
Still Haikal POV.
Aku kembali ke ruang kerjaku setelah selesai mengantarkan makan siang untuk ayahnya Clara. Beliau bercerita banyak tentang anak gadisnya itu. Anak satu-satunya yang menjadi kebanggaan beliau dari kecil hingga sekarang.
Gadis yang juga manja dan tidak pernah terlihat membawa pasangannya ke rumah, apalagi sampai mengenalkan seorang lelaki dengan ayah dan bundanya. Makanya pada saat aku muncul, beliau sempat merasa khawatir, takut anak semata wayangnya itu hanya dipermainkan saja.
Namun untungnya, aku berani muncul saat mengajak Clara untuk dinner dan saat itu aku juga berani berbicara langsung pada beliau. Meminta izin membawa anaknya untuk makan malam.
Harus aku akui, jauh sebelum makan malam itu terjadi, hatiku memang sudah memiliki sedikit ketertarikkan padanya. Bukan karena di awal pertemuan aku sempat melihat salah satu bagian tubuhnya, tapi memang karena ... entahlah. Aku juga masih bingung dengan alasan ketertarikkanku ini.
Benar apa kata Tika tempo hari, saat kami saling bercerita. Mungkin aku sebenarnya sadar hanya saja aku tidak mau menyadarinya di depan Clara. Ya, aku jatuh cinta padanya dan aku ingin memilikinya.
Kali ini aku tidak ingin hanya menjalani hubungan yang tidak jelas arah dan tujuannya, apalagi jika hanya sekedar untuk status 'berpacaran'. Terlalu kekanak-kanakkan.
Lagipula aku rasa, aku mampu dengan umurku yang sudah cukup untuk membina sebuah rumah tangga. Aku hanya perlu modal nekat untuk itu.
Apa sebaiknya nanti sore aku menyatakan perasaanku?
Bagaimana jika ia menolaknya?
Bagaimana jika ternyata ia tidak merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan?
Astaga! Ke mana larinya jiwa pemberaniku? Masa untuk menyatakan perasaan saja aku harus sebimbang ini. Aku mengacak-ngacak rambutku dengan gusar.
Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu ruanganku, ternyata Adam. Aku mempersilakannya masuk dan duduk. Lalu ia memperlihatkan laporan perkembangan dari pemeriksaan medis bunda Clara tadi pagi.
Dari yang kulihat, semua sudah nampak membaik dan bisa dikatakan ini merupakan kabar baik untuk Clara dan ayahnya. Dan lagi, Adam juga mengatakan bahwa ia dan dokter yang menangani bunda Clara itu telah sepakat, jika beliau sudah boleh pulang besok.
Aku turut senang mendengar kabar itu, sesaat.
Adam pergi dari ruanganku, menuju ke kamar orangtua Clara untuk memberitahukan hasil lapora tersebut. Dan seketika itu pula, hatiku terasa sedih.
Senang bercampur sedih. Sebab di satu sisi, aku senang karena bundanya kembali sehat dan dapat beraktivitas seperti biasanya lagi. Tapi di sisi lain, aku sedih, sebab aku akan kekurangan alasan untuk bertemu Clara ataupun bertemu dengan kedua orangtuanya.
Masa aku harus selalu berkunjung ke rumahnya?
Aku semakin pusing memikirkan ini. Sepertinya memang benar niat awalku tadi, aku memang harus menyatakan perasaanku padanya secepatnya, sebelum semuanya terlambat.
__ADS_1
Sebelum otakku semakin berpikiran yang aneh-aneh lagi seperti tadi.
***
Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore, saat aku melirik jam tangan milikku. Aku segera membereskan beberapa pekerjaanku. Beberapa lembar kertas yang berserakkan di atas meja.
Jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang, aku mencoba membuatnya lebih santai dengan cara bersiul-siul. Mengikuti irama dari lagu Maroon 5 berjudul Sugar.
Kemudian aku bersiap. Mengganti pakaianku dengan yang lebih santai, seperti kaos oblong dan celana jeans panjang. Untung saja ada beberapa pakaian yang tersimpan di dalam lemari kantor ini.
Sekali lagi aku mengecek penampilanku di depan cermin. Sudah sempurna menurutku.
Kemudian aku segera menemui kedua orangtuanya. Mungkin akan lebih mudah jika aku meminta izin kepada mereka terlebih dahulu, sebelum aku mengatakan perasaanku ini pada Clara.
Mereka terlihat berbincang ketika aku datang menemui. Terpancar aura kebahagiaan dari wajah mereka, saat sang suami menanyakan, apakah benar istrinya sudah boleh pulang besok siang?
"Iya, tentu aja boleh, Om. Rekan saya sudah mengabari 'kan tadi? Kesehatan tante sudah mulai membaik, malahan sangat cepat. Tapi tante tetap diwajibkan untuk check-up minimal sebulan sekali ya?" Aku mencoba memberi penjelasan kepada mereka tentang jadwal check-up.
Bahkan tidak hanya itu saja, aku juga wajib mengingatkan pasien sekali lagi tentang beberapa pola makan untuk pasien yang menderita penyakit Asma. Yang mana yang harus di hindari dan yang mana yang wajib dilakukan.
Aku juga menyarankan pada ayah Clara, agar secepatnya membeli tabung oksigen portable untuk berjaga-jaga. Sebab inhaler saja tidak cukup untuk menanggulangi serangan Asma yang pernah terjadi pada istrinya.
Saat aku mengutarakan maksud isi hatiku kepada mereka, saat itu pula aku melihat ekspresi dari keduanya. Sang istri langsung meraih lengan suaminya lalu mencengkram erat. Lalu sang suami hanya terperangah menatapku sambil mengeryitkan dahinya.
Tadinya aku berpikir mereka akan bahagia begitu mendengar niat tulusku ini. Tapi ternyata aku salah, ekspresi terkejut mereka seperti sudah menjadi sebuah jawaban bagiku. Jawaban yang begitu menyakitkan.
"Kamu serius?!" Ayah Clara bertanya sekali lagi padaku dengan penuh penekanan. Matanya masih saja membulat, terbelalak seakan tidak percaya dengan ucapanku.
"Saya serius Om, Tante. Saya jatuh hati pada Clara. Dan saya tidak main-main jika tentang perasaan," jawabku lantang, penuh keyakinan.
Butuh waktu lama aku menunggu kepastian dari mereka, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit.
Ya benar, aku memang terus-menerus melirik jam tanganku. Sebab setelah mendapat restu dari kedua orangtuanya ini, aku ingin membawa anak mereka ke suatu tempat. Tempat dimana aku bisa menyatakan perasaanku padanya.
Semenit ...
Dua menit ...
__ADS_1
Kurasa, tatapan mereka sangat mengintimidasiku saat ini. Membuat jantungku kembali berdegup dengan kencang, tidak beraturan. Aku gugup menunggu jawaban dari mereka.
Keringat dingin mengucur pada punggung belakangku. Mungkin di dahiku juga telah muncul keringat. Padahal dapat aku rasakan jika suhu AC dalam ruangan ini sudah cukup dingin, bahkan terlalu dingin bagiku.
Mungkin aku salah tingkah.
Ayahnya berdehem. Bundanya menghela napas. Kemudian mereka saling berpandangan sejenak. "Sudahlah, putri kita sudah besar. Biarkan dia menentukan sendiri jalan hidupnya. Lagi pula, anak ini sudah membantuku."
Aku yang mendengar kalimat akhir yang diucapkan oleh bundanya, merasa tidak adil. Seolah mereka akan menerimaku karena keterpaksaan. Merestui aku bersama putri cantiknya hanya karena ingin membalas jasa.
Cara itu terlalu rendahan menurutku. Tidak terhormat dan aku bukan type lelaki yang seperti itu.
"Saya seperti ini karena tulus jatuh hati pada Clara. Bukan ingin memanfaatkan keadaan. Bukan pula untuk mencari kesempatan. Bahkan om dan tante tahu, sebelum kejadian ini, saya juga sudah mengajak Clara dinner. Itu artinya saya sudah sejak lama menyimpan hati untuk putri kalian. Tapi jika om dan tante setengah hati menerima saya, akan lebih baik jika saya yang mundur. Daripada nantinya saya dianggap sebagai lelaki pemberi harapan palsu."
Emosiku memuncak, tapi masih bisa aku atasi, mengingat niat awalku untuk meminta izin kepada pemilik sang wanita cantik yang selalu mengusik pikiranku.
Namun lagi-lagi tatapan mata dari ayah Clara membuatku semakin menjadi salah tingkah. Ada sedikit rasa takut saat aku mencoba kembali menatap beliau, tapi ada pula sedikit rasa kesal dengan tatapan itu. Sedangkan bunda Clara, salah satu tangannya kembali menyentuh pundak sang suami.
Aku mencoba mengatur napasku sekarang. Mencoba kembali menormalkan detak jantungku. Akan tetapi, secara tiba-tiba kedua orangtua Clara ini malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan tawa mereka menggema, memenuhi setiap sudut ruangan ini.
Sedangkan aku?
Aku tiba-tiba bingung melihat mereka.
Melihat tingkah mereka yang sekejap berubah seratus delapan puluh derajat.
Bagaimana bisa aku memahami tingkah mereka, jika mereka terus saja tertawa. Jika sudah berhenti, kemudian kutanyakan ada apa, mereka kembali tertawa lagi.
Hingga akhirnya, mereka mencoba menenangkan diri sendiri, masing-masing. Lalu berkata, jika sebenarnya dari awal mereka sudah mengetahui gelagatku yang ingin mendekati anak mereka.
Bahkan mereka juga melihat sikap yang sama yang di tunjukkan oleh putri cantik mereka itu terhadapku. Sampai pernah satu waktu mereka mendengar Clara yang mengigau menyebutkan namaku.
Sejak saat itu mereka yakin bahwa anak mereka itu sudah bukan seorang anak gadis lagi, tapi seorang wanita dewasa.
Semua itu mereka katakan padaku lalu mereka juga memberikan izinnya agar aku dapat menjalankan niat baik ini.
Bahagia, itu yang aku rasakan saat ini. Sampai aku tidak tahu harus berkata apa lagi kepada mereka. Hanya sebuah pelukkan terima kasih yang dapat aku berikan pada mereka secara bergantian.
__ADS_1
Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini. Padahal masih ada satu lagi langkahku untuk merasakan sebuah kesempurnaan hidup. Hanya saja rasa bahagia di hatiku saat ini seolah mampu menutupi rasa gugupku untuk menemui Clara.
Bersambung ...