
Selamat membaca ...
——————————
Haikal POV.
Detak jantungku rasanya terlalu cepat memompa darah ke seluruh tubuh ini, sehingga desiran darah itu begitu terasa kuat menyebar ke bagian tersempit dalam tubuhku.
“Udah slow, santai Bro!!” celetuk Max begitu keluar dari kamar mandinya.
Tadi malam aku memang tidur di kamar ini dengannya. Lalu beberapa saat yang lalu, semua anggota keluargaku juga ada di sini untuk bersiap dan berdandan, untuk mamah, Shilla dan juga Tika. Tapi semenjak mereka sudah lebih dulu pergi menuju ballroon bersama anak-anak, aku kembali merasakan gugup.
“Bra bro bra bro mata lu peyang!! Gimana mau slowly kalo begini?!” keluhku.
“Astaga ini anak! Dibilangin gak percaya.”
“Ya caranya buat santai pagimane? Ini jantung udah kek roller-coaster, Broo!!” Aku melemparkan sebuah bantal padanya yang dengan sigap Max menangkapnya.
Hup!!
“Enggak kena!” Dia menjulurkan lidahnya sekilas, dasar anak-anak!
“Coba tarik napas deh. Tariiiiikk embuskan. Tarik lagiii, tahan tahan tahan—”
“Sialan!! Lu ngerjain gua?!” pekikku yang baru menyadari jika Max sedang membuat ulah padaku. Lagi-lagi sebuah bantal di atas tempat tidur ini, aku lemparkan dengan kuat ke arahnya. Dan kali ini, Max kurang gesit menangkapnya hingga tepat mengenai wajahnya yang membuatku kesal itu.
“Eh, jangan kurang ajar ya?! Gue elu gue elu!” protesnya yang kemudian tertawa terpingkal-pingkal melihatku yang sedang berusaha mengatur napas.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku seperti melupakan cara bernapas yang baik dan benar untuk saat ini. Ya, aku tidak bernapas menggunakan hidungku seoerti manusia normal lainnya, tetapi tiba-tiba saja menggunakan bagian mulutku.
Sejak tadi malam, tanda-tanda kegelisahan ini memang sudah aku rasakan. Apalagi begitu tahu jika kamar di sebelah ada Clara yang menghuninya.
Sudah dua hari aku tidak melihat wajahnya, hanya memandangi fotonya pada galeri ponselku. Sebab saat melakukan pingitan, ayahnya juga melarang kami menggunakan foto profile pada aplikasi pesan singkat itu. Padahal aku memiliki fotonya saat bersamaku di galeri ponsel ini.
Dan tidak hanya ada satu foto. Ada beberapa foto lainnya. Sisanya, lebih banyak pada geleri ponselnya, sebab dia yang selalu tiba-tiba saja memoto tanpa mengatakan apa pun padaku.
“Max!! Igo mana sih?? Kapan mawarnya dateng? Udah jam berapa ini?” Lagi-lagi aku mendesak Max yang sedang memasang dasinya. Max hanya mendelik padaku melalui pantulan cermin di depannya.
Tingtong!
Tiba-tiba bel pada pintu kamar berbunyi, aku segera berdiri untuk membukakan. Dengan napas yang masih amburadul aku embuskan sembarangan. Apa seperti ini rasanya jika akan menikah?
__ADS_1
“Daddyyyy!!!” teriak Icel begitu pintu itu aku buka. Dia berlari mendekap Max dengan senang. Mungkin dia rindu dengan daddy-nya karena tadi malam Max tidak pulang ke rumah, melainkan menemaniku di sini.
“Clara masih di kamarnya, 'kan?” tanya Shilla padaku.
“Jangan tanya aku, aku gak tahu. 'Kan gak boleh ketemu,” sanggahku dengan cepat.
Shilla dan Max spontan langsung menertawakanku. “Sayang ... kamu jangan godain dia. Tambah gugup ntar!”
'Siyalan sepasang ibu dan bapak ini!' umpatku.
Kemudian Shilla mengatakan kalau dia senang melihat ekspresi wajahku yang sangat terlihat kaku dan gugup. Aku segera membalikkan tubuhku, menatap wajahku sendiri pada pantulan cermin di pintu lemari.
'Benar kata mereka, wajahku pucat!' batinku yang kemudian melongos kesal pada diri sendiri. Bisa-bisanya aku bersikap cemen seperti ini di saat hari pentingku.
Saat pintu tertutup otomatis, tiba-tiba saja terhenti, seperti ada yang menahannya. Aku segera berbalik dan menengok dari balik pintu. Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok ayah Clara yang ternyata menahan tertututpnya pintu itu.
Aku segera kembali menarik kenop pintunya dan mempersilakan beliau untuk masuk. Dan entah mengapa tiba-tiba saja Max dan Shilla memilih untuk segera keluar dari kamar dengan membawa serta Icel pergi.
“Kami permisi dulu, kita ketemu di bawah nanti.” Max berpamitan dan segera keluar dari kamar.
“Dadah om! Jan dudup!” pekik Icel sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulut sambil menggelengkan kepala. Aku terkekeh geli melihatnya.
Setelah semuanya pergi, aku mempersilakan ayah Clara untuk masuk dan duduk. Beliau lebih memilih untuk duduk pada kursi di balik meja rias daripada duduk pada sofa di samping tempat tidur.
Kemudian aku langsung berinisiatif untuk membuatkan beliau secangkir kopi hitam. Ya, aku tahu beliau menyukai kopi hitam, Clara yang sering menceritakan semua itu padaku. Jika bertemu dan bersantai dulu, dia selalu menceritakan kesehariannya berdua bersama ayahnya. Sebab, memang aku yang memintanya untuk menceritakan semua itu.
Aku ingin dia tetap merasakan beruntung memiliki seorang ayah, walaupun bundanya telah tiada. Sebab di luar sana, masih banya seorang anak lain yang malah kehilangan kedua orang tuanya. Maka beruntunglah aku dan juga dia, yang masih memiliki di salah satunya. Dan bukankah dengan pernikahan ini, itu artinya kami memiliki orang tua yang utuh kembali? Walaupun tetap jauh terasa bedanya.
“Kamu gak perlu repot-repot membuatkan ayah minum.” Ayah Clara menolak secara halus tetapi aku tetap membuatkan dan mengantarkannya pada beliau.
Setelah beliau mengucapkan terima kasihnya, aku langsung lebih memilih duduk pada tepi tempat tidur, agar lebih dekat dengan beliau.
“Nak, terima kasih sudah mengembalikan senyuman di wajah Clara,” ucap beliau memecah keheningan.
Aku memandangi beliau lalu berkata, “Enggak, Yah. Ayah sendiri yang membuatnya begitu kuat, aku hanya melakukan sedikit dari apa yang bisa aku lakukan.”
Tiba-tiba saja aku melihat kedua bola matanya yang berkaca-kaca sambil membalas pandanganku. “Aku yang harusnya berterima kasih pada Ayah, sebab Ayah mengizinkan aku untuk memiliki Clara. Padahal aku tahu, hanya Clara yang Ayah miliki saat ini. Jadi aku sudah memutuskan, izinkan juga aku tinggal di rumah Ayah, agar Clara selalu dekat dengan Ayah.”
Beliau seakan terkejut mendengar permintaanku. Semua terlihat jelas saat keningnya terpaut, mengisyaratkan sebuah kebingungan. “Kenapa jadi tinggal di rumah ayah? Bukannya kamu sudah memiliki rumah sendiri?”
“Aku gak mau memisahkan Ayah dengan Clara. Karena aku tahu bagaimana rasanya terpisah dengan mamah. Mungkin aku bisa tahan, tapi dengan Clara? Dengan Ayah? Aku gak tahu kalian—”
__ADS_1
“Biarkan Clara tinggal di rumah kamu. Ayah akan sering mengunjungi kalian. Ayah tidak apa-apa berpisah yang hanya terpisah jarak. Asalkan dia bisa belajar menjadi istri yang baik buat kamu.”
“Tapi, Yah—”
“Ajarkan dia berbakti pada kamu. Karena mulai saat ini, dia milik kamu. Dia bukan lagi menjadi puteri kecil ayah. Ayah ke sini hanya ingin meminta kamu untuk terus membahagiakannya. Karena dengan kepergian bundanya, ayah merasa gagal untuk melindungi dia.”
Tidak ada lagi kata-kata yang dapat aku ucapkan pada beliau. Sebab, semua yang beliau katakan hampir sama dengan apa yang sudah mamah katakan beberapa minggu yang lalu, saat aku menginap di rumah.
Aku bisa mengerti dengan apa yang beliau rasakan, karena pasti tidak jauh berbeda dengan apa yang mamahku rasakan.
Setelah semua drama dalam obrolan itu, akhirnya beliau berdiri dan mengajakku untuk turun ke ballroom. Melaksanakan tugas beliau untuk menyerahkan anak gadisnya kepadaku. Dengan semangat dan juga dengan rindu yang menggebu, aku meminta beliau untuk lebih dulu ke sana, sebab aku ingin sejenak menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum melakukan prosesi yang sakral itu.
Bersambung ...
——————————
Jeng jeng!!!
Masih degdeg-an gak?😂
Oke untuk acara pernikahan sepertinya akan aku update nanti malam aja yaa 🤭
Soalnya aku mau ke salon dulu, mau dandan, mau cobain beberapa baju buat menghadiri pestanya 🙄
Dresscode:
Wanitanya gaun berwarna pastel, yang seksi yang memesona, yang wah, yang elegan.
Buat yang hijab bisa pake yang glamor.
Soalnya biasa di acara pernikahan bakalan ada sesi foto-foto dong yaa 😝
Yang prianya, cukup pake setelan tuksedo yang ciamik dengan warna gelap, seperti hitam atau navy, biar cool kek tuan muda yang kaya raya atau biar kelihatan kek CEO tampan 🤭
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
@bossytika 💋
__ADS_1