
Tika POV.
Aku dibangunkan oleh gerakkan tubuh Mamah yang mencoba mengambil bantal untukku.
"Emh.." dehamku.
"Kamu baru bentar udah ketiduran aja, kecapean banget?" tanya Mamah tiba-tiba.
"Mamah mau kemana?"
"Masaklah."
"Kita makan diluar aja yuk, Mah, mau gak?"
"Kalian kan mau pindahan?"
"Ya sekalian, lagian ga mungkin juga aku bawa semuanya sekaligus, Mah."
"Ya udah, jd Mamah gak masak nih ya?"
"Iya gak usah, Mamah siap-siap aja, aku beresin baju buat kerja dulu."
Mamah beranjak langsung menuju kamarnya, sedangkan aku masih duduk disini membetulkan letak pinggangku yang masih terasa sakit.
Sesaat kemudian Jefri datang menghampiriku. Duduk disebelahku dan mendekapku.
"Aku udah beresin barang aku, sebagian sih. Yang penting-penting aja yang aku bawa."
"Kok gitu? Kan aku bisa beresin barang kamu?" sewotku.
"Ya ga papa, kamu juga kan capek. Lagian barang aku dikit, barang kamu tuh yang banyak."
Jefri menjepit ujung hidungku dengan kedua jarinya.
"Kita sekalian makan diluar ya sama Mamah, ajakin Mama sama Papa kamu juga, gimana?" ideku.
"Boleh. Ini ide kamu sendiri apa Mamah?"
"Ya aku lah, masa iya Mamah. Kasian juga Mamah kalo mesti capek-capek masak cuman buat kita."
"Ya udah aku nelponin Mama dulu, mau makan dimana?"
"Sembarang kamu aja, aku ke atas dulu, beresin barang."
Jefri mengangguk, mengambil ponsel di saku celana nya. Kemudian aku beranjak pergi ke kamar ku dan membereskan barang-barangku seperlunya.
Setelah selesai, Jefri menghampiriku dan membantuku mengangkat semua yang sudah ku bereskan ke dalam mobil.
Mamah pun sudah siap, menunggu kami di lantai bawah di ruang tamu.
"Sudah semua?" tanya Mamah memastikan.
"Sudah kayaknya," sahutku.
Kami pun segera pergi meninggalkan rumah. Jefri membawa kami menuju salah satu mall. Lalu bertemu dengan kedua orangtuanya dan memilih salah satu restaurants yang ada disana.
"Kamu itu, lain kali jangan bikin Mama khawatir lagi. Hape gak aktif, Tika susah dihubungin. Untung aja kami gak lapor polisi." sewot Mama Alena saat kami memulai makan bersama kami.
Jefri tertawa, "Kami udah gede Ma, lagian ngapain juga Mama sampe lapor polisi."
"Ya Mama bukan khawatir sama kamu, Mama khawatir sama Tika, ga enak lah Mama sama besan Mama, iya kan Jeng?"
Kami tertawa. Sungguh suasana makan siang yang memyenangkan.
--------------------------------------------------------
Clara POV.
"Bundaaaaaaa.." teriakku dari kamar menuju keluar kamar.
"Iya sayang, Bunda didapur."
Aku segera mendatangi Bunda yang lagi asik didapur dengan masakkannya.
"Kenapa?" tanya Bunda saat melihatku.
"Bunda, Ayah mana?"
"Lagi nyuci mobil didepan, sekalian olahraga katanya," sahut Bunda sambil melanjutkan memasaknya.
"Ohh. Bunda bikin apaan sih?"
__ADS_1
"Nasi goreng. Kamu rapi banget? Mau jalan lagi ke rumah sakit?" tanya Bunda mematikan kompor lalu menyajikan nasi goreng itu satu per satu diatas piring makan.
"Iya, Bun. Tinggal dikit lagi kelar kok."
"Ya udah, nanti jangan lupa bilang Ayah, biar Ayah anterin kamu ke sana, sekalian Ayah jengukin Tante Rosie," usul Bunda.
"Iya, Bun."
Aku memulai sarapan pagiku hari ini dengan hati gembira. Tidak tau mengapa bisa begitu. Setelah selesai sarapan, aku bergegas untuk bersiap dan melanjutkan segala rencanaku.
Ku temui Ayah yang sedang mencuci mobil kesayangannya.
"Mau kemana kamu? Ke rumah sakit lagi?" cerca Ayah saat aku berhasil melewati pintu depan ruang tamu.
"Iya, Yah. Kemaren belum selesai, aku gak mau lah ninggalin tanggung jawab aku begitu aja."
"Mau Ayah antar lagi? Tapi tunggu Ayah siap-siap dan sarapan dulu. Gimana?"
"Iya, kata Bunda, Ayah mau sekalian jenguk Tante Rosie kan?"
"Hm em."
"Ya udah, aku tungguin."
Ayah beranjak membereskan alat pencuci mobilnya kemudian bergegas bersiap-siap. Sedangkan aku memilih duduk di depan rumah sambil memainkan games yang ada di ponselku.
Setengah jam kemudian aku dan Ayah berangkat menuju ke rumah sakit. Disepanjang perjalanan kami tidak ada membahas apapun hanya mendengarkan alunan lagu dari flashdisk yang ditancapkan pada audio mobil.
Sesampainya di rumah sakit, aku dan Ayah langsung menuju ke ruang inapnya Tante Rosie. Disana juga terlihat ada Om Raihan yang mendampingi. Ayah menanyakan keadaan Tante Rosie yang semakin membaik dan besok siang dinyatakan sudah boleh pulang.
"Yah, aku pamit duluan ya? Ntar gak kelar-kelar tugas aku disini. Mana besok kan aku harus kerja," bisikku di samping Ayah duduk.
"Iya, nanti kabarin Ayah aja klo kamu udah selesai, biar Ayah jemput."
"Iya, gampang itu. Tante, Om, aku pamit duluan ya? Ada urusan," sambil menyalami punggung tangan Om Raihan dan Tante Rosie.
Kemudian Ayah mengantarkan ku hingga didepan pintu ruangan. Ku kecup kedua pipi Ayahku.
"Bye, Yah."
"Hati-hati."
Ku langkahkan kaki ku menuju lift. Aku terkejut, Haikal ada di dalam lift yang terbuka itu.
"Lu mau masuk apa lift ini gua tahan terus?" jawabnya datar.
Aku pun segera memasuki lift.
"Dari mana?" tanyaku saat lift bergerak.
"Rumah."
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu kami bergerak keluar saat lift terbuka, Haikal berjalan didepanku. Langkah kakinya terlalu luas, aku lelah mengimbangi langkahnya.
Kemudian kami memasuki ruang kerjanya.
Haikal langsung meraih seragamnya, lalu berganti pakaian ditoiletnya.
"Lu harus selesein semuanya hari ini ya? Trus balikin semuanya ke tempat semula."
"Iya."
"Gua kerja dulu," ucap Haikal kemudian keluar dari ruangan meninggalkan aku sendiri disini.
Aku mulai membereskan kembali kertas-kertas yang bertebaran itu, sisa sedikit lagi, sudah empat wadah yang tersusun rapi.
Kembali ku kelompokkan kertas itu menurut urutan tanggalnya. Ku letakkan di meja, sofa bahkan di lantai.
Tokk..
Tokk..
Ceklek..
"Maaf permisi, tadi Dokter Haikal minta dibikinkan minuman, katanya buat Mbak nya," ucap wanita yang muncul di balik pintu.
Dilihat dari pakaiannya sepertinya dia seorang perawat.
"Oh iya," sahutku kemudian lalu meraih segelas minuman itu, "Makasih."
Kemudian perawat itu kembali menutup pintu, meninggalkan ku.
__ADS_1
"Baik juga dia, inget kalo gua disini bisa dehidrasi," gumamku.
Ku letakkan gelas itu diatas meja kerjanya lalu aku kembali melanjutkan tugasku hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 1 siang.
Aku masih berkutat dengan kertas-kertas itu, masih sedikit lagi, pikirku. Tiba-tiba...
Ceklek..
"Masih banyak?" tanya Haikal yang tiba-tiba datang memasuki ruangan.
Untung beberapa kertas yang tadinya dilantai sudah aku punguti kembali.
"Dikit lagi," sahutku santai.
Haikal langsung duduk di kursi meja kerjanya, kemudian menyalakan komputernya. Lalu aku pun langsung menyelesaikan susunan kertas tersebut.
Setelah kertas berkas itu berhasil ku susun dengan rapi, dalam wadahnya masing-masing sesuai dengan tanggal. Ku angkat beberapa wadah lalu ku antar wadah itu ke ruang gudang, dimana berkas itu tersusun di lemari besi disana.
Dua kali aku bolak-balik. Yang ketiga kalinya, Haikal berinisiatif sendiri untuk membantu mengangkatkan beberapa wadah file itu.
"Ga papa gua aja yang balikin," sanggahku.
"Biar cepet kelar," sahutnya santai.
Lalu kami berjalan bersama menuju ruang gudang dan menaruh berkas itu di tempatnya semula.
"Habis ini temenin gua makan mau gak?" lirih Haikal pelan.
Spontan aku menoleh, menatapnya lekat, hingga mengacuhkan beberapa wadah berkas yang tadi sempat ingin ku letakkan dan..
"Awas!!" seru Haikal dengan kelincahan tangannya, menahan beberapa wadah yang hampir saja terjatuh kembali ke lantai, akibat kelalaianku.
"Untung aja gak jatuh lagi, coba kalo jatuh la...."
Cuup!
Aku menjinjitkan kedua kakiku, mengecup bibirnya kilas. Sedangkan kedua tangan kami masih menyentuh beberapa wadah di lemari besi, menahan serta membetulkan letak posisinya agar tidak terjatuh kembali.
Sempat ku pandangi wajahnya setelah ku kecup itu, tampak speechless. Lalu ku berikan senyuman ku kilas.
"Ga usah bawel!" protesku kemudian aku berbalik dan meninggalkannya di dalam ruangan gudang istirahat itu sendiri.
Sesampainya di dalam ruangan Haikal, aku langsung menuju ke toilet, mengurung diri sementara, malu!
Ya sebenarnya aku malu. Sumpah malu banget.
Aku dengan refleks berani mencium bibirnya.
Astaga, nakal sekali aku. Liar sekali sikapku.
Apa nanti tanggapan Haikal padaku?
Semua itu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benakku.
Ku basahi wajahku berkali-kali.
Ku maki diriku sendiri bertubi-tubi.
Ku lihat raut wajahku di cermin lekat-lekat.
Betapa bodohnya aku?
"Aku harus ngadepinnya gimana ini? Ya Tuhan!" gumamku berkali-kali saat menatap wajahku di cermin.
Berkali-kali ku pukulkan telapak tanganku di dahiku sendiri. Sambil merutuki kesalahan yang sudah aku perbuat. Entah mengapa saat itu aku sampai berani melakukan itu dengan spontan tanpa ada rencana apa-apa. Bahkan Haikal tergolong pria yang baru beberapa hari ini aku kenal. Mengapa dengan santainya aku bisa menyerahkan bibirku untuknya?
Bibir perawan yang selama ini selalu ku jaga.
Bibir yang selama 29 tahun ini hanya ku gunakan untuk mengecup pipi orangtuaku dan mencium punggung tangan keluargaku.
Astaga, ada apa denganku? Batinku lagi.
Rasanya aku tidak mampu untuk keluar dari toilet ini. Malu melihat wajahnya. Pasti Haikal akan marah padaku. Padahal aku hanya terlalu terkejut dengan permintaannya untuk menemaninya makan siang.
"Astaga, sudah terlanjur," lirihku pelan sambil menangkupkan kedua telapak tanganku di wajahku.
Ku ambil nafas dalam-dalam, kemudian ku hembuskan perlahan agar detak jantungku pun ikut kembali normal, dengan ritme yang santai. Berkali-kali aku ulangi kegiatan itu hingga aku merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Ku rapikan kembali pakaianku. Ku cek kembali tampilan rambutku di cermin.
"Oke, gua harus hadepin ni cowok! Dia bukan siapa-siapa. Gua harus tenang, paling besok-besok gua gak ketemu dia lagi. Hari ini hari terakhir. Semangat Clara! Lu pasti bisa!" ucapku menggebu-gebu pada pantulan tubuhku di cermin toilet ini.
__ADS_1
Ku beranikan diri untuk keluar dari toilet. Dan ternyata benar, Haikal sudah ada di dalam ruangan, duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.