
"Benarkah?" tanya Alyne syok. Baginya Saira adalah wujud wanita dengan kecantikan di atas rata-rata. Pesonanya bisa membius setiap mata yang memandang ke arahnya.
"Apalagi kepadaku, dia pasti mual duluan!" suara Alyne tampak lemah.
Kembali, Saira tertawa dengan kalimat barusan. Bagaimana mungkin gadis yang menjabat sebagai sekretarisnya ini begitu polos. Padahal jika bekerja, ia sangat kompeten dan terpercaya.
"Kita akan mulai bekerja di sana hari Senin, siapkan semua berkas yang kita perlukan beserta data diri dan penyamaran."
"Ya sudah, pergilah ke kamarmu, sudah waktunya kita istirahat."
Saira melihat jam sambil menguap dan Alyne segera keluar dari kamarnya sambil membawa gelas kosong bekas teh yang ia bawa tadi.
Saira membuka matanya menatap langit-langit kamar dengan embusan napas yang teratur.
Ia teringat pada pria tampan yang dikenalkan oleh Mamanya. Wajahnya tampan dan mempesona, jika Romeo akan membangun perusahaannya di sini, ia harus memanfaatkan hal tersebut untuk menetap lebih lama. Jika ia pulang pergi, maka misinya tidak akan pernah selesai.
__ADS_1
Ia juga tidak mau Romeo sampai mengetahui identitasnya. Ia yakin, sang ibu sudah memberitahu mengenai dirinya yang berada di Indonesia. Karena ibunya juga memberitahu mengenai Romeo yang akan ke Indonesia.
Sejauh ini, Saira belum merasa tertarik dengan pria mana pun. Karena luka di masa lalunya masih menganga lebar. Ia mengakui jika Romeo sangat tampan. Namun, ia sangat membenci pria yang memiliki ketampanan. Mereka tidak bisa setia dengan satu wanita. Contohnya adalah Aksa. Saira memutuskan tidur karena malas memikirknan soal Aksa.
----------
Lima hari kemudian, mereka sudah diterima bekerja. Hari ini menjadi hari pertama bagi keduaya. Saira memakai rok hitam yang panjang di bawah lutut dengan kemeja warna biru, rambut sedikit keriting dengan kaca mata besar membingkai matanya, sepatu highills setinggi lima meter. Sedangkan Alyne menggunakan celana sedikit kebesaran, dipadukan dengan blus berwarna krim dan rambut yang diikat tinggi. Sepatu tujuh centi meter menghiasi kaki indahnya.
Keduanya berjalan memasuki lobi kantor dan menjadi santapan karyawan yang ada di sana. Bukan karena terlalu cantik. Tapi terlalu mencolok dengan penampilan mereka yang terlihat membuat mata rawan sakit.
"Terima kasih, Pak," ucap keduanya dengan senyum tulus.
Mereka berdua segera menuju meja masing-masing. Mereka mulai mengerjakan tugas masing-masing. Lalu seseorang datang dan membawa berita.
"Guys, Pak Bos kita akan segera sampai, kita diwajibkan menyambut Pak Asthon di lobi. Ayo!" ajaknya dengan semangat membara. Ia melirik ke arah Saira dan Alyne dan tersenyum ramah. "Ayo kalian juga!"
__ADS_1
Gadis dengan penampilan yang rapi, wajah yang cantik juga memiliki kepribadian yang baik. Dia tidak memandang pada pakaian yang orang lain kenakan. Berbeda dengan mereka yang sebagian menatap congkak. Seolah mereka berdua adalah hama yang salah memasuki kantor.
"Terima kasih," ucap Alyne dan mereka mengikuti langkah gadis itu menuju lobi.
"Ngomong-ngomong siapa nama kalian?" tanya gadis itu.
"Perkenalkan saya Ae, dan ini teman saya Lyn. Lalu nama kamu siapa?" tanya Alyne dengan ramah.
"Saya Elca, salam kenal."
Sejak saat itu ketiganya menjadi teman. Bedanya Elca tidak begitu dekat dengan Saira. Ia menganggap Saira menjaga jarak dan tidak sembarangan menerima pertemanan. Gadis yang selalu menggerai rambut sepinggangnya itu tampak memaklumi. Baginya, setiap orang berhak memiliki pandangan soal hal apa pun.
"Eh, Pak Bos segera tiba." Elca berkata dengan semangat dan Saira juga penasaran dengan wajah Romeo. Mungkin saja wajahnya saat bertemu dulu berbeda dengan yang sekarang.
-----
__ADS_1
Simsalabim, yang tidak ngasih hadiah akan ku kutuk jadi pohon emas.