Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 26


__ADS_3

Haikal POV (again).


Sialan!


Wanita ini terlalu bar-bar, pikirku.


Aku mencoba mengatur nafasku setelah tersedak. Memburu.


Dia perlu di beri pelajaran, pikirku lagi.


Ku tarik tangannya. Astaga!! Aku terlalu kencang menariknya sehingga tubuhnya jatuh diatas tubuhku. Ku pegangi ia agar tidak terjatuh ke lantai. Jantungku berpacu agak cepat.


Ku tarik dagunya hingga aku bisa menatapnya.


"Maaf." rengeknya pelan.


"Kenapa merona? Malu? Tadi waktu nyosor biasa aja deh perasaan." ucapku berusaha santai.


Dia terdiam menatapku. Jantungku kembali normal. Ia menggerakkan telapak tangannya yang sedari tadi menyentuh dadaku. Kali ini mataku dengan sempurna dapat melihat keindahan kulit mulusnya yang melekat pada tubuhku.


Sialan!!!


Sial! Sial!


Dengan spontan aku menjauhkan tubuhnya, membantunya agar dapat berdiri sempurna kembali.


Boomerang!


Aku menariknya ingin memberi pelajaran karena telah menodai bibirku yang perawan ini. Tapi dia malah terjatuh ke pangkuan ku hingga mataku mengagumi tubuhnya. Dan sekarang malah sepertinya dia yang menghukum mataku.


Sial! Sial!


Batinku.


"Nih kunci lu. Udah jam sebelas," ucapku menaruh kuncinya di atas meja.


Dia mengambilnya. Lalu berjalan ke kursinya untuk mengambil tas nya kemudian menuju pintu, tangannya sudah berhasil membuka pintu, lalu ia menoleh mendadak. Aku tertangkap mata ketahuan oleh nya memperhatikannya sejak tadi.


"Besok gua lanjutin lagi beresin berkas lu. Tolong jangan disentuh semuanya." tegasnya lalu pergi.


Aku menghembuskan nafasku lalu menyenderkan tubuhku pada sandaran kursi, lega.


Aku memejamkan mataku sebentar.


"Astaga! Siapa tadi nama nya?" pekikku beberapa saat kemudian teringat pada wanita itu sambil membelalakkan mataku.


Ku jambak rambut ku sendiri. Berkali-kali ku tarik.


"Sialan! Ayo fokus Kal. Sudah banyak tubuh pasien yang kau lihat setiap hari! Ini hal biasa, ini hal biasa.. Forget it! Forget it!" ucapku pada diri sendiri.


Tiba-tiba...


"Dokter, Dokter Ranti membutuhkan Anda di ruang UGD." seru seorang perawat yang membuka pintu ruangan ku tanpa permisi dan terlihat panik.

__ADS_1


Aku segera berlari menuju ruang UGD.


---------------------------


Jefri POV.


"Loh kok udah balik? Ga jadi check-up?" tanyaku.


"Haikal nya sibuk, trus disuruh balik lagi Senin." sahutnya cemberut.


Ku buang putung rokok ku. Lalu ku dekati dia. Ku elus perutnya.


"Kamu bulan ini belum Haid kan? Apa kita beli test pack aja dulu? Jaga-jaga aja sih kali aja kan...."


"Apaan sih, enggak-enggak. Aku ga mau pake yang gitu-gitu, gak akurat. Udah ah, ayo pulang." sewotnya berlalu masuk ke dalam mobil.


"Kamu gak mau makan dulu? Aku laper loh.." tawar ku saat di perjalanan.


Dia menatapku, "Makan sate abang-abang deket rumah Mamah ya?"


"Boleh. Ga papa nih sama bau asap nya?" tanyaku serius.


"Kan ada kamu, tinggal peluk ga kecium lagi deh bau asap nya." ucapnya ceria.


Sekilas ku lihat senyumnya di balik remang-remang lampu jalanan. Hingga mengantarkan kami ke tempat yang kami tuju.


"Bang, sate nya 2 porsi, pake lontong ya?" pesanku sambil mencolek bahu abang sate.


"Oh iya, eh si Abang sama si Eneng, udah lama atuh gak nongol dimari. Kemana aja?" logat betawi nya yang sudah mulai terkikis kemodernan kota.


"Iya Bang, sibuk kelonan jadi agak gak sanggup kalo mesti ke sini." Tika menambahi lalu di sahut dengan ledekan kecil khas Abang sate.


Kami duduk disalah satu meja. Catat : sekarang disini ada mejanya. Dulu waktu aku diajak Tika kemari, kami masih duduk makan di bagasi mobil. Ada kemajuan, pikirku.


Semenjak duduk hingga makan selesai, Tika selalu bergelut manja pada lenganku. Sesekali ia mencium lenganku dan menghirup aroma kaos ku. Dan sesekali ia juga mengecup pipiku, tanpa malu dan tanpa canggung melakukan itu di area public. Sedangkan aku hanya tersipu, tersenyum melihat tingkahnya.


Setelah selesai ku membayar makanan kami dan berpamitan dengan Abang-abang penjual sate, kami segera pergi memasuki mobil dan kembali menuju rumahku. Rumah Mama Alena, maksudku.


Tika tertidur saat kami sampai didalam garasi mobil. Aku menatapnya dibawah sinar lampu putih garasi yang terang benderang. Dia sungguh membuatku bahagia hingga detik ini, batinku.


"Sayang... Bangun... Sayaaanggg..." lirihku sambil mengelus pipinya.


Tika tidak juga terbangun dari tidurnya. Aku tersenyum lalu ku kecup bibir merahnya yang manis dan lembut. Ia terkekeh pelan.


Ku lepaskan bibirku dari bibirnya. Kemudian ia tersenyum menatapku. Ku cium daun telinganya hingga tengkuk lehernya. Ia terkekeh kembali sambil berkata minta ampun, karena kegelian.


Ia memelukku, membenamkan wajahnya dalam dekapanku lumayan lama.


"Lutut ku kram," lirihnya.


Aku tertawa kencang. Ia menggigit bahuku pelan.


"Aw!!!" candaku.

__ADS_1


Ku matikan mesin mobil. Ku buka pintu ku. Dia membiarkan ku keluar dari mobil. Ku cabut kunci mobil lalu dengan spontan ku tarik tubuhnya, ku angkat bagaikan kuli panggul.


"Heii tasku!" serunya.


Ku bukakan pintu belakang dan ku balik badanku.


"Sampai gak?" tanyaku, menyuruhnya menjangkau tasnya tanpa harus aku turunkan dia.


"Yaps!" sahutnya.


Lalu ku bawa dia masuk ke dalam rumah melalui pintu garasi yang terhubung ke dapur.


"Astaga Dul, Tika kenapa??" seru Mama yang langsung berdiri melihat ku berjalan melaluinya memanggul istri sendiri bak karung beras.


"Ga papa Ma, tenang. Iya kan sayang?" godaku sambil berjalan santai.


"Tenang, Ma, ga papa kok, lutut aku kram," sahutnya terbata akibat gerakkan langkahku.


Aku menaiki tangga perlahan.


"Hati-hati Dul! Nanti menantu Mama jatuh lagi!" seru Mama lagi menegurku.


"Mama, sudah ah, biarin mereka. Mereka lagi bersenang-senang," tegur Papa.


"Senang-senangnya apanya? Kalo Tika di gendongnya kayak gitu, Pa? Kalo jatoh gimana?" sewot Mama nyaring.


Aku tertawa geli mendengarkan perdebatan, Mama dan Papa, kemudian ku pukul bokong istriku sesaat sebelum memasuki kamar.


Plakk!!!


"Aww!!!" serunya.


Ku tutup pintu kamar lalu ku kunci. Ku lemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Itu mendesah apa kesakitan?" tanyaku sambil menyeringai.


Tika menggigit bibir bawahnya, "Keduanya," sahutnya dengan semyuman sensual nya.


"Masih sanggup gak?" tanyaku sambil melepaskan baju kaosku lalu menaiki tubuhnya.


Membuka kaosnya lalu menciumi perut ratanya.


"Sa-sanggup sih, ta-tapi geli." sahutnya terbata akibat sentuhan bibirku di perutnya itu.


Ku jatuhkan tubuhku di sampingnya. Aku mengambil nafas. Sembari membiarkan istriku beristirahat sejenak.


"Yaangg." panggilku.


"Hm?" sahut Tika.


Aku menoleh melihatnya yang masih memburu nafasnya. Lalu aku menyangga kepala ku dengan sebelah tanganku. Berbaring dengan tubuh menyamping.


Ku mainkan ujung jari telunjukku di wajahnya, mengelus pipinya, menekan ujung hidungnya, bahkan lalu memainkan bibirnya. Dia hanya terdiam sambil memejamkan matanya, mencoba mengatur nafasnya.

__ADS_1


Ku luruskan lenganku yang tadi menyangga kepala ku, lalu ku letakkan kepalaku disana. Sambil ku cium bahu istri ku dan tanpa sadar akhirnya kami tertidur hingga pagi menjelang.


__ADS_2