saira, aku pulang dulu ya," pamit Saira dan melangkah menjauh dari sana.
Sorot matanya bersitatap dengan dua orang yang dulu pernah ia sebut sebagai ibu dan ayah. Ada kerinduan di dalam sana yang bergelora dan ia ingin segera menghambur ke pelukan keduanya. Tapi bayangan terakhir sebelum ia meninggal berputar di kepalanya. Permintaan kecil yang diabaikan, dicaci maki, dihina dan dikucilkan. Senyumnya yang hendak mengembang perlahan surut dan matanya menyorot dingin kepada keduanya. Ia berlalu begitu saja, lalu langkahnya terhenti saat sebuah suara bertanya.
"Maaf, Nak. Kami tadi melihatmu menjiarahi makam putri kami, apa kamu mengenalnya?" tanya Andri pelan.
-----
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak agar aku update dengan serius. tapi jangan berharap lebih.