
Tika POV.
Aku beranjak membersihkan bekas makan Jefri tadi. Sedangkan dia langsung meminta izin untuk keluar, hanya ke halaman parkir untuk sekedar merokok. Aku mengizinkannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Mama pelan saat Jefri baru membuka pintu kamar.
"Ngerokok, Ma. Kenapa?" jawab Jefri saat menoleh.
"Kurang-kurangin ngerokoknya!" tegas Mama lalu kembali duduk disofa.
Aku hanya menoleh melihat Mama, Jerry dan terakhir Jefri secara kilas. Jefri tanpa menjawab, langsung keluar dan menutup pintu kamar. Aku kembali membersihkan meja.
"Ma, jangan gitu, dia tertekan loh!" ucap Jerry.
Aku mendengarkan sambil terus melakukan apa yang memang harus aku lakukan saat itu.
"Kan rokok memang gak baik buat kesehatan, tu liat Papa kamu, mau nanti begitu juga?" balas Mama pada Jerry.
"Ya enggak lah, Ma! Lagian Mama ada-ada aja deh. Dia tadi bilang mau ngurusin perusahaan aja udah untung, Ma. Kemajuan besar!" protes Jerry.
"Ya itu memang sudah kewajiban dia. Kan dia kakak kamu."
"Iya, Ma, iya. Tapi Mama tau sendirikan prinsip dia kuat?"
"Dan akhirnya dia mengalahkan?" jawab Mama santai.
"Terserah Mama deh! Aku cuman minta satu aja dari Mama, jangan ngelarang dia buat ngerokok. Biarin aja." saran Jerry sambil berdiri kemudian berjalan keluar dari kamar (juga).
Aku menghembuskan nafas kasar, saat mencuci sendok dan gelas di washtafel. Kenapa jadi tiba-tiba serem begini suasana mereka, batinku.
Selesai urusanku di washtafel, aku kembali menuju ke sofa. Papa masih tidur pulas, begitupun Nita dan Jordy. Sedangkan Mama menyenderkan punggungnya, sambil memejamkan mata mendongak ke atas, memikit pelan pelipis matanya. Aku mendekatinya.
"Kenapa, Ma?" tanyaku seraya duduk disampingnya.
Mama membuka matanya, kemudian menatapku. Menegakkan tubuhnya. Meraih tanganku dan mencengkramnya.
"Makasih ya, kamu sudah mau bujuk Dul buat memimpin perusahaan," lirih Mama.
Aku heran, "Bukan aku yang bujuk, Ma. Tadi di rumah emang sempet bahas, tapi aku tau prinsip dia kuat. Dia juga paling gak suka kalau aku gak dukung dia. Jadi aku...."
"Dia yang merubah prinsip Dul--" ucap Mama sambil meletakkan telapak tangannya pada perutku, "kamu sudah ngasih tau Dul kan kalo kamu hamil?"
Aku terkejut setengah mati.
Yang mengetahui aku hamil hanya Papa, dan dengan Jefri aku baru saja memberitahukannya saat dirumah. Tidak mungkin rasanya jika Mama mendengar saat aku berbicara dengan Papa tadi siang.
"Ma-ma kok tau aku hamil?" tanyaku mulai gugup.
Mama tersenyum, kedua tangannya mengelus kedua pipiku dan membekapnya dengan telapak tangannya, "Papa yang kasih tau tadi sore, setelah kalian pulang."
Spontan aku memeluk Mama mertuaku ini. Sudut mataku mulai dibanjiri dengan buliran airmata.
__ADS_1
"Dia yang meruntuhkan prinsip suami kamu, dia yang membuat Dul berpikir untuk lebih luas lagi," ucap Mama sambil membelai punggungku.
"Mungkin, Ma. Semoga aja itu benar. Dan semoga ini yang terbaik untuk semuanya," lirihku pelan.
Kami saling melepaskan pelukan. Aku mengusap airmata yang masih menempel di pipiku. Mama menatapku tersenyum bahagia. Membantuku mengusap bekas airmata di pipiku.
"Kalian kenapa?" sapa Nita yang muncul dari belakang Mama.
"Ini, Tika hamil, Nak!" info Mama pada Nita yang terbangun dari tidurnya.
"Serius?" Nita terkejut.
"Ssstt, nanti Papa sama Jordy bangun," tegurku.
"Ups, sorry! Jadi beneran? Udah periksa?" tanya Nita sambil duduk di sebelahku.
"Belum, baru tadi pagi pakai testpack," sahutku lalu tersenyum pada Nita.
"Dul udah tau?" tanya Nita lagi.
"Udah, tadi waktu di rumah dikasih tau."
"Trus trus?"
"Ya, happy. Dia seneng, seneng banget malah."
"Syukurlah. Kehadiran kamu benar-benar membawa perubahan besar untuk Dul, dan sekarang bayi ini mampu merubah prinsip Dul sepenuhnya," ucap Mama bangga.
"Pasti, Mama sama aku pasti bantu kamu," sela Nita sambil merangkulku dari samping.
Aku bersyukur, keluarga Jefri sangat baik dan sayang padaku. Mereka sangat memperhatikanku, bahkan Mama dan Papa, mereka menganggapku seperti anaknya sendiri.
Sebenarnya aku sempat terkejut dengan jawaban Jefri tadi, tentang keputusannya untuk bersedia mengambil alih perusahaan Papa. Apa lagi saat di rumah kami sempat bersitegang membahas itu. Belum lagi rahasia Max yang aku sembunyikan dari Jefri dan keluarganya.
Jika memang benar calon bayi ini yang merubah pola pikirnya, berarti aku sangat beruntung.
Beruntung karena bayi ini hadir dalam rahimku, dan beruntung karena ia bisa merubah pola pikir Jefri yang begitu kuat.
"Trus rencana kapan kamu mau periksa ke dokter?" tanya Mama membuyarkan lamunanku.
"Mungkin nanti dulu, Ma. Tunggu keadaan Papa lebih baik," jawabku.
"Loh kamu harus cepet periksa, biar bisa ngasih asupan yang benar untuk anak kamu. Papa biar Mama yang urus."
"Ga papa, Ma. Lagian besok aku udah masuk kerja lagi. Aku ga bisa izin full seharian lama-lama."
"Kamu harus jaga kandungan kamu, ini masih masa rentan buat aktivitas berat. Kamu gak boleh terlalu capek." Mama mulai cerewet.
"Iya, Ma."
"Trus, besan Mama udah tau berita ini?"
__ADS_1
"Belum. Kalian yang pertama tau." Aku terkekeh pelan.
"Waduh, seriusan?" seru Nita.
"Iya, serius. Tadi chatan cuman bahas kondisi Papa aja," jawabku.
Mama meraih lenganku, membuatku menoleh lagi padanya, "Besok kamu harus kabarin Mamah kamu, jangan lewat telepon, ajakin Dul sekalian kesana."
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, Jefri masuk diiringi dengan Jerry di belakangnya.
"Ada apa ini? Kok rame?" tanya Jerry.
"Jordy bakalan punya adek!" ucap Nita kegirangan.
Aku dan Mama hanya tersenyum-senyum, melihat tingkah Nita.
Jerry menyenggol kakaknya, "Bener?"
Jefri mengangguk santai, kemudian duduk di sofa. Tidak menghiraukan lagi Nita yang berdiri dan asik menjelaskan ceritanya dengan Jerry.
"Kamu harus cepet-cepet bawa Tika periksa di dokter loh, buat minta vitamin sekalian," saran Mama sambil meraih gelas di meja untuk minum.
"Iya, Ma. Besok ngurusin Papa dulu. Nemunin Dokter Farhat, belum lagi liat kondisi Papa."
"Istri kamu lebih penting," singkat Mama.
Aku menoleh pada Mama dan Jefri secara bergantian, "Ga papa kok, Ma, santai aja, semua masih bisa diselesein satu-satu," sela ku.
Aku tidak enak melihat Ibu dan anak ini mulai berbeda pendapat. Sejak tadi pun Mama menanggapi segala halnya dengan begitu tegas. Serius dan menusuk. Ya, menusuk, hampir semua kalimatnya malam ini mengena dihati. Entah Jefri merasakannya atau tidak. Yang pasti, aku merasakan itu.
Belum pernah aku melihat Mama yang seserius ini. Atau mungkin, ini hanya perasaanku saja. Sejak kami datang Mama bersikap seperti itu pada Jefri, tapi tidak padaku tadi.
"Kamu gak ngantuk?" tanya Jefri padaku, sesaat setelah Mama berdiri lalu duduk disamping ranjang Papa.
"Belum, kenapa?"
"Aku baring disini boleh?" izinnya sambil menyentuh pahaku.
Aku mengangguk, kemudian aku menggeser dudukku ke ujung sofa. Lalu Jefri mengangkat kakinya, menekuknya kemudian di letakkannya perlahan kepalanya di atas pangkuanku.
Ia berbaring menyamping, membelakangi ku, menghadap pada Papa dan Mama. Kemudian tangan kanannya meraih tangan kiriku, menggenggam erat.
Ku elus pipi kanannya dengan tangan kananku, "Kalo kamu mau tidur, ga papa, biar aku yang tungguin Papa sama Mama.
Perlahan mata Jefri mulai menyipit dan akhirnya terpejam. Dia tertidur.
Satu persatu mulai tumbang. Jerry lebih dulu berpamitan untuk tidur. Kemudian Mama yang tak sengaja tertidur dengan setengah badannya bertumpu pada ranjang Papa. Yang terakhir baru Nita, berpamitan tidur di kasur lipat yang memang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Ku lirik jam di ponselku, waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Semua sudah tertidur, mataku pun perlahan mulai sayup-sayup. Namun masih saja ku paksakan mataku untuk bemain dengan ponselku. Melihat-lihat aplikasi Instagram. Sampai akhirnya aku, tertidur juga.
__ADS_1
-------------------------