
Jam makan siang pun telah tiba, Saira beserta Elca dan Alyne segera menuju kantin dan menyapa wanita tua langganan mereka makan gado-gado. Resep dan rasanya yang tidak akan ditemukan di mana pun meski keliling Indonesia sekali pun.
"Eneng gelis, mau pesan apa?" tanya Mbok Nah dengan senang. Bagaimana tidak? Berkat ketiganya ia kini memiliki langganan tetap yang setiap hari akan makan di tempatnya. Tidak pernah lagi ia membawa pulang makanan sisa.
"Mbok pesen gado-gadonya lima yang pedes Mbok."
Dengan semangat membara wanita tua itu membuka pesanannya. Mereka menatap Saira dan Alyne secara bergantian. Kecantikan yang jauh dari kata rata-rata membuat mereka sangat ingin berkenalan. Andai mereka tahu siapa gadis yang hendak mereka goda, mungkin akan memikirkan ratusan kali.
"Hai, boleh duduk di sini?" tanya seseorang sambil menunjuk sebuah kursi.
Saira melihat ke sekitar dan masih banyak kursi yang kosong. "Silakan."
Begitu pria itu duduk, ia segera bangun dan pindah ke meja lainnya. Diikuti juga oleh Alyne dan Elca yang setia mengekori dari belakang.
Di ruangannya, Romeo masih diliputi perasaan senang tak terkira. Sebentar lagi Saira akan segera menjadi istri sahnya dan Aksa, pria itu tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
"Eve pasti sudah di kantin." pikirnya. Ia segera bangun dari kursi kebesarannya dan menghampiri gadis itu ke sana. Tangannya tampak mengepal saat satu pria mencoba mendekati calon istrinya. Jelas-jelas Saira sangat risih akan hal itu tapi memang dasarnya pria tidak peka. Malah semakin memepet kekasihnya.
__ADS_1
"Apa pekerjaanmu hobi menganggu wanita yang sudah memiliki tunangan?" tanya Romeo dingin. Dari semua makhluk yang hidup di muka bumi ini, ia paling tidak suka dengan kaum pria abal-abal. Romeo sangat menjunjung tinggi moral dan kesetiaan pada pasangan.
"Maaf, Pak. Saya tidak mengetahui akan hal ini, kalau begitu saya permisi!" Ia segera melarikan diri dari sana guna menyelamatkan pekerjaannya.
"Apa yang dia lakukan barusan?"
"Tidak ada, hanya pekerjaan unfaedah saja."
"Pak, ada baiknya duduk dulu." tegur Alyne membuat Romeo akhirnya duduk di samping tubuh Saira.
"Iya dasar bawel." lalu matanya menatap Elca yang sedang tersenyum kaku. Selama ini ia belum pernah sedekat ini dengan atasan.
Jantung Elca seperti hendak lepas dari sarangnya saat mendengar Romeo menyapa dengan sangat ramah.
"Benar, Pak. Anda tahu nama saya dari mana?" tanya Elca gugup.
"Lyn menceritakan banyak hal mengenai dirimu. Katanya di antara banyaknya karyawan, kau yang sangat kompeten dan pekerjaannya bagus. Aku salut kepadamu. Mohon dipertahankan."
__ADS_1
Seolah baru saja mendapat segudang berlian di tempat yang gelap. Elca hampir meloncat kegirangan atas pujian Saira serta Romeo kepadanya. Ternyata benar, mengenai anggapannya selama ini terhadap Saira itu salah besar. Gadis itu diam-diam memperkenalkannya pada atasan yang bahkan tidak pernah bertegur sapa dengannya.
"Terima kasih, karena sudah membuatku senang. Belum pernah merasa sebahagia ini."
"Kau ini sangat berlebihan, sudah sewajarnya aku melakukan hal itu, mengingat kau adalah temanku juga. Sama seperti Ae."
"Aku sangat bahagia sampai rasanya ingin lompat dari gedung tertinggi."
"Jangan pernah melakukan hal itu, kalau kau menjatuhkan diri, bisa mati dan kau akan jadi bubur selamanya." tegur Saira membuat gadis itu tertawa.
"Itu saking bahagianya karena diakui olehmu. Selama ini aku mengira kau menjaga jarak denganku."
"Mana mungkin, kau gadis yang baik dan menyenangkan juga sangat perhatian." Sedangkan di pojok kantin, tiga orang sedang mati kutu saat mengetahui satu fakta mengejutkan.
"Kita sudah mengejek orang yang salah."
-----
__ADS_1
Mampus kalian 🤣🤣🤣🤣