
Yudi tersenyum melihat wajah Elca yang mulai dipenuhi bulir yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya. Emosi tampak bergejolak di sana dan Yudi senang mengetahui hal itu. Ia dengan mudah membuat amarah gadis itu melonjak. Elca merasakan ponselnya bergetar. Dengan tangan bergetar ia membukanya pelan dan berharap Yudi tidak mengetahuinya.
"Jangan biarkan kamu dikuasai emosi. Air mata, pertahankan agar tidak jatuh. Ingat! Kamu harus berjuang untuk hak kamu yang sudah dia renggut."
Membaca dua baris kalimat, membuatnya menjadi tenang. Ia tersenyum menatap Yudi. Setidaknya pria itu sudah mengatakan dengan jelas dengan apa yang sedang ia lakukan terhadapnya.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Yudi dengan raut wajah marah.
"Karena sebentar lagi kamu akan mendekam di penjara."
Tawa Yudi meledak seketika mendengar kalimat Elca barusan. Dengan alasan apa gadis itu berkata seperti itu. Apa dia sudah mengalami amnesia. Di kotanya bahkan polisi tunduk kepadanya.
"Apa kau sedang bermimpi? Kau tahu betul siapa diriku."
Kini giliran Elca yang tertawa. "Aku sangat tahu betapa berkuasanya seorang Yudi di kota ini. Tapi kau melupakan sesuatu Yudi! Jika kau merasa tempatmu berpijak saat ini daerah kekuasaanmu maka mainmu kurang jauh."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
Saira masuk sambil membawa sesuatu di tangannya. Hal itu membuat Yudi marah karena merasa sudah dijebak oleh mereka berdua.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sangat marah? Apa kau ketakutan?" tanya Saira sambil melipat tangan. Ia berjalan mendekati Yudi sampai membuat pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Siapa kau!"
"Aku wanita yang akan memberimu pelajaran."
"Oh, iya? Memangnya kau siapa? Apa kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?" Yudi terlihat menatap menantang Saira. Lalu ia seperti tidak asing dengan wajah yang sedang melihatnya dengan datar.
"Ah, kupikir ingatanmu sudah rusak karena dihuni banyak sampah. Ternyata masih berfungsi dengan benar."
"Kau! Jangan berani-beraninya denganku!"
__ADS_1
"Memangnya siapa dirimu? Oh, aku tahu, kau!" tunjuk Saira dengan wajah datar. "Hanya anak manja yang selaku mengandalkan kekuasaan orang tuamu."
Tangan Yudi mengepal erat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Saira. Jika gadis itu mengatakan bahwa dirinya hanya anak manja, maka pikirannya sudah sangat salah. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Saira melipat kedua tangan sambil menunggu apa yang bisa dilakukan oleh pria tersebut. Ia sengaja memprovokasinya agar pusat kekuasaannya segera diketahui oleh Saira.
Selang beberapa menit, datang dua orang tidak dikenal menghampiri mereka di ruang privasi. Mereka tampak mengunci ruang tersebut dan hal itu membuat Elca ketakutan. Bagaimana jika mereka tidak bisa keluar hidup-hidup. Keringat dingin terus mengalir dari keningnya. Matanya terfokus pada Saira yang sangat tenang bahkan tidak merasa takut sama sekali.
Lalu matanya beralih kepada Yudi. Pria itu selalu berhasil membuatnya merinding karena tatapan yang selalu ia pamerkan pada seorang wanita.
"Cuma mereka berdua?" tanya Saira menatap remeh.
"Apa kau sanggup menghadapi mereka berdua?"
Saira menekan sesuatu yang ia pasang di telinganya. "Romeo, bawa mereka masuk."
Dengan menggunakan kunci cadangan, Romeo membuka pintu dan menampilkan sosok yang terkihat sangat berwibawa di sana. Yudi mendadak pucat melihat wajah tersebut. Pria yang biasa disapa Wira terlihat sangat malu dengan apa yang sudah duperbuat oleh putranya.
__ADS_1
------
Gais aku lupa bilang, ada satu bab yang ditolak. itu adalah bab ehem ehem hahahahahaha....