Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 100


__ADS_3

Haikal POV.


Begitu Lisa dan Alex memutuskan untuk pulang, aku segera memyarankan Max, agar beberapa anak buahnya ikut melindungi Lisa. Setidaknya memberikan Lisa rasa aman, jauh lebih baik. Walaupun semua masalah tentang Dana muncul akibat dari ulah Lisa.


"Aku udah minta sama asistenku buat jagain Lisa. Sekarang mereka langsung meluncur ke rumahnya, buat jaga-jaga di sekitar sana." Max menjawab sambil masih terfokus pada layar ponselnya, mengetikkan sesuatu.


"Kamu tau alamat rumah Lisa?" selidikku sambil kembali menyulut sebilah rokok yang sudah kuselipkan di antara kedua bibirku.


Max mengangguk, "Aku pernah tanya waktu kita makan malam bareng Clara."


Aku hanya manggut-manggut seolah mengerti.


Kemudian, Max juga mengatakan bahwa dia sedang meminta asistennya untuk mencari tahu tentang lelaki sialan itu. Lelaki yang berani-beraninya menyia-nyiakan adik kami, lalu sekarang kembali datang dan berniat untuk menghancurkan pernikahan nya.


Begitulah Max, ada sisi kejam dari dirinya, akan tetapi ada pula sisi lembut darinya yang tidak akan pernah orang luar ketahui. Apa lagi dalam bisnis yang dia geluti sekarang. Sikut-menyikut dan saling menjatuhkan itu merupakan hal yang biasa.


"Trus gimana kabar Clara sekarang? Mamah udah ketemu lagi sama dia?" tanya Max tiba-tiba.


Pertanyaan Max kali ini membuatku terkejut, dia menatapku dengan mata elangnya. Melepaskan ponsel yang sedari tadi dipegangnya dan meletakkannya ke atas meja. Sedangkan aku tiba-tiba saja membeku. Bibirku seakan kelu untuk sekedar menjawab pertanyaannya itu. Padahal di awal tadi memang aku duluan yang menceritakan tentang Clara padanya, tanpa dia minta.


"Kal ... Clara gimana kabarnya?" tanyanya sekali lagi.


"Em ... baik kok! Tadi mamah jengukin dia."


"Udah yakin dia orangnya?"


"Ya, kalo gak yakin, ngapain aku ngelamar dia ...," lirihku agak sedikit kesal dengan pertanyaannya.


Max tertawa cekikikan. "Ya siapa tahu ngelamarnya karena khilaf, udah bikin pingsan anak orang."


Aku mencibir kesal mendengar sahutannya. Sedangkan Max kembali mengembuskan asap rokok yang sempat dia hirup sebelumnya.


***


Semalaman aku menghabiskan waktu bersama Max di rumahku. Rumah yang sudah lama tidak ku tempati setelah Tika menikah. Sebab aku lebih memilih pulang ke rumah mamah dan istirahat di sana, walaupun jaraknya terlalu jauh.


Bukan tanpa alasan aku memilih pulang ke rumah mamah, semua itu aku lakukan agar mamah tidak merasa kesepian. Itu pun Shilla, istri Max, kini lebih sering berkunjung membawa Icel dan adik perempuannya, ah ... aku lupa nama anak kedua Max.


Aku dan Max menghabiskan waktu hingga jam menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit. Tepat di saat ponsel Max berdering. Telepon dari Shilla yang menanyakan keberadaannya.


Ya, Max memang bukan tipe pria yang senang berkeliaran di luar rumah demi mencicipi wanita malam. Kalaupun ada beberapa rekan kerjanya yang mengajaknya ke club malam, Max akan dengan senang hati mengantar mereka, tapi Max tahu batasannya. Dan dia akan segera pulang sebelum jam dua malam. Bahkan setahuku, tidak pernah sedikitpun di otaknya terbesit untuk berpaling dari Shilla. Itulah hebatnya Max.


"Aku pulang dulu ya? Shilla udah keburu bangun lagi gegara si Icel bangun minta odot." Max beranjak mematikan rokoknya. Kemudian aku mengantarnya hingga ke tepi jalan, di mana dia memarkirkan mobilnya.


"Kabarin kalo ada apa-apa, jangan nunggu aku tanyain baru kasih kabar," ucapnya seraya masuk ke mobilnya. Aku hanya mengangguk. Tak lama kemudian dia melesat pergi meninggalkan jejak mobilnya.

__ADS_1


Aku kembali ke dalam rumah, menuju ke balkon. Duduk sendiri menghabiskan sisa minumanku, sambil kembali menyulutkan sebilah rokok. Berpikir.


Sebenarnya banyak hal yang aku pikirkan, bukan hanya tentang kehidupan pribadiku saja. Tapi juga tentang mamah, Tika, Clara, rumah sakit serta ratusan pasien yang kutangani setiap harinya. Terkadang, aku kembali mengingat ujaran mamah waktu itu.


"Jangan hanya memikirkan kebahagiaan dari keluarga pasien saja, tapi pikirkan kebahagiaan keluarga sendiri."


Begitu kira-kira yang pernah mamah ucapkan padaku dulu. Waktu aku masih bimbang akan kehadiran Clara. Dan mungkin ini saatnya, aku memikirkan keluargaku. Memprioritaskan kehidupan mereka.


***


Aku bangun dari tidurku tepat saat alarm di ponselku berdering. Alarm telepon dari Clara. Sebelum tertidur aku sempat mengirimkan pesan singkat padanya untuk menelponku di jam sepuluh kurang sepuluh menit. Benar saja, sekarang dia menelpon sesuai dengan permintaanku. Aku segera menerima panggilan telepon itu.


"Hallo? Iya ... baru bangun. Di rumah, tadi malam ngobrol sampe pagi sama Max. Iya bentar lagi ke sana. Bye ...," sahutku kemudian kuputuskan sambungan telepon itu.


Kulempar ponselku ke atas ranjang, kemudian aku mencoba meregangkan tubuhku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tidur berkualitas seperti tadi. Karena biasanya aku hanya bisa tidur beberapa jam saja. Itupun tidak senyaman tadi.


Setelah selesai membersihkan tubuhku, aku segera pergi kembali menuju ke rumah sakit.


Pertama, aku putuskan untuk menuju ke ruang rawat inap Clara, untuk menjenguk bidadari hatiku. Bidadari yang sudah memiliki hatiku di tangannya.


"Astaga!! Perumpamaan apa ini, aku benar-benar mabuk jatuh cinta ini," gumamku saat berada dalam lift. Aku terkekeh pelan, untung saja di dalam lift aku hanya sendiri, tidak ada orang lain.


Ting ...


Pintu lift terbuka.


"Loh ... kok di sini?" Aku terperangah melihat Max, senyuman yang mengembang di wajahnya mirip dengan senyuman boneka Chucky. Aku dibuat merinding akan senyuman itu.


"Kamu kok malah gitu sih? Kakak sama mamah jengukin aku malah seakan—"


"Aku seneng kok, cuman bingung aja." Kusela ucapan Clara. Sedangkan Max tertawa cekikikan sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.


———————————————


Clara POV.


"Emang aku gak boleh ya jengukin adik iparku sendiri?" ucap Max pada Haikal, saat mereka beradu mulut.


Aku hanya tertawa melihat sikap mereka berdua. Seperti kucing dan tikus, tapi ada rasa sayang yang meliputi keduanya. Mamahnya juga hanya tertawa dan bergeleng kepala melihat anaknya.


Setelah selesai pertikaian kecil itu mereka akhirnya kembali berdamai akibat teguran dari mamah. Sesaat sebelum Haikal datang, memang ada beberapa pertanyaan yang sempat membuatku tercengang. Dan pertanyaan itu bukan dari mamahnya melainkan dari sang kakak, Max.


"Kenapa mau terima lamarannya Haikal? Dia kan tipe cowok kurang bisa memerhatikan orang lain," tegas Max saat itu.


Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya dengan spontan. Dan jujur saja pertanyaan itu memang sulit untuk aku jawab. Kenapa? Aku tidak tahu. Hanya saja hatiku memang tertarik padanya. Hatiku memang memilihnya. Tapi sayang jawaban itu tidak bisa aku ucapkan, bibirku terlanjur membeku menghadapinya.

__ADS_1


Belum lagi pertanyaan beruntun lainnya yang membuat jantungku semakin berdegup tak beraturan. Hah!! Untung saja jantungku saat itu masih bisa dikontrol kalau tidak? Bisa-bisa aku kembali pingsan, sama saat adiknya melamarku.


"Ya sudah, tante pulang dulu ya?" pamit mamahnya, sambil tersenyum menatapku.


Max menyenggol lengan mamahnya lalu berkata, "Kok masih nyuruh panggil tante sih? Panggil mamah dong!" seru Max.


Lagi-lagi kalimat candaan yang keluar dari mulutnya itu membuat jantungku berdegup. Tadi begitu Haikal datang, aku sudah merasa sedikit lega, sebab Max tidak akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang tidak mampu kujawab. Tapi kali ini dia malah mengujiku lagi.


Sedangkan Haikal hanya cengengesan saat kakaknya mengatakan itu. Dan aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapi guyon-an Max itu.


Tanpa kembali menanggapi Max, mamahnya langsung memelukku dan mengucapkan doa semoga lekas sembuh untukku. Begitu pula dengan Max yang hanya melambaikan 'high five'-nya padaku.


Lama berselang setelah Haikal pergi mengantarkan kakak dan mamahnya, kedua orangtuaku datang menjengukku. Sebab rencananya setelah hasil tes siang ini keluar, aku akan diperbolehkan untuk pulang. Tapi tetap dalam kondisi rawat jalan, sama seperti bunda.


***


Siang harinya ...


Kedua orangtuaku masih berada dalam kamar ini, begitu pula dengan Haikal. Ayah dan Haikal sedang berbincang sambil duduk di sofa, sedangkan bunda duduk di kursi samping ranjangku. Dari wajah, bunda sudah terlihat lebih sehat dan segar, tidak pucat seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan kemarin aku sengaja meminta ayah untuk membawa pulang bunda. Agar bunda bisa beristirahat dengan nyaman. Ayah dan bunda menuruti permintaanku.


Kemudian hari ini mereka kembali lagi ke sini untuk sama-sama menunggu dokter Ranti, membawakan hasil pemeriksaan tes pada penyakit Asma-ku.


Tidak lama kemudian, dokter Ranti datang membuka pintu dan melangkahkan kakinya mendekatiku. Aku yang sudah duduk bersandar ikut merasa gugup, menantikan hasil itu. Sebab saat ini kedua orangtuaku sudah mengetahui jika aku juga mengidap penyakit yang sama dengan bunda.


"Kamu sudah boleh pulang hari ini, hasil tes menyatakan bahwa penyakit Asma yang kamu alami, masih bisa untuk dicegah. Dicegah dalam artian masih bisa untuk kamu tanggulangi agar tidak menjadi terlalu parah." Dokter Ranti dengan lantang menjelaskan.


Ayah langsung mendekat begitu mendengar setengah penjelasan dari dokter Ranti, sedangkan Haikal masih duduk di tempatnya semula, mendengarkan dari jauh.


"Cara menanggulanginya sama dengan saya, Dok?" tanya bunda perlahan.


"Iya Buk, sama. Tidak ada bedanya. Usahakan untuk selalu bersih dan jauh dari debu jika sedang berada di rumah. Jika keluar rumah, gunakan masker." Dokter Ranti mengangguk seraya memberikan jawaban.


Aku juga mengangguk mendengarkan penjelasan darinya. Setelah itu, tak banyak yang kami bicarakan hingga membuat dokter Ranti memutuskan untuk pamit. Dan aku boleh pulang setelah obat-obatan dari pihak rumah sakit telah diberikan padaku.


Ayah dan bunda segera membereskan beberapa barang milik kami, sedangkan Haikal perlahan melangkah mendekatiku yang telah duduk di bibir ranjang.


"Ada baiknya kalau kamu bedrest dulu di rumah, jangan langsung masuk kerja besok," sarannya sambil mengusap puncak kepalaku.


Tapi aku menolak sarannya mentah-mentah, jika aku memilih untuk bedrest, bisa-bisa gajihku kembali dipotong oleh perusahaan di mana aku bekerja. Sebab baru beberapa minggu yang lalu aku juga jatuh sakit, yang menyebabkan aku harus bedrest dan izin meninggalkan kantor. Jadi jika sekali lagi aku izin sakit, maka pundi-pundi rupiah yang aku kumpulkan akan hangus begitu saja.


Hanya karena aku menolak sarannya itu, tiba-tiba Haikal langsung berpamitan pada kedua orangtuaku untuk kembali bekerja dan meminta maaf karena tidak bisa menemaniku mengantar pulang ke rumah. Sontak aku terkejut melihat reaksinya. Seperti sedang merajuk. Sesaat setelah dia keluar dari kamar, aku terkekeh geli. Begitupun dengan ayah dan bunda, awalnya mereka heran tapi sepersekian detik kemudian mereka tertawa pelan.


Bersambung ...


——————————————

__ADS_1


Jangan lupa ritual setelah membacanya ya 🤭


Babay 😘


__ADS_2