
Selamat membaca ...
——————————
Still Haikal POV.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kulkas dan mengambil sebotol jus buah lalu mengambil dua buah gelas dan membawanya ke teras samping rumahku. Sambil menunggu Max datang kemari. Dia mengatakan jika tadinya dia akan segera pulang tapi aku memintanya untuk bertemu denganku dulu di sini.
Bukan tanpa alasan aku meminta Max bertemu denganku dan bukan hanya karena aku ingin ditemani merokok, hanya saja aku ingin menanyakan suatu hal padanya. Perihal penting yang tidak pernah lagi aku ketahui.
Aku mulai merogoh saku celana lalu mengambil sebungkus rokok yang memang sudah aku kantongi sejak tadi, sejak turun dari mobil. Kepalaku terasa berat seketika.
Apalagi saat mendengar masa kecil Clara. Jantung ini sungguh terasa ingin lepas dari tempatnya. Bagaimana bisa Clara memiliki masa kecil dengan kedua lelaki kejam itu? Dan saat melihat wajahnya yang seakan merindukan teman-teman masa kecilnya itu, membuat hatiku sungguh tersentuh dan terpikir untuk melakukan ini semua.
Ya, Clara harus tahu tentang kedua lelaki sialan itu. Clara harus tahu bagaimana mereka berdua membuat Tika hampir kehilangan nyawanya, walaupun keajaiban muncul kepada si kembar.
Tingtong! Tingtong!
Aku segera berdiri untuk membukakan pintu karena yang datang itu pastilah Max. Tetapi betapa terkejutnya aku begitu melihat Jefri yang juga datang bersamanya.
“Hai,” sapa Jefri padaku, lalu aku mempersilakan mereka berdua untuk masuk.
Dan tidak seperti biasanya, kali ini Max tidak membawakan minuman ataupun camilan. Dia datang dengan tangan kosong, begitu pula dengan Jefri. Lalu aku langsung mengajak mereka untuk besantai di teras samping.
“Bentar aku ambilin gelas dulu,” ucapku sambil kembali melangkah menuju dapur mengambil gelas minum lalu kembali membuka kulkas, mengambil sekotak lagi jus buah yang aku miliki. Lalu menyuguhkan kepada mereka berdua.
Kami bertiga sama-sama menikmati rokok masing-masing dalam keheningan hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu.
“Kok, kalian bisa sama-sama tadi?” tanyaku dengan menatap mereka berdua secara bergantian.
“Kami kelar meeting tadi.” Max menjawab lebih dahulu.
Aku mengangguk mengerti. Max memang mengatakan saat ditelepon tadi, jika dia baru saja selesai meeting. Hanya saja aku tidak menyangka jika rekan bisnisnya adalah Jefri, adik ipar kami.
Kemudian tiba-tiba Jefri melanjutkan membuka pembicaraan, membahas mengenai proyek konstruksi yang kira-kira akan menguntungkan kedua belah pihak. Meskipun aku tidak mengerti, dengan apa yang mereka perbincangkan, tetap saja aku mendengarkan semuanya.
Hingga suasana kembali hening, yang terdengar hanya desiran angin yang berembus.
Lalu akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, walaupun aku tahu, pertanyaanku nanti bisa-bisa menjadi masalah. “Max, aku boleh nanya?”
Max menoleh padaku. “Apaan? Tumben mau nanya aja izin dulu, sopan amat?”
__ADS_1
”Ya iyalah, masa main tanya aja,” sahutku sambil cengengesan. “Dave sama Dana dikuburin di mana?”
Seketika kedua pasang mata lelaki itu langsung menoleh, menatapku dengan sudut mata elangnya. Seakan pertanyaan yang aku lontarkan itu adalah pertanyaan tidak boleh aku sebutkan.
“Aku hanya bertanya, sebab sepertinya calon istriku terhubung pada mereka berdua.”
“Maksud kamu?” Jefri bingung.
Aku menghela napas dengan perlahan kemudian aku mulai menjelaskan kepada mereka berdua bahwa Dave dan Dana adalah teman masa kecil Clara. Aku juga menceritakan pada mereka kejadian beberapa jam tadi, di mana aku baru saja memgetahui tentang semua itu.
“Lalu apa hubungannya, kamu nanya tentang jasad mereka berdua?” tanya Max dingin.
“Aku hanya ingin tahu dan jika boleh, aku ingin membawa Clara ke sana. Dia harus tahu tentang teman masa kecilnya itu. Dia harus tahu jika kedua lelaki itulah yang membuat keluarga kita selalu dirundung masalah.” Aku ku dengan perlahan.
Sebab aku sangat mengerti jika kedua lelaki itu merupakan permasalahan yang sangat sensitif jika dibahas. Apalagi bagi Jefri yang menjadi target langsung dari mereka.
Kemudian Max memberitahukan kepadaku semua tentang Dave dan juga Dana. Dia menguburkan kedua orang itu dengan layak di kompleks pemakaman yang sama dengan papah.
“Jika ingin ke sana, coba saja bertanya pada penjaganya untuk menunjukan lokasi tepatnya.” Max berpesan. Aku mengangguk.
**
Keesokan harinya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Dan aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit tadi malam, untung saja bisa. Sebab tidak ada jadwal orang lain yang harus aku gantikan ataupun yang lainnya.
Dan saat di sana nanti, baru aku akan mengatakan kebenarannya. Lagi pula, bagiku ini adalah salah satu hal penting yang harus dia ketahui sebelum kami melangsungkan pernikahan. Agar tidak ada kesalahpahaman di antara kami nantinya.
Selesai membersihkan diri dan bersiap-siap, aku langsung pergi menuju ke rumah Clara. Sebelumnya aku sudah mengabarinya, jika aku akan mengajaknya untuk keluar pagi ini, dia menerima ajakanku.
Aku juga sudah membeli beberapa buket bunga, yang pertama tentu saja untuk aku berikan kepada Clara, sebagai janjiku sebelumnya sebagai pengingatku. Bahwa dia adalah milikku.
“Kita mau ke mana sih sebenarnya? Trus kenapa kamu beli bunganya banyak banget?” tanya Clara saat kami berada dalam perjalanan. Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum tipis kepadanya.
Hingga akhirnya aku membelokkan kemudi setir, memasuki kompleks pemakaman. “Oh, kamu mau nyekar ke makan papah ya? Bilang dong. Untung aku pake pakaian sopan, kalau aku pakai rok mini gimana?”
“Kamu gak akan pernah nyentuh rok mini dan segala pakaian yang kekurangan bahan itu lagi kalau sama aku. Sebab aku gak mau orang lain menikmati memandang tubuh kamu.” Kemudian aku segera mematikan mesin mobil setelah terparkir sempurna. Dan Clara hanya terdiam mendengar ucapanku barusan.
Wajahnya terlihat bersemu merah merona dan dia juga terlihat melamun saat aku membuka pintu belakang untuk mengambil semua buket bunga itu. “Kamu mau nunggu di dalam mobil aja, atau ikut aku keluar ketemu papah?” tawarku membuatnya tersadar dan menoleh tersenyum.
“Tentu aja aku ingin ketemu papah mertuaku.” Clara tersenyum simpul lalu segera turun dari mobil.
Aku berjalan lebih dulu menuju makam papah, begitu sampai, aku langsung meletakkan buket bunga paling besar untuknya dan berkata, “Pah, minggu depan aku akan menikah dengan gadis ini. Mungkin papah juga sudah tahu dan aku ingin meminta restu papah untuk kami berdua. Doakan agar bahtera rumah tangga kami selalu dilindungi dan selamanga hingga akhir hayat,” ucapku lantang lalu menoleh menatapnya.
__ADS_1
Tidak banyak yang aku lakukan di makam papah, hanya kalimat itu yang aku ucapkan. Kemudian Clara hanya mengelus batu nissan itu.
“Ayo kita ke makam yang lain,“ ajakku padanya.
Clara menunjukkan wajahnya yang bingung tetapi dia berusaha untuk diam saja, tidak bertanya makam siapa lagi yang akan kami kunjungi. Aku memintanya untuk memegang kedua buket bunga yang tersisa. Lalu aku mendekati seorang penjaga di sana dan menanyakan letak makam yang aku cari. Beliau segera berdiri dan menunjukkannya padakh.
“Nah itu ada pohon tunggal di sana, di bawah pohon itu makamnya.” Tunjuk beliau dengan ujung jarinya. Aku mengerti lalu membawa Clara melangkah berjalan ke arah sana dengan santai.
“Ada makam lain yang mau datangi?” tanyanya saat berjalan di sampingku.
“Iya, dan aku ingin menunjukkannya sama kamu.”
Mataku langsung menoleh ke lain arah untuk mencari nama kedua saudara lelaki itu yang mana ternyata memang benar terletak di bawah sebuah pohon. Clara belum menyadarinya, sebab dia sibuk memerhatikan lamgkah kakinya dan juga melihat ke arah lain.
Kemudian aku langsung berbalik ke hadapannya untuk menghentikan lamgkah kakinya di belakangku. “Mungkin kamu yang akan lebih pantas untuk meletakkan bunga itu ke makam ini,” lirihku.
Perlahan pandangan mata Clara menoleh ke arah makam yang aku tunjukkan menggunakan gerakan wajah. Seketika itu aku melihat matanya yang membulat dan tubuhnya yang mematung. Lalu beberapa detik kemudian, kelopak matanya mengeluarkan air mata begitu saja. Tidak lagi tetesan tetapi mengalir dengan begitu deras.
Seketika itu, Clara menjatuhkan dirinya, berlutut di antara kedua makam itu. Isak tangisnya terdengar begitu saja. Dan aku tahu, saat ini dia pasti merasa syok begitu membaca nama yang terukir pada batu nissan di depannya.
Tidak ada sepatah kata pun yang Clara ucapkan, dia hanya sesegukan menangis. Bahkan kedua buah buket bunga itu masih berada dalam genggamannya. Belum dia letakkan di masing-masing makam.
“Mereka yang menyebabkan kekacauan di keluargaku selama ini. Dave yang tidak sengaja menembak Tika hingga dia harus melahirkan si kembar. Dan saat itu Tika dan Jefri hampir kehilangan si kembar. Lalu beberapa waktu lalu, Dana yang menculik mamah hingga Jefri harus tertembak,” jelasku padanya.
Clara bergeming, dia tetap mematung di tempatnya. Tentu saja masih dengan isak tangisnya sambil menatapi makam.
“Begitu tadi malam aku mendengar kamu dan temen kamu yang lain itu menyebutkan nama lengkap kedua kakak beradik ini, aku merasa memiliki kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya secepat mungkin. Karena aku tidak ingin ada salah paham di antara kamu dan juga keluargaku. Apalagi dengan Tika.” Aku kembali menambahi.
Perlahan aku menurunkan tubuhku, berjongkok di belakangnya lalu meremat pundaknya sambil menatapnya dari samping. Aku melihat suatu bagian lain dari diri Clara yang entah perasaan apa itu. Yang jelas dia terlihat kembali terpukul, hampir sama saat dia kehilangan bundanya. Hingga membuatku bertanya, seberapa besar dan pentingnya kedua saudara lelaki ini bagi calon istriku?
“Maaf ... aku gak menyangka, jika mereka berdua yang ternyata membuat onar. Aku ... aku ....” Clara kembali terisak lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku mendekatinya lalu mendekapnya dari belakang. Membiarkannya menangis sepuas-puasnya untuk saat ini. Karena besok dan seterusnya, aku akan berusaha untuk tidak membuatnya meneteskan air matanya lagi.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
__ADS_1
@bossytika 💋