
Haikal POV.
Seperti biasa, aku berkutat dengan riuh nya keadaan UGD. Bermacam orang cidera yang masuk di ruangan ini hampir disetiap menitnya. Menangani dari satu orang ke orang lainnya yang baru. Berdiskusi dengan dokter lainnya yang sesuai dengan keahliannya masing-masing.
Terkadang aku hanya memiliki waktu 2 jam dalam 24 jam hari ku untuk beristirahat. Entah itu untuk makan atau sekedar untuk memejamkan kedua mataku. Hingga akhir nya Ranti dan Edam datang membantuku sejak 10 bulan yang lalu. Mereka juga merupakan dokter dengan predikat lulusan luar negeri yang sangat memuaskan.
Untungnya mereka mau membantu ku di rumah sakit ini, ya walaupun gajih yang di dapatkan disini tak seberapa dengan gajih yang mereka dapatkan di luar negeri. Tapi mereka tetap memilih di rumah sakit ini. Membantuku dan mendekat dengan keluarga mereka.
"Kal, lu mending istirahat deh ato enggak ambil cuti gih? Gua sama Edam bisa kok handle semua nya." ucap Ranti yang melihatku ke walahan di ruang UGD.
Ranti termasuk anak orang yang berada. Dia juga 4 tahun lebih muda dari ku. Jika dibandingkan dengan umur Tika, sebenarnya dia di bawah Tika 2 tahun.
Tapi mungkin benar kata orang, pekerjaan akan membuat usia mu terlihat lebih tua dari semestinya. Itulah yang terjadi pada Ranti. Dia terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan umurnya sekarang.
"Yakin kalian bisa handle?" tanyaku tegas.
"Ya kalo handle UGD sama rumah sakit sih bisa aja, lagian banyak yang lain yang bakalan bantuin. Tapi kalo handle nya sampao pembukuan dan perencanaan ya gua ogah." tolak Ranti halus.
Aku tertawa mendengar cara penolakkannya.
"Mending cari pegawai lagi deh, yang emang bener-bener ngerti urusan itu Kal! Kalo ujung-ujungnya tetep lu yang ngurusin, gua jamin, bentar lagi bakal meledak tu pala lu. Ato paling aman botak lah pala lu." ledeknya padaku.
Aku menghembuskan nafas kasar.
Aku memang terpikir untuk mencari pegawai baru. Karena pegawai sebelumnya telah mengundurkan diri pasca melahirkan dengan alasan ingin fokus mengurusi anaknya, setahun yang lalu.
"Ngomong sih gampang, nyarinya dimana? Bisa fokus gak dia, bisa ngitung cepet gak. Belum lagi kalkulasi nya harus akurat."
"Nyari apaan?" tanya Edam yang baru bergabung sambil mengisi kertas hasil cek pasien nya.
"Nyari cewe Dam!" sahutku asal.
"Banyak gua punya stock! Lu mau yang lokal apa yang import?"
Ranti tertawa lalu pergi meninggalkan kami, mengecek keadaan pasien nya satu persatu.
"Sembarangan lu ngomong." semprot ku.
"Loh gua seriusan! Temen cewe gua banyak yang lokal, yang blesteran juga ada. Ntar deh gua kenalin." jawabnya songong.
"Terserah lu dah." aku pergi meninggalkannya di meja center UGD bersama dengan kebingungannya.
__ADS_1
Aku berjalan menuju lorong keluar dari ruang UGD. Aku ingin mengistirahatkan otak ku sebentar di ruangan.
"Mau kemana?" seru Ranti jauh di belakangku.
Aku menoleh, "Tidur bentar. Titip ya!" seru ku balik.
Aku membuka pintu dan keluar dari sana, melangkah kembali menuju ruanganku di lantai 3.
Begitu sampai di depan pintu ruangan ku, tiba-tiba aku berpikir untuk istirahat di ruang gudang. Ruangan yang sebenarnya untuk menyimpan berkas namun sengaja di sediakan dengan ranjang dipan khas rumah sakit untuk para karyawan beristirahat. Ruangan itu tepat berada di ujung lorong ini, berbeda 2 knop pintu dari ruangan ku.
Ku langkah kan kaki ku ke sana. Masuk lalu ku tutup pintu nya dengan cepat. Aku menghembuskan nafasku brutal. Akhirnya aku bisa istirahat, batinku. Saat memasuki ruangan ini, mata kita akan dibuat terpana oleh lemari besi tinggi yang berisikan banyak file-file tentang rumah sakit ini. Namun jika kalian jeli di lemari besi itu ada jalan yang mengarah ke ranjang istirahat yang ku maksudkan tadi.
Dan memang hanya ada satu ranjang disana. Ku rebahkan tubuhku, ku hirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu ku hembuskan, ku ulangi kegiatan itu berkali-kali. Sambil ku coba memejamkan mataku hingga aku tertidur.
Ceklek.
Bruk..
Brakk..
"Aw!!!"
Suara gaduh itu membangunkanku. Rasanya baru beberapa detik aku tertidur dengan tenang tanpa pil dan obat-obatanku.
"Berisik! Bacot aja!" seruku emosi.
Brakk!!
Bunyi beberapa file kembali jatuh ke lantai. Aku yakin dia kaget lalu tidak sengaja menendang kakinya ke lemari lagi, sehingga file itu makin berjatuhan. Namun ajaibnya tidak ada lagi suara wanita merengek karena kejatuhan file. Aku penasaran. Berdiri lalu menghampiri ke depan pintu. Lampu di ruangan ini memang agak sedikit redup, bahkan bisa di bilang sengaja diredupkan. Dan bodohnya aku, kenapa tadi tidak aku kunci saja pintu nya dari dalam, jadi tidak akan ada yang mengganggu tidurku.
Aku merogoh ponsel ku di dalam saku celana ku, lalu menyalakan flash nya. Ku arahkan pada sosok seorang wanita yang pasrah tersandar pada pintu tertumpuk oleh beberapa file yang berserakkan di lantai.
"Tau ini ruangan apa?" ucapku tegas.
Dia menggelengkan kepalanya sambil mencoba menatapku dibalik celah jemarinya yang membentang didepan wajahnya.
"Trus ngapain masuk ke sini?" tegasku lagi.
"Keponakkan gua ngejar mau nyoretin kaos gua." lirihnya di balik rintihan sakitnya.
"Tau kan ini rumah sakit?"
__ADS_1
"Tau! Makanya gua milih ngumpet biar dia berenti nguber gua." sahutnya lagi sambil mengepinggirkan beberapa berkas dari tubuhnya.
Sekilas terlihat kedua gunung kembarnya yang terselimuti dengan bra putih dari celah kerah bajunya yang lebar. Jembulan itu terlihat seksi dimataku saat dia menyingkirkan file-file itu, bergerak sintal sebelum akhirnya dia berdiri.
"Lu muncul dari mana sih? Kok bisa ada elu diruangan kecil begini?" ucapnya yang lalu melangkahkan kakinya, menepis tubuhku ke samping lalu ia berjalan menuju ranjang istirahat.
"Oh ada tempat rahasia toh disini. Ini ruangan apa sih sebenernya? Tadi perasaan di depan tulisannya gudang deh. Tapi kok ada ranjangnya??" tanyanya lalu berbalik mengarah padaku kemudian dengan santainya duduk diranjang empuk itu.
Aku hanya menatapnya, "Kayaknya keponakkan lu udah bosen nguber-nguber lu deh, jadi lu udah bisa keluar dari sini." ketusku.
"Aw!!! Pantat gua sakit loh gara-gara kejatuhan beribu kertas tadi. Trus itu lutut gua kayaknya luka, soalnya berasa perih," rengeknya.
Aku semakin menatapnya dengan tanpa ekspresi, "Truussss?"
"Ya elu perawat kan? Obatin gua dong!" rengeknya dengan nada setengah memerintah, "Gua jatuh akibat lemari besi yang lu salah cara narohnya." ngototnya.
Aku malas berdebat. Aku ingin melanjutkan tidurku kembali. Tanpa basa basi dan bersuara lagi, ku ambil kotak P3K yang memang tersedia di ruangan ini. Lalu ku tumpahkan cairan pembasuh steril untuk luka pada lutut yang dikatakannya mengalami cidera. Aku terpana, kulitnya terlalu lembut saat ku sentuh. Lalu ku oleskan obat merah serta ku tempelkan plester dibagian lututnya.
Setelah selesai, aku yang berjongkok di lantai dengan santainya memandangi nya, ingin mengatakan bahwa cidera lutut nya sudah selesai ku atasi. Namun mata ku malah menangkap lurus ke kedua batang paha nya yang mulus. Ya, aku bisa melihat paha nya tanpa sensor karena saat ini ia menggunakan rok yang pendek, namun tidak terlalu pendek.
"Hei, lu liatin apaan? Udah kelar belom?" ucap wanita itu mengagetkanku.
"Em. Iya udah." lalu aku berdiri.
Tiba-tiba dia merebahkan tubuh nya diranjang itu. Lalu memejamkan matanya. Seolah aku tidak ada disana memperhatikannya.
"Lu ngapain?" tanyaku.
"Rebahan lah, cape gua habis lari-lari." jawabnya santai.
Aku mulai jengkel melihat tingkahnya, ku sentuh tangannya, ku tarik hingga ia terduduk dan jatuh berdiri dari ranjang.
"Aduuhh, apaan sih!" rengeknya.
Saat ia masih mencoba berdiri tegak, aku langsung mengambil alih ranjang itu dan merebahkan tubuhku. Menguasai ranjang lalu memejamkan mataku.
"Lu bisa keluar sekarang, gua mau istirahat. Sebelum gua berubah pikiran dan nyuruh lu buat ngeberesin file-file itu." tegasku.
Beberapa saat suasana terasa hening. Telingaku tidak menangkap suara apapun dari wanita itu lalu tiba-tiba dia ikut merebahkan tubuhnya di sebelahku lalu mendesak tubuhku untuk bergeser.
"Hei hei!" seruku lalu membuka mataku meliriknya.
__ADS_1
"Please biarin gua bentar aja rebahan. Anggap gua ga ada aja. Kan beres." sahutnya santai.
Aku tidak bisa mengelak lagi. Ku biarkan dia berbaring disebelahku. Pasrah. Lalu ku pejamkan mataku dan aku mulai tertidur kembali. Dengannya disisiku. Wanita asing yang entah siapa dan dengan berani nya seperti ini.