Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 214


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


“Kedua kakinya harus segera dipasang pen, Kal!!” geram dokter Adam.


Sama. Aku pun merasakan geram saat ini. Di mana saat aku membutuhkan dokter ahli, penggantinya tidak ada. Dan ini adalah salah satu kelalaianku. Dengan mudahnya aku mengirim dokter Sam dan juga dokter Hanna untuk melakukan study-nya, tanpa terpikirkan olehku sebelumnya untuk mencari cadangannya.


Kalau sudah seperti ini, bagaimana aku akan bertindak?


Aku mencengkeram pundak dokter Adam lalu berbalik. Berlari cepat menuju ke ruanganku. Saat ini aku tidak memedulikan peraturan yang aku buat sendiri untuk tidak berlari pada koridor dalam rumah sakit. Tetapi yang ada di dalam pikiranku hanya satu, menghubungi pihak rumah sakit lain yang memiliki seorang dokter bedah ortopedi dan membawa dokter itu segera kemari secepatnya.


Dengan tergesa-gesa aku membuka pintu ruanganku hingga menimbulkan suara gaduh, lalu aku segera mengambil buku telepon khusus untuk rumah sakit dan mulai menghubungi satu per satu. 'Aku harus menemukan dokter itu,' batinku.


Selain dokter Hanna yang ahli bedah ortopedi, memang ada beberapa dokter lainnya dalam bidang yang sama. Hanya saja, dokter Hanna adalah dokter senior di rumah sakit ini. Hanya dia yang bisa menangani kasus seperti ini.


Dan lagi, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada dokter Ranti, aku tidak ingin dia ditangani oleh dokter muda yang jam terbangnya di bawah dari dokter Hanna. Sebab dokter Ranti harus sembuh total, agar dia bisa pergi untuk melakukan pendidikannya beberapa bulan ke depan dan hanya dia yang bisa aku kirimkan untuk mengejar pendidikan itu. Hanya dia yang memenuhi persyaratan.


Hingga tiba-tiba aku teringat dengan seorang dokter yang dahulu menangani Tika saat mengalami kecelakaan. Dengan terburu-buru aku menghubungi rumah sakit itu lalu menanyakan tentang salah satu dokternya. Hingga panggilan teleponku langsung dihubungkan dengan dokter itu.


Tanpa basa-basi lagi, aku langsung memintanya untuk segera pergi kemari dan menangani kasus Ranti yang masih di dalam ruang operasi karena mengalami luka yang serius.


Dokter itu bernama dokter Galih Ghifari. Pengalaman beliau dalam dunia ortopedi juga sudah tidak usah diragukan lagi. Dulu aku juga pernah menginginkan beliau untuk bekerja pada rumah sakit ini, hanya saja kami memiliki cara kerja yang berbeda. Hingga beliau akhirnya tidak memilih bekerja sama denganku.


“Baik. Aku tahu, akan aku siapkan sebelum Anda sampai di sini. Terima kasih, Dok!”


Aku sedikit bernapas lega saat dokter Galih Ghifari ini bersedia datang ke sini untuk menangani satu masalahku. Segera aku memanggil perawat Zahira dan juga perawat Fishel yang tadi sempat aku lihat berada di meja utama perawat jaga, melalui sambungan telepon.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada tepat di depanku. Lalu aku juga kembali menelepon, meminta perawat Putri yang ada di meja jaga untuk segera memanggil dokter Adam yang ada di ruang showing operasi dokter Ranti.


“Tolong kalian duduk dulu, kita tunggu dokter Adam.”

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, dokter Adam muncul lalu aku memintanya untuk menutup pintu ruanganku.


“Ada apa?” tanya dokter Adam.


“Gimana kondisi Ranti?”


“Dokter Putri sudah melakukan tugasnya. Pendarahan dan luka lain sudah berhasil ditangani. Detak jantung Ranti juga sudah kembali stabil, tinggal menunggu untuk kedua kakinya,” jelas dokter Adam.


“Aku sudah menghubungi dokter Galih Ghifari. Kemungkinan sepuluh menit lagi beliau datang melalui pintu belakang. Dan aku akan langsung membawanya ke ruang operasi sebelas di paling ujung. Jadi aku minta tolong pada kalian berdua untuk memindahkan dokter Ranti. Jangan ada perawat lain. Lalu kamu, Dam, tolong bawa dokter Putri dan juga dokter Fega untuk masuk ke ruang showing dan kunci pintu itu dari dalam. Kita tangani dokter Ranti secara tertutup, bukan seperti tadi. Karena dokter Galih tidak ingin terekspose ada di sini. Kalian paham?” tuturku seraya memerintah mereka, yang dibalas dengan anggukan kepala.


Setelah itu semuanya langsung menjalankan tugasnya masing-masing. Sedangkan aku langsung mengambil satu set pakaian seragam baru lalu keluar dari ruanganku, melangkah cepat menuju pintu belakang rumah sakit.


Tidak lama setelah aku sampai di pintu belakang. Beliau datang dengan sebuah tas di tangannya. Lalu menyapaku tanpa kata-kata. Aku langsung membawa beliau masuk ke ruang operasi sebelas, yang mana dokter Ranti sudah lebih dulu ada di ruangan itu. Terbaring tidak sadarkan diri di atas brankar operasi.


Dokter Galih langsung mengganti pakaiannya. Lalu perawat Zahira dan perawat Fishel juga mulai melakukan tugasnya, membantu aku dan dokter Galih untuk mengenakan pakaian pelapis untuk operasi hingga persiapan lainnya sudah siap kami kenakan.


“Kalian bertiga yang di atas sana, terutama Dokter Fega sebagai dokter ahli yang berhubungan, tolong perhatikan semua tahapan yang Dokter Galih lakukan.” Aku melihat mereka bertiga mengangguk lalu dokter Galih langsung memulai aksinya.


Perlahan aku membantu beliau untuk melakukan pemasangan pen pada kedua bagian persendian dokter Ranti. Yang mana prosedur bedah pemasangan pen ini dilakukan dengan cara menyambung dan menjaga posisi tulang yang patah dengan bantuan sebuah pen yang terdiri dari pelat logam dan baut khusus.


Semua proses itu berjalan dengan tenang juga lancar. Tidak ada hambatan. Bahkan dokter Ranti terlihat kooperatif dengan detak jantungnya yang stabil serta pernapasannya yang teratur. Walaupun dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Butuh waktu selama tiga jam lebih untuk dokter Galih menyelesaikan memasang kedua pen itu pada kedua kakinya, hingga akhirnya semua prosesi benar-benar dinyatakan selesai. Lalu beberapa saat kemudian dokter Ranti segera di pindahkan ke ruang ICCU oleh perawat Zahira dan perawat Fishel, agar dijaga secara lebih intensif.


“Terima kasih, sudah membantu,” ucapku saat mengantar dokter Galih Ghifari ini kembali ke pintu belakang.


“Dokter Ranti banyak membantuku. Berkat rekomendasinya, rumah sakit tempatku bekerja kembali ramai dan beberapa pasien lama, kembali percaya padaku.” Dokter Galih tersenyum ramah lalu menyodorkan tangannya untuk mengajakku berjabat tangan.


Tetapi bukannya menyambut jabatan tangan itu, aku malah langsung merentangkan kedua tangankh lalu memeluknya. Aku benar-benar bisa bernapas lega sekarang.


"Terima kasih sudah menjaga privasi-ku di sini. Aku harap kalian bisa memahami alasanku ini. Karena masalah tentangku belum juga mereda di luar sana.” Lagi-lagi beliau mengatakan tentang privasi-nya, tetapi aku hanya tersenyum dan mengangguk membalasnya.


Kemudian dokter Galih bergegas pergi melalui pintu yang sama saat dia memasuki tempat ini. Dengan aku yang membukakan pintu tersebut. Kedua mataku memandang bagian belakang mobilnya, hingga mobil itu bergerak menjauh lalu memasuki jalan raya, berbaur dengan pengendara mobil lainnya di sana.

__ADS_1


Dan lagi-lagi aku mengembuskan napas dengan sangat lega. Tinggal menunggu dokter Ranti sadar dan memantau kondisinya. Sebenarnya aku sudah bisa meneebak penyebab terjadinya kecelakaan ini. Karena menurut laporan masuk, dokter Ranti mengalami kecelakaan tunggal. Yang mana artinya, dia sendiri yang membanting kemudi setir.


Aku mengusap permukaan wajahku dengan kasar. 'Dia pasti kurang istirahat lalu mengantuk di jalan,' tebakku dalam hati.


Setelahnya, aku kembali meminta mereka semua yang menyaksikan jalannya operasi tadi untuk berkumpul di ruang ICCU, di mana dokter Ranti berada. Lalu meminta mereka untuk merahasiakan tentang kedatangan dokter Galih beserta dengan proses operasinya tadi. Mereka paham dengan kondisi itu dan bagi dunia kedokteran hal itu dapat dimaklumi.


“Tapi begitu dokter Ranti sadar, aku akan tetap memberitahukannya karena itu adalah kode etik antara seorang pasien pada dokter yang menangani kasusnya,” beberku seraya menoleh menatap dokter Ranti yang masih belum sadarkan diri.


**


Hari sudah semakin larut. Langit sudah menjadi gelap, membawa semilir angin sejuk yang perlahan berubah menjadi dingin yang merasuk hingga ke tulang. Tetapi embusan angin itu tidak membuatku beranjak dari posisiku saat ini.


Dari segala arah, angin itu menabrak tubuhku. Menyelimuti sebatang rokok yang aku sesap. Ya, saat ini aku sedang merasa banyak pikiran dan benar saja, saat ini aku memang masih berada dalam wilayah rumah sakit yang seharusnya bebas dari asap rokok. Tapi bukan berarti jika berada di sini juga harus bebas dari asap rokok 'kan?


Aku memilih menikmati sebatang rokok ini di lantai bangunan rumah sakit paling atas, rooftop. Di sini tidak akan ada satu orang pun yang melihat dan tidak akan ada satu orang pun yang akan protes dengan peraturan yang aku buat sendiri lalu aku pula yang melanggarnya.


Dengan kacau aku kembali menyesali beberapa keputusan yang aku buat untuk rumah sakit ini. Kelalaianku dari berbagai macam hal yang seharusnya bisa aku pikirkan lebih matang lagi. Setiap tiga bulan sekali, aku selalu menambah jumlah perawat, tetapi tidak dengan jumlah dokter. Betapa bodohnya aku!


Tiba-tiba saat aku mengembuskan hisapan rokok terakhir, suara tepukan tangan terdengar dengan lantang begitu saja. Membuatku terkejut setengah mati.


Prokk! Prokk! Prokk!


“Wah! Hebat! Ternyata seorang dokter yang juga sekaligus menjadi pimpinan rumah sakit ini adalah seorang perokok!!” seru seorang wanita yang wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas, karena posisinya berdiri membelakangi sebuah lampu di depan pintu keluar-masuk itu.


Bersambung ...


——————————


Mohon maaf jika ada kesalahan persepsi tentang kode etik kedokteran 😊


Jangan lupa juga buat vote 😂


Sekian dulu, #salambucin

__ADS_1


Babay ...


@bossytika 💋


__ADS_2