
Tika POV.
Setelah melakukan pemeriksaan kandungan, melihat dengan mesin USG, ternyata usia kandunganku sudah berjalan enam minggu. Jefri menggenggam erat jemariku saat Dokternya menjelaskan usia kandungan itu. Ada senyum bahagia di sudut bibirnya, aku melihat itu dengan jelas.
"Oke, sudah selesai. Untuk selanjutnya, bisa check-up lagi nanti begitu usia kandungan sudah menjalani sebelas atau tiga belas minggu," ucap Dokter itu pada kami.
Kami pun segera keluar dari ruangan beliau dan berpamitan. Tak jauh dari sana, Haikal berjalan menghampiri kami.
"Gimana? Udah?" tanyanya.
Aku menoleh pada Jefri kilas, "Udah kok."
"Usianya udah enam minggu," sambung Jefri sambil mengecup keningku.
"Syukur deh. Aku belum kasih tau Mamah, kamu kasih tau sendiri aja ya?" tanya Haikal sambil meraih tanganku.
"Iya," sahutku yang kemudian di peluk oleh Haikal.
"Jaga baik-baik bayi itu. Kamu jangan terlalu stress dan jangan terlalu banyak aktivitas, oke?" tambah Haikal.
Aku menganggukkan kepalaku tanda satuju dan mematuhi kalimatnya, kemudian Haikal melepaskan pelukkannya.
"Ya udah, kalo gitu sekalian kita ke rumah Mamah aja habis ini gimana?" ajak Jefri padaku.
Aku mengangguk lagi, "Ikut yuk, kamu udah lama gak pulang kan?"
"Enak aja, kemaren aku tidur dirumah. Tadi pagi juga berangkat dari rumah," protes Haikal.
Aku cekikikan. Haikal selalu begitu jika ku jahili. Dia akan selalu menjelaskan dengan rinci semuanya. Lalu bertingkah seperti anak kecil yang sedang membela diri.
"Gimana kalo sekalian makan malem bareng? Mau kan?" ajak Jefri sambil menatap aku dan Haikal secara bergantian.
"For this?" tanya Haikal sambil menunjuk ke arah perutku.
"Yaps, bisa kan?" tanya Jefri lagi.
"Ayolah, izin bentar bisa kan?" bujukku lagi.
"Gini aja deh, kalian ke rumah Mamah dulu, nanti kalo Mamah oke, kalian tinggal kabarin, share location tempat makannya, gimana?"
Aku dan Jefri saling berpandangan. Mencari jawaban di masing-masing bola mata.
"Ya udah, gitu aja, ntar aku shareloc kita makan dimana," sahut Jefri setelah melepaskan pandangannya dari tatapan kedua bola mataku.
Haikal mengangguk.
"Ya udah kalo gitu, kami pamit ya? Ntar aku kabarin lagi," pamit Jefri.
"Iya," sahut Haikal yang kemudian memelukku lagi dan mengecup kepalaku kilas.
__ADS_1
Kemudian, Haikal mengantarkan kami sampai ke lobby rumah sakit.
Sesampainya dirumah Mamah...
Kami langsung mencari Mamah, 'Biasanya kalo menjelang malam begini, Mamah ada didapur,' batinku.
Ku langkahkan kaki ku lebih cepat dari Jefri, agar aku segera sampai dapur dan bertemu dengan Mamah. Aku merindukannya, serasa sebulan tidak bertemu. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku memeluknya.
Begitu memasuki dapur, ternyata kosong, tidak ada siapapun disana. Aku berbalik, mungkin Mamah di kamar, pikirku lagi.
"Loh, ga ada?" pekik Jefri yang menabrakkku.
"Ga ada, kayaknya dikamar," sahutku yang kemudian mengambil jalan lain lalu menuju tangga, ke kamar Mamah.
"Maaahh.. Mamaaaahh...," teriakku sambil menaiki anak tangga perlahan.
Segera ku buka pintu kamar Mamah, namun nihil, tidak ada Mamah didalam kamar. Semua terlihat rapi.
"Kenapa?" tanya Jefri saat menghampiriku.
"Mamah gak ada."
"Lah, kalo gak ada kok pintu depan gak di kunci? Pagar juga gak di tutup," tanya Jefri padaku.
"Gak tau." Aku mulai bingung dengan keberadaan Mamah.
Aku segera melangkahkan kaki ku menuju tangga, baru saja hendak menginjak anak tangga, Jefri memanggil.
"Sayang."
Aku menoleh padanya yang sudah membuka pintu kamarku, "Kenapa?"
Jefri hanya menggerakkan kepalanya, seolah memberi tanda untuk menyuruhku mendekat padanya. Aku mendekatinya, kemudian Jefri mengerucutkan bibirnya menunjuk ke arah dalam kamarku. Aku mengikuti arahannya, ternyata Mamah terbaring diatas ranjangku. Terlelap sambil memeluk sebuah boneka Teddy Bear milikku. Hadiah pemberian Papah saat umurku dua belas tahun. Mata ku berkaca-kaca melihat pemandangan itu.
Perlahan ku dekati Mamah, duduk di bibir ranjang. Kemudian menatapinya dengan seksama. Ku sentuh lengannya perlahan, ku elus.
"Mah.. Mamah...," lirihku.
Mamah terbangun, perlahan membuka matanya dan mengerjapkan beberapa kali. Kaget melihatku.
"Sejak kapan kamu datang?" tanya Mamah sambil duduk dengan kedua tangan yang masih memeluk bonekaku.
"Baru aja, aku cariin Mamah kemana-mana. Taunya Mamah disini, tidur."
"Iya, tadinya Mamah mau gantiin sprei kamu, eh nyampe sini malah kepingin tidur."
Aku tersenyum. Tiba-tiba Jefri memegang pundakku.
"Mah, kita makan malam diluar yuk?" ajak Jefri.
__ADS_1
"Boleh, tapi Mamah siap-siap dulu ya? Gak papa kan kalian nunggu?" sahut Mamah.
"Iya, gak papa kok, Mah."
Mamah segera berdiri dan langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Meninggalkan boneka Teddy Bear ku diatas ranjang. Aku meraih boneka itu lalu memeluknya. Sedangkan Jefri duduk di hadapan ku, memperhatikanku.
"Kenapa? Kok senyum-senyum gitu?" tanyaku.
"Kan udah ada aku, kok masih meluk yang lain? Aku buat apa?" tanyanya dengan wajah polosnya tanpa tersenyum lagi.
Aku menganga sepersekian detik lalu tertawa terbahak-bahak, "Kamu kenapa?" tanyaku disela-sela tawaku.
"Ya cemburu lah, malah meluk dia, bukan aku!" tegasnya dengan mulut yang dikerucutkannya, khas anak kecil yang lagi ngambek.
Aku kembali tertawa terbahak-bahak, lalu melepas boneka didepanku. Segera memeluk tubuhnya. Membenamkan wajahku tepat di ceruk lehernya. Mengecup lehernya. Jefri membalas pelukkanku dengan erat. Sangat lama kami berpelukkan, hingga aku dapat menghirup aroma maskulin tubuhnya. Ku pejamkan mataku, menikmati pelukan hangatnya.
"Jangan pernah meluk yang lain, selain aku," pintanya.
"Meluk Mamah atau saudara gak boleh juga?" ucapku yang masih memejamkan mata.
"Kalo itu boleh, tapi kalo laki-laki lain kagak!"
Aku tertawa lagi.
"Berarri kamu juga gak boleh meluk cewek lain selain aku, biar adil!" lirihku.
"Iya, aku janji. Gak akan ada wanita lain. Cukup kamu."
"Trus nanti kalo anak kita cewek, kamu peluk gak?" candaku.
"Atas seizin kamu, kalo kamu izinin aku peluk dia, ya aku peluklah."
Aku tertawa lagi, "Ya wajiblah kamu peluk anak kita, mau cewek atau cowok, dia harus dapat kasih sayang dari kamu."
"Jadi diizinin nih?" tanyanya.
Ku lepaskan pelukkanku dengannya, lalu ku tatap matanya, "Mau bikin perjanjian gak?"
Jefri menatapku heran sambil mengernyitkan dahinya, "Perjanjian apa?"
Ku raih kedua tangannya lalu ku genggam, "Apapun yang terjadi kelak, kamu harus prioritaskan anak kita. Masa depannya, ya?"
Jefri menatapku lekat, melepaskan satu tangannya dari genggaman tanganku, lalu menangkupkan telapak tangannya pada pipiku, "Iya, aku janji. Anak kita yang paling penting."
"Janji?" ku ulangi pertanyaanku untuk sekedar meyakinkannya. Bahkan pertanyaan ini ku lontarkan sekali lagi juga hanya untuk kuyakini sendiri.
Perlahan Jefri mengecup keningku, lalu kembali menatapku sambil menjawab, "Aku janji. Kamu bisa pegang janji aku ini."
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Kemudian perlahan ia mengecup bibirku...
__ADS_1