
Jefri POV.
Akhirnya aku bisa menyiapkan semua ini untuk istriku. Semua sengaja aku siapkan, bahkan dengan bantuan bosnya. Bukan tanpa alasan pesta ini aku buat, tapi memang karena pesta ini memiliki maksud dan tujuan untuk rencanaku ke depannya.
Aku juga sudah membicarakan tentang keinginan resign-nya itu pada bos-nya. Beliau sangat terkejut dan sangat menyayangkan. Sebab Tika adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaannya.
Dulu sebelum kami menikah, Tika banyak meloloskan proyek-proyek besar untuk perusahaan. Bahkan berkat keahliannya dalam berbicara, tak jarang anak-anak para pejabat negara yang menikah, menggunakan jasa Event Organizers dari perusahaannya.
Banyak pula para perusahaan hotel yang menggunakan jasa design perlengkapan alat kamar, yang bekerja sama dengan perusahaan bos-nya. Semua itu berkat kerja kerasnya.
Oleh karena itu, bos-nya sangat menyayangkan jika Tika memutuskan untuk resign. Tapi aku juga tidak ingin seperti mengambil alih keputusan, semua masih kuserahkan kembali pada Tika. Dia yang berhak memutuskan ke depannya akan seperti apa.
Namun, setiap aku memiliki waktu bicara berdua dengannya, dia selalu mengatakan ingin berhenti bekerja. Alasannya bukan karena letih bekerja di saat sedang mengandung, melainkan karena teror hadiah yang selalu saja dikirimkan oleh mantannya, Dana.
Hampir setiap hari Dana mengiriminya hadiah. Berbagai macam jenis dari merk ternama. Dan itu semua hanya dikirimkan ke kantornya. Mungkin dia belum tau alamat rumah kami. Atau mungkin dia enggan mengirimnya ke rumah, karena ada aku.
Tidak hanya itu saja alasan Tika ingin resign. Alasan lainnya karena kecurigaannya pada salah satu CCTV di kantornya yang kemungkinan telah di retas oleh Dana. Sebab pernah satu waktu, Dana menelepon dan dia mengetahui detail pakaian yang sedang digunakan Tika.
Dan benar saja, saat aku mencoba mencari tahu lalu membuktikannya dengan bantuan anak buah pak Hardi dan bos-nya sendiri tentunya. Ada dua CCTV yang telah di retas. Kami lumayan terkejut, artinya keselamatan Tika sungguh menjadi ancaman besar.
Namun aku memiliki rencana yang lebih matang. Karena biasanya, orang seperti Dana akan tidak sanggup jika melihat kemesraan antara aku dan Tika. Kemesraan di antara rencananya menggoyahkan hubungan kami. Dan acara ini adalah salah satu cara aku untuk memancingnya keluar.
Dan aku menginginkan, dia yang memulai melakukan kesalahan padaku, akibat kekesalannya melihat kemesraan kami berdua. Semoga saja rencana ini berhasil.
Aku memasuki ruangan yang penuh dengan rekan kerjanya. Kuedarkan pandanganku mencari sosok istriku. Yap, ketemu! Dia sedang asyik berbincang dengan bos-nya.
"Hai, pak Jefri!" seru bos-nya saat melihatku, membuat Tika menoleh lalu melongo padaku. Aku tersenyum, lalu kukecup pipinya.
Aku tahu, Tika pasti akan terkejut jika melihatku. "Kok kamu?" ucapnya terputus. Dan lagi-lagi aku hanya tersenyum menatapnya sambil merangkul pinggangnya.
"Sejak kapan bos panggil dia 'bapak'? Bukannya sebelumnya biasa aja?" Mungkin Tika bingung mengapa tiba-tiba bos-nya memanggilku dengan sebutan bapak.
Kemudian bos-nya mulai menjelaskan bahwa client yang akan ditemui tadi adalah aku. Sebab project terakhirnya adalah men-design ruangan kantorku. Jika cocok maka akan berlanjut untuk design perusahaan papa yang aku ambil alih.
Selain itu, rencana ini dibuat atas saran dari pak Hardi, agar aku juga bisa membawa Tika untuk menemaniku liburan beberapa hari ke depan. Jadi dia tidak perlu meminta izin pada bos-nya. Sebab jatah untuk cuti telah habis digunakan.
Cemerlang bukan?
Ini yang namanya KKN saling menguntungkan. Tidak ada yang dirugikan sama sekali.
Oleh karena itu, bos-nya menyetujui rencana ini. Tapi untuk rencana memancing Dana keluar dari tempat persembunyiannya, tidak ada yang mengetahui ini selain aku dan pak Hardi. Dan kemungkinan, Max akan aku beritahu.
Sebab untuk saat ini, semua masih menggunakan uang tabunganku. Tidak bisa aku menggunakan uang perusahaan papa, sebab aku belum menjabat. Lagi pula, perusahaan papa juga sedang dalam masa kritis.
Pikiranku sangat kacau. Terlalu banyak masalah pelik yang bermunculan. Tapi sebelum menghadapi itu semua. Aku hanya ingin berlibur lima hari saja, berdua dengan istriku. Bersantai sebelum bergelut dengan rencana yang pelik.
"Ooh, jadi kamu client-nya yang sok-sok-an gak mau ngasih nomer telepon? Gak mau kasih nama juga?" Tika mengalungkan kedua tangannya di leherku. Sedangkan bos-nya segera berpamitan, ingin berbaur menyapa rekan kerja lainnya.
__ADS_1
Kukalungkan pula tanganku pada pinggangnya. Lalu kami saling menatap, dia mengecup bibirku di tengah kerumunan rekan-rekan kerjanya. Tanpa malu.
Lagi pula untuk apa kami malu, bukannya kami sepasang suami-istri?
Aku terkekeh geli melihat tingkahnya.
Terpancar aura bahagia dari raut wajahnya. Dia selalu tersenyum, dari awal kemunculanku hingga sekarang.
Di tengah acara, dia sendiri bahkan mengumumkan jika akan resign dalam beberapa bulan ke depan. Alasan yang dia sampaikan sepenuhnya karena kehamilannya, dia ingin benar-benar full merawat anak kami nanti.
Aku tidak menghalanginya saat mengumumkan itu, karena itu juga keinginan hati kecilku. Aku tidak ingin anak kami nantinya di rawat oleh orang lain, maksudku oleh babysitter.
"Kamu yakin mau resign?" tanyaku setelah acara selesai.
Dia mengangguk pasti. Tapi aku terus menatapnya yang sedang menyantap Strawberry cake. "Tapi kalau ke depannya kamu bosan, gimana?" tanyaku lagi.
Dia balas menatapku. Terlihat seperti berpikir, lalu dia kembali menatap sepiring cake-nya. Masih terlihat berpikir. Kemudian bahunya terangkat. "Entahlah...."
***
Selepas dari sana, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tika langsung memilih pulang bersamaku setelah berbincang sejenak dengan bos-nya.
Dan di saat yang bersamaan pula, ponselnya ada di dalam tas, yang sengaja di titipkannya padaku berdering.
πΆ
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
πΆ
Kuambil ponselnya itu dan yang menelepon dari 'Unknown Number'
Awalnya niatku tidak mau menerima telepon itu, tapi ternyata rasa penasaranku lebih besar. Hingga jempolku langsung menggeser tanda hijau di layar itu.
Aku dengarkan suara di seberang sana, seorang lelaki. Dia mengatakan bahwa dia merindukan belaian jemari Tika. Menantikan kebersamaan lagi berdua, lalu dia juga seakan mendongengkan kisah masa lalu. Ya, masa-masa yang dia lewati dengan Tika.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Tika menghampiri dan mengajakku pulang. Namun sempat ia menanyakan siapa yang menelpon tapi kucegah ia untuk bersuara dan membawanya segera ke mobil.
Saat di dalam mobil, langsung ku aktifkan mode speaker. Kami mendengarkan Dana yang bercerita, mengisahkan awal pertemuannya dengan Tika.
Dia terus saja mengoceh, sedangkan Tika hanya diam saja dengan wajah yang ditekuk. Kemudian entah mengapa Tika tiba-tiba memutuskan sambungan telepon itu.
"Loh kenapa?" seruku.
__ADS_1
"Aku muak. Lagian ngapain sih dengerin begituan." Tika mengomel panjang lebar setelah itu. Aku diam sejenak sambil mendengarkannya, dengan sambil melajukan mobil menuju pulang ke rumah.
Aku tahu, Tika pasti merasa kesal padaku. Karena aku mau-maunya memdengarkan celotehan tidak penting dari Dana. Aku tahu betul.
Sebenarnya aku juga merasa kesal. Mengapa ada lelaki seperti itu yang masih saja mengganggu istri orang lain. Padahal, Tika sudah berkali-kali menjelaskan bahwa dia sudah tidak tertarik lagi pada lelaki itu.
Namun sepertinya lelaki itu terlalu percaya diri. Bahkan tadi dia sempat mengatakan, jika sampai saat ini dia merasa bahwa istriku masih menjadi kekasihnya. Bodoh.
Aku pikir tidak akan ada orang ketiga di antara mahligai pernikahan kami. Bahkan aku pikir tadinya, Paula yang akan menganggu kami, tapi ternyata tidak, atau mungkin ... belum? Entahlah itu tidak penting.
"Sayang ... dia sering nelpon kamu begitu?"
Tika menganggukkan kepalanya saat sedang menonton televisi. Sedangkan aku terus menatapnya.
Dari wajahnya terlihat jelas jika dia sedang tertekan. Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang pasti salah satu penyebabnya adalah Dana.
Lalu aku menggenggam tangannya, dia menoleh menatapku, mata kami saling beradu. Kemudian kukatakan padanya bahwa aku belum bisa menjanjikan apapun untuk menangani masalah Dana.
Namun, satu hal yang dapat aku pastikan, aku akan melindungi dirinya dan juga anak kami. Walaupun seandainya Dana berani berbuat hal-hal yang lebih nekat dari pada ini.
βββββββββββββββ
Tika POV.
Banyak masalah yang aku alami dan belum selesai hingga saat ini. Tadinya aku tidak ingin memikirkan semua ini. Tapi ternyata malah kepikiran.
Aku mengembuskan napasku, saat sedang memasak di dapur. Menyiapkan makan malam untuk Jefri. Malam ini dia ingin makan masakkanku, katanya kangen.
Untungnya aku menikah dengannya. Terkadang dia mampu membuatku tertawa saat aku sedang dalam masalah. Dan aku sanggup melupakan masalahku sejenak jika didekatnya.
Begitu pula saat ia mengatakan akan berjanji melindungiku dan calon anak kami. Aku mengelus perutku. Betapa beruntungnya aku memiliki dia dan betapa beruntungnya calon anakku memiliki ayah sepertinya.
"Sayaangg ... makan!" Aku berseru memanggilnya agar segera turun dari kamar dan makan.
Rencananya setelah ini kami akan pergi ke rumah orangtuanya untuk menjenguk papanya. Sebab tadi seharian dia tidak ke sana, melainkan mempersiapkan acara makan-makan tadi bersama bos-ku.
"Aku sudah minta izin sama bos kamu, biar empat hari ke depan, kamu gak usah masuk kantor." Jefri membuka obrolan saat kami tengah makan malam bersama malam ini.
"Kok bisa?" Aku terkejut dengan ucapannya. Bisa-bisannya dia seperti ini. Bukannya aku sudah tidak bisa cuti atau mengambil izin lagi?
Kemudian Jefri menjelaskan, jika beberapa hari belakangan ini, dia dan bos-ku sepakat untuk saling berbisnis di kemudian hari. Yang mana bisnis itu belum bisa dia ceritakan padaku sebelum adanya kepastian. Yang jelas untuk empat hari ke depan, aku bekerja dengan suamiku sendiri.
Aku mengiyakan saja, sebab aku belum mengerti betul mengapa bisa terjadi seperti ini.
Selesai makan malam, kami segera bersiap untuk pergi menginap di rumah orangtuanya. Semua keperluan sudah aku bereskan. Pakaian serta perlengkapan mandi juga sudah di masukkan ke dalam tas jinjing.
Bersambung ...
__ADS_1