Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 186


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Tok tok tok!


“Permisi, Dok, jenazah telah siap.” Seorang perawat wanita mengetuk pintu ruanganku yang terbuka dan memberitahukan status jenazah dari ibundanya Clara.


“Terima kasih, tolong langsung serahkan kebagian ambulance dan katakan pada mereka untuk menunggu aba-aba dari saya,” perintah Dokter Brian di depanku.


“Baik, permisi, Dok.” Kemudian perawat itu pergi berlalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


Aku menghela napas lalu menundukkan wajahku, memandangi kedua jari jempolku yang sedari tadi aku mainkan seolah membersihkan permukaan kuku. Pikiranku sungguh kacau saat ini.


Beberapa jam yang lalu, dengan bangganya aku dapat menyelamatkan salah satu anggota keluargaku sendiri. Seolah bagai Tuhan, aku bisa membuat Jefri kembali menghirup segarnya udara di dunia ini.


Namun, secara tidak disangka, pada jam berikutnya aku harus menelan kenyataan pahit. Bahwa calon ibu mertuaku harus mengembuskan napas terakhirnya, di berbeda ruangan pada rumah sakitku ini. Sungguh ironis!


Dengan cepat Tuhan berkehendak, menggantikan rasa banggaku dengan sebuah rasa yang tidak dapat aku jelaskan. Apa ini yang dinamakan kesombongan dunia? Maka, jika benar rasa itu merupakan sebuah kesombongan, mengapa Tuhan menghadirkan sebuah rasa bangga?


Lagi-lagi aku menghela napasku dengan berat. Tenggelam dengan pemikiranku sendiri.


“Kal?” panggil Dokter Ranti, membuatku tersadar dari lamunanku.


Aku mengangkat wajahku lalu menatap kedua dokter yang masih saja duduk di depan meja kerjaku itu. "Ya, ada apa?” sahutku dengan lesu.


“Kamu mau di sini aja?” tanya Dokter Ranti lagi. Aku paham maksud dari pertanyaannya itu, hanya saja aku butuh tenaga lebih untuk menjalani hal ini.


Kemudian aku langsung berdiri menuju kamar mandi dan mengganti pakaianku di sana. Untuk sejenak, aku memandangi diriku sendiri dari panculan cermin. “Aku harus bersamanya,” gumamku sekali lagi lalu membasuh wajahku.


Begitu keluar dari kamar mandi, aku masih mendapati kedua dokter tadi. Masih berbincang di tempat yang sama sebelum aku meninggalkan mereka untuk berganti pakaian. Kemudian aku membuka laci meja kerjaku dan mengambil kunci mobil serta dompetku lalu berkata, “Kalian mau di sini aja? Kalo iya, aku bisa ke bawah sendiri dan bilang ke Adam biar dia yang handle UGD,” sindirku pada kedua dokter muda ini.


“Biar aku yang kasih tahu Adam,” tawar Dokter Ranti lalu pergi sedangkan Dokter Brian masih tetap bertahan di posisinya.

__ADS_1


“Tolong kasih tahu supir ambulance buat nunggu. Biar aku sendiri yang antar jasadnya.” Dokter Brian mengangguk lalu pergi. Sedangkan aku langsung melangkah menuju ruangan pasca operasi, untuk menemui Tika dan juga Jefri di sana.


**


Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tika dan juga Jefri belum tertidur saat aku memasuki ruangan mereka. Keduanya masih terlihat bercengkerama bersama, lalu aku mengabarkan berita duka ini pada mereka berdua.


“Kami turut berduka, Kal.” Tika langsung berdiri dan memelukku.


Tak lama kemudian aku berpamitan pada mereka berdua, sebab aku akan mengantarkan jenazah itu. Aku juga mengatakan bahwa akan mengurus ruang rawat inapnya, agar kedua orang tua Jefri dapat menjenguknya.


Setelah dari sana, aku meminta salah satu perawat untuk mengurus kepindahan ruangan Jefri sesuai dengan prosedur rumah sakit. Kemudian keluar untuk menemui semua keluargaku.


Mamah yang lebih dulu menghampiri begitu aku keluar dari balik pintu ruangan operasi. “Loh, ada apa? Kenapa kamu sendu begitu? Jefri gak apa-apa, 'kan?” Mamah terlihat panik, diiringi dengam gerakan spontan yang lainnya untuk segera melayangkan kedua bola mata mereka dalam memandangiku.


“Jefri baik-baik aja, sebentar lagi dia di pindahin ke ruang rawat inap. Kalian bisa menjenguknya, lalu sebagian pulang saja, biar dia juga bisa beristirahat.” Aku memberikan saran pada mereka hingga membuat mereka mengembuskan napas lega.


Kemudian aku memandangi mamahku dan meraih tangannya. Wajah mamah terlihat bingung sesaat setelah dirinya berpelukan dengan ibunya Jefri. Aku membawa mamah sedikit menjauh dari euforia keselamatan Jefri lalu mengatakan bahwa ibunda dari tunanganku, telah tiada.


Mamah sontak berseru terkejut lalu menutup mulutnya, dengan salah satu telapak tangannya yang melepaskan genggamanku. Membuat yang lainnya tersadar akan kehebohan yang mamah hasilkan.


Untuk sepersekian detik kemudian, Max menggoyangkan tubuhku lalu bertanya dengan apa yang telah terjadi. Mamah mengatakannya. Semua terkejut saat mendengarnya.


Pasalnya, baru beberapa hari yang lalu rasanya kami semua berkumpul di rumahku, saat aku dengan percaya dirinya meminangnya sekali lagi untuk menjadi pasangan hidupku. Lalu saat ini, aku membawa kabar jika beliau telah tiada saat beberapa jam yang lalu.


“Aku mau mengantarkan jenazahnya dan mungkin akan berada di sana hingga prosesi pemakaman selesai.” Aku meminta izin kepada mamah dan juga Max.


“Mamah ikut kamu ke sana sekarang,” lirih mamah yang kemudian sekali lagi memelukku. “Jeng, gak apa-apa 'kan ya saya tinggal? Besok saya ke sini lagi,” mohon mamah dengan keluarga Jefri.


“Iya gak apa-apa, kami turut berduka. Sampaikan salam kami pada Clara dan ayahnya. Dan kamu, harus kuat dan sabar ya.” Beliau mengusap pelan pundakku. Aku hanya tersenyum tipis.


Kemudian Max juga memutuskan untuk ikut bersamaku. “Sini kunci mobilnya,” pinta Max. Aku menyerahkannya. Kami bertiga bergegas pergi, melangkah ke arah basement dari rumah sakit ini untuk mengambil mobilku.


“Kamu pergi aja ikut ambulance, biar mamah sama aku. Kami ikutin dari belakang,” saran Max yang aku setujui dengan anggukan kepalaku.


Dalam perjalanan, aku meminta mereka untuk tidak menyalakan sirine sebab saat ini waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak sopan jika sirine dibunyikan. Sesampainya di rumah Clara, kondisi sekitaran rumah itu sudah lumayan ramai. Mungkin keluarga mereka telah diberitahukan.

__ADS_1


Para pekerja ambulance segera memgeluarkan jenazah dan mengangkatnya lalu membawanya ke dalam rumah. Agar anggota keluarga yang lain bisa melakukan prosesi penghormatan terakhir untuk beliau sebelum dimakamkan.


Tadinya aku sedikit takut untuk masuk ke dalam rumah itu, apalagi begitu mendengar suara tangisan Clara yang pecah begitu saja. Hingga akhirnya Max menepuk pundakku. Membawaku dengan paksa untuk masuk ke dalam.


Dengan langkah yang tertatih tak kuat dan air mata yang sudah berhasil jatuh membasahi kedua pipiku, serta kedua telingaku yang tidak ada hentinya mendengar raungan Clara. Hingga akhirnya aku melihat semua kesedihannya.


Dia menangis meringkuk dalam dekapan mamahku sambil memandangi jenazah bundanya. Tidak akan ada seorang pun yang tidak menjatuhkan air matanya di saat seperti ini. Apalagi begitu melihat Clara yang begitu terpukul dengan kepergian bundanya yang seperti ini.


“Kenapa Bunda ninggalin aku?! Kenapa Bunda tega biarin ayah sendiri?! Kenapa Bunda gak mau berjuang bersama?! Aku cuman punya Bunda ... aku mau sama Bunda ...,” racau Clara yang tertahan dengan dekapan mamah dan juga disela tangisannya.


Air mataku pun tidak ada henti-hentinya, terus saja mengalir membasahi pipi. Berkali-kali sudah aku menghapusnya hingga aku rasa percuma dan aku biarkan berlinang begitu saja. Perse*an! Dengan orang yang melihatku menangis saat ini. Karena dalam situasi ini dan di posisiku saat ini, tidak mungkin bisa aku bersikap tegar. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan, selain membiarkan Clara menumpahkan perasaannya.


Untungnya Max ada menemaniku saat ini. Menguatkanku walau hanya dengan sebuah elusan tangannya pada pundakku. Namun, aku rasa itu cukup membuatku tenang. Hingga tiba-tiba Clara pingsan akibat kehabisan napasnya karena menangis.


Semua panik, aku langsung mengangkatnya, lalu ayahnya menyuruhku untuk membawanya masuk ke kamarnya, merebahkannya di atas tempat tidur. Aku memeriksa tubuhnya yang terasa dingin. Ya, sekujur tubuhnya terasa dingin membeku.


Aku berlari menuju mobilku setelah sebelumnya meminta kuncinya kepada Max lalu membuka bagian bagasi, mengambil peralatan periksa untuk darurat. Kemudian kembali memeriksa denyut nadinya yang lemah lalu aku siapkan tabung oksigen darurat untuknya.


Semua peralatan ini memang sudah lama aku sediakan di dalam bagasi mobilku, bukan tanpa sengaja. Semuanya aku siapkan sehari setelah aku mengetahui kondisi Clara yang mengidap penyakit asma. Aku takut, jika saat bersamaku dan penyakit itu kambuh, aku tidak dapat menolongnya.


Bahkan aku mempelajari semua tentang cara penanganan pertama jika Clara jatuh pingsan. Seperti sekarang ini.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Carany, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.


Terima kasih 💋


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2