Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 42


__ADS_3

Still Jefri POV.


Setelah makan, aku dan Tika kembali menuju ruang ICCU, bergabung kembali bersama Mamaku, Jerry, Max dan Haikal yang masih ada disana. Mereka asik mengobrol. Tiba-tiba..


Huweekk!


Huweekk!


Tika secepat kilat berlari, kembali menuju toilet yang tadi kami lalui. Aku mengejarnya.


Brakk!


Suara pintu toilet yang didorong Tika dengan kekuatan tak sadarnya. Tanpa peduli aku ikut masuk ke dalam toilet itu. Tika menuju salah satu bilik closed dan memuntahkan semua isi perutnya disana.


Aku memegangi punggungnya. Memijit pelan tengkuk leher bagian belakangnya.


Uweeekk!!


Lagi-lagi ia memuntahkan isi perutnya. Berkali-kali. Ku tekan tombol flush untuk menyiram isi closed yang penuh dengan muntahannya. Ia meraih tanganku. Mencengkram erat.


"Kalian tadi makan apa?" suara Mama mengejutkanku.


"Tika cuman makan sup iga kok, Ma."


Tika masih saja memuntahkan semua makanannya. Hingga Mama mengambil alih tempatku dan menyuruhku untuk keluar.


"Kamu tunggu diluar aja," titah Mama.


Aku tak tega melihat Tika yang seperti itu. Ku langkahkan kakiku keluar dari toilet wanita itu. Membiarkan Mama yang mengurusi Tika.


------------------------


Tika POV.


Habis sudah semua isi perut yang baru saja ku isi, ku muntahkan berkat dorongan dalam perut yang luar biasa rasanya. Ini kali kedua aku seperti ini. Rasanya sungguh tidak enak.


Mama Alena membantuku, membopongku ke westafel untuk membersihkan mulutku. Kemudian mengambilkan selembar tissu untukku. Dengan sigap pula beliau menekan tombol flush di closed untuk membersihkan bekas sisa-sisa muntahan itu.


Aku masih terpejam merasakan mual di perutku. Tiba-tiba sentuhan tangan Mama dibahuku membuatku kaget. Aku langsung membuka mata dan menatap beliau melalui pantulan cermin.


"Kamu belum periksa?" tanya Mama lembut.


"Periksa apa, Ma?"


"Siapa tau kamu hamil?"


"Dulu waktu mau periksa, aku besoknya kelupaan jadwal."


"Trus ga ada periksa lagi?"


"Belum ada, Ma. Tapi aku udah beli testpack. Cuman belum aku coba."


Aku berbalik menghadap Mama, meraih tangannya yang tadi menyentuh bahuku. Menatapnya dengan sisa airmata yang keluar akibat kejadian tadi.


"Ma, jangan kasih tau ini dulu ya sama Dul?" pintaku.


"Kasih tau apa? Kamu kan belum test?" ucap Mama terkekeh samar.


"Iya sih, Ma. Aku cuman gak mau Dul mikir kalo aku hamil. Ya, Ma, ya?" rengekku.

__ADS_1


"Iya, tapi janji ya, besok kamu harus coba testpack kamu itu?"


Aku mengangguk, "Iya, aku janji, Ma."


Setelah selesai membersihkan semuanya, aku dan Mama keluar dari toilet. Wajah Jefri yang ku lihat pertama kali saat ku buka pintu toilet. Raut wajah cemas dan matanya yang sendu.


"Kamu kenapa? Perutnya sakit lagi?" cercanya.


Aku tersenyum, "Ga papa kok, paling masuk angin."


Jefri memelukku, erat. Lalu ku coba untuk melepaskan pelukkannya perlahan. Mengajak semuanya untuk kembali menuju ruang tunggu ICCU.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Setelah kami mengobrol cukup lama, membahas segala macam hal, Max dan Haikal meminta untuk pamit pulang. Aku dan Jefri mengantarkan mereka hingga ke lobby rumah sakit.


"Semoga bokap cepet sembuh ya, Jeff," ucap Haikal sambil menepuk lengan Jefri.


"Iya, makasih sudah jengukin."


"Kami pulang dulu. Kamu banyakin minum air putih ya!" tegas Haikal dengan raut wajah seriusnya.


"Iya," sahutku.


Mereka perlahan berjalan menjauh, hingga akhirnya hilang di tengah kerumunan parkiran mobil outdoor. Jefri meraih tangan kiriku, menggenggamnya. Kemudian kami saling bertatapan lalu kembali berjalan memasuki rumah sakit.


Keesokkan harinya, di pagi hari, aku dan Jefri sama-sama menghubungi pihak kantor masing-masing. Untuk meminta izin tidak masuk kantor. Mungkin hal ini hanya berlaku untuk Jefri sebenarnya, karena kantornya memang sangat ketat dengan peraturan. Berbeda dengan kantorku, pekerjaanku yang lebih fleksibel. Namun entah mengapa, kali ini aku merasa memang harus meminta izin, bukan mencari alasan seperti dulu.


Untungnya Bos ku mengizinkan. Tapi ya seperti biasanya juga, with one condition, yaitu aku harus mencari klient-klient yang membutuhkan jasa Wedding Organizer. Ku iyakan saja permintaan Bos ku ini, agar aku dibolehkan mengambil izin.


Semakin hari, kondisi Papa semakin membaik. Walaupun belum bisa terlalu lancar untuk berbicara, setidaknya Papa sudah bisa merespon dengan cepat apa yang kami tanyakan. Dua hari berlalu, selang untuk asupan makanan Papa juga sudah dilepaskan. Papa sudah bisa mulai makan makanan yang teksturnya masih lembek. Papa sudah bisa tertawa, walaupun tidak seleluasa dulu.


Seperti siang ini...


"Bener nih?" tanya Mama ragu.


"I-iya bi-ar Ti-ka," sahut Papa terbata.


Aku tersenyum lalu segera mengambil perlengkapan seka yang ada ditangan Mama. Lalu mulai menyeka Papa dengan sangat hati-hati. Sedangkan Mama mulai membersihkan kantong kateter Papa.


Jefri sudah lama meninggalkan kami bertiga di ruangan ini, dia dipanggil oleh Dokter Farhat, untuk mendengarkan penjelasan serangkaian hasil test yang telah dilalui oleh Papa.


Setelah selesai aku menyeka tubuh Papa hingga batas pinggang, lalu Mama mengambil alih untuk meneruskannya. Dan aku meneruskan untuk memasang kembali tutup kantong urine itu.


Kini wajah Papa terlihat lebih segar, tak lagi pucat-pasi berwarna putih. Mama menyodorkan segelas air putih, yang dapat Papa minum melalui bantuan sedotan kecil berwarna hitam. Disaat-saat seperti ini terlihat sangat terlihat jelas, bahwa Mama sungguh mencintai Papa, tanpa syarat.


Tak terasa aku meneteskan airmataku. Melihat pemandangan indah, yang tak sengaja aku ikut hadir didalamnya. Mama yang telihat seperti ini. Telaten mengurusi Papa dalam kondisi seperti ini. Karna jujur saja, sebelumnya, aku tidak pernah melihat pemandangan ini. Mama biasanya terlihat santai dan tegas di kesehariannya. Sedangkan Papa biasanya terlihat mandiri, dan sangat membebaskan Mama. Membebaskan disini dalam artian untuk mengurusi masalah dapur.


Beberapa minggu aku tinggal dirumah mereka, sedikit banyaknya aku menjadi paham betul, akan apa itu arti dari sebuah kehidupan dalam rumah tangga. Bukan melulu tentang hubungan badan, namun tanda disadari pula, jika kegiatan itu memang menjadi satu-satunya kunci keharmonisan dalam membina hidup.


Aku mengusap butiran airmata yang tak sengaja muncul itu, airmata haru. Mungkin aku harus belajar kepada Mama. Belajar lebih banyak lagi, tentang bagaimana menjadi seorang istri. Berbakti kepada suami dan masih banyak yang lainnya.


Tiba-tiba sepasang tangan muncul dari belakangku dan mendekapku. Melingkarkan kedua tangannya pada perutku, lalu memunculkan wajahnya diatas bahu sebelah kiriku. Ia adalah suamiku sendiri.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


Mama dan Papa sempat melirik kilas ke arahku, saat Jefri bertanya seperti itu. Aku hanya tersenyum.


"Cuman lagi ngeliatin Mama aja," jawabku santai.


Jefri mengecup daun telingaku. Lalu menegakkan tubuhnya kemudian mengeratkan dekapannya. Ia mendekapku sambil mengecup puncak belakang kepalaku, lebih tepatnya rambutku.

__ADS_1


Setelah Mama selesai mengurusi segala keperluan Papa, Mama langsung mengambil nampan makan Papa untuk menyuapkan.


"Kalian makan gih sana! Sekalian beliin makan juga buat Mama," ucap Mama.


Dengan spontan aku mendorong dada Jefri dengan sedikit gerakkan dari bahuku. Memberinya kode agar membawa Mama makan.


"Ma, biar aku aja yang nyuapin Papa, boleh?" pintaku sambil melepaskan rangkulan tangan Jefri dari perutku.


"Yakin?" tanya Mama memastikan.


"Iya. Boleh kan, Pa?" tanyaku pada Papa yang masih duduk bersandar.


Papa hanya menganggukan kepala pelan sambil memejamkan mata sebentar, tanda setuju.


Aku melangkah mendekati Mama, meraih piring makan Papa dan bersiap mulai menyuapi makanan itu.


"Ya udah kalo gitu Mama yang temenin aku makan, ya?" ucap Jefri sambil meraih tangan Mama lalu langsung membawa Mama keluar ruangan.


Meninggalkan aku berdua dengan Papa. Ini sudah suapan kedua, Papa terlihat lahap memakannya. Hingga suapan terakhir. Saat aku hendak berdiri, menaruh kembali piring serta nampan makan Papa, tiba-tiba beliau meraih tanganku. Aku menatap beliau.


"Iya, Pa?" tanyaku.


"Du-duk," ucap beliau masih terbata-bata akibat pernafasan beliau yang masih belum stabil.


Aku segera kembali duduk dan dengan piring yang masih ku pegang, lalu ku letakkan di bawah lantai. Papa mengangkat tangannya, meminta untuk di genggam olehku.


"Kenapa, Pa?" lirihku.


"Bu-juk Dul bu-at gan-tikan di-kan-tor."


Ku tatap Papa, ku hembuskan perlahan nafasku, "Pa, aku gak bisa janji sama Papa, tapi pasti aku bicarain nanti sama Dul. Yang penting sekarang, Papa sehat dulu, biar bisa cepet pulang, ya?" pintaku.


"Ma-kasih ka-mu su-dah mau te-rima a-nak Pa-pah," sahut Papa lagi.


Aku tersentuh Papa mengatakan itu padaku. Ucapan terimakasih yang mungkin terdengar biasa saja, nanmun dalam kondisi beliau yang seperti ini, beliau masih sempat mengatakan itu untukku, atas nama anaknya. Tak terasa sudut mataku kembali memproduksi airmata, aku tak sanggup menahannya untuk tidak keluar. Ku kecup punggung tangan Papa. Beliau sudah ku anggap sebagai ayah kandungku sendiri, sejak anaknya menikahiku.


"Aku yang makasih, Papa sama Mama sudah mau nerima aku. Memperlakukan aku seperti kalian memperlakukan Dul, menganggapku sebagai anak kalian," lirihku sambil menempelkan tangan Papa pada pipiku.


Aku merasa seperti memiliki kembali seorang ayah kandung. Yang memperhatikanku, bahkan yang menjagaku. Airmataku kian cepat mengalir, lebih bebas membasahi kedua pipiku.


Ku lihat kedua bola mata Papa pun ikut berkaca. Segera ku usap airmataku. Ku kuatkan hati untuk menahan airmata ini, agar tidak kembali mengalir. Lalu tersenyum menatap Papa.


"Papa cepet sembuh ya? Papa harus kuat. Papa katanya mau cucu kan?" ucapku tak tahan merahasiakan ini pada Papa.


Terlihat Papa sedikit membelalakan matanya.


"Papa orang pertama yang tau. Bahkan Dul juga belum tau, ga ada siapapun yang tau. Jadi Papa harus sembuh, ya?" tambahku lagi.


Dengan semangat Papa menganggukkan kepalanya, tersenyum sumringah.


------------------------------


Guys, jangan lupa vote yah, biar aku bisa menang vote challenge 🎉


Tapi kalo ada diantara kalian yang gak rela bagi koin ataupun poinnya, aku tidak akan marah, itu hak kalian, tapi akan lebih bagus jika itu disumbangkan padaku, pada novel ini 😂


Oke?


Bye, ketemu lagi diepisode selanjutnya 🙋

__ADS_1


#salamsayang,bucin! 😒


__ADS_2