
Sampai perjalanan menuju kantor pun masih ditemani ejekan Saira dan godaannya. Kebetulan juga mereka sampai ke sana bersamaan dengan Romeo yang baru keluar dari mobilnya.
"Lihat, calon kekasihmu baru saja keluar dari mobil. Dia tampan sekali, Eve katakan padanya untuk mencarikanku pasangan dari kloningannya."
Saira memukul kening gadis itu yang mulai memikirkan hal aneh. Mana bisa ada kloningan dari Romeo. Jelas-jelas pria itu edisi terbatas. Ponselnya terdengar bergetar. Saira turun dari mobil dan mengangkat panggilan tersebut. Sebenarnya dia malam mengangkatnya. Hanya saja, tadi tatapannya sedang tidak fokus sehingga tanpa melihat nama si pemanggil.
"Eve, kamu di mana sekarang?" tanya suara bariton dari seberang telpon.
"Aku sedang bekerja, ada apa Aksa?" tanya Saira sedikit tidak bergairah.
"Aku ingin mengajakmu makan malam."
"Lagi?" tanya Saira dengan alis menukik tajam.
"Maaf, Aksa tapi aku tidak bisa, lusa aku akan pulang ke Australia."
Aksa terdengar kecewa mendengar kabar tersebut. Ia baru akan memberikannya kejutan, tapi ia yang terkejut.
"Aku akan mengantarmu," ucapnya.
"Tidak perlu, ada sopir yang mengantarku dan Alyne ke bandara.
Saira segera mematikan panggilannya. Pria itu terus saja mengganggunya. Kini Saira dibuat risih tapi misinya harus berjalan dengan sempurna. Pria itu kini terlihat sudah sangat mencintainya. Ini kesempatan yang bagus untuk mematahkan hatinya.
"Siapa?" tanya Alyne.
"Aksa, menyebalkan." dengkusnya.
"Karena yang sedang tersenyum menatapmu lebih menggoda." suara tawa renyah terdengar dari bibir Alyne.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Saira bingung dengan kalimat Alyne
"Tidak perlu bingung, lihatlah ke sana!" tunjuk Saira dengan ekor mata dan lagi-lagi gadis itu berhasil menggodanya. Seperti yang sudah ia prediksi sebelumnya.
"Dua sejoli yang sedang jatuh cinta."
"Aku tidak," ucap Saira dengan spontan.
"Jangan katakan tidak, nanti kamu kecanduan seperti narkoba yang memberi candu. Awalnya tidak dan keterusan sampai sekarang."
Selesai dengan kalimatnya Alyne segera kabur dari sana sebelum disumpahi oleh Saira yang terlihat sangat dongkol.
Banyak mata yang menatap iri kepada Saira karena didatangi oleh Romeo.
"Ada apa?" tanya Saira pelan. Ia tetap berjalan seperti biasanya.
"Tidak ada, hanya sedang memperhatikanmu. Kamu sangat cantik."
"Itu kenyataannya, nanti pulang kerja, tunggu aku." bisik Romeo berhasil membuat bulu kuduk Saira berdiri. Ia sangat menyukai Romeo berada di dekatnya. Membelai, mengecup dan **********. Seketika Saira menggelengkan kepala atas apa yang barusan dia pikirkan.
"Kenapa harus menunggumu!"
"Karena kamu harus melakukannya." kekeh Romeo dan segera memisahkan diri dengan Saira saat mereka sudah memasuki lobi.
Viya yang tidak sengaja melihat pemandangan itu mendadak geram. Ia harus memberi gadis itu pelajaran. Itulah yang ada di benaknya. Ia sengaja menumpahkan air di mana Saira akan lewat. Hal itu pun berhasil, Saira terpeleset dan hils yang ia kenakan terlempar. Kakinya terkilir sedikit. Romeo yang belum memasuki lift segera berlari ke sana dengan cemas. Pemandangan itu mendadak heboh pagi itu.
Saira menatap tajam wanita yang selalu membuatnya kerepotan. Ia mencoba berdiri. Namun, kakinya sangat sakit jika digerakkan.
"Aw," ringisnya beberapa kali.
__ADS_1
"Lyn, kamu tidak apa-apa?" tanya Romeo cemas.
"Kakiku sepertinya terkilir," ringisnya saat tangan Romeo menyentuhnya.
"Sepertinya memang begitu. Ia lalu menatap Viya yang merasa tidak bersalah sama sekali. Ia tidak akan sempat menghukum kelalaian Viya karena harus segera membawa Saira ke rumah sakit yang jaraknya tidak begitu jauh.
"Tahan sebentar, kita akan sampai."
"Memangnya aku mau melahirkan?"
Protes Saira saat kalimat itu yang malah keluar dari mulut Romeo.
"Bukan begitu," ucap Romeo.
"Tidak perlu khawatir, aku hanya terkilir."
"Tetap saja aku khawatir. Bagaimana kalau kamu tadi kenapa-napa, atau kepalamu yang duluan menyentuh lantai. Aku bahkan tidak bisa membayangkannnya."
"Sudahlah, aku sudah baik-baik saja sekarang."
"Kenapa bisa jatuh?"
"Viya sengaja menumpahkan air di depanku. Aku memang ingin meladeninya untuk memberinya pelajaran. Mungkin menurutnya peringatan darimu main-main."
"Wanita itu," ucapannya terhenti oleh suara panggilan.
"Eve, aku mengangkat panggilan sebentar."
Saira mengangguk.
__ADS_1