Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 82


__ADS_3

Still Tika POV.


Hari ini adalah hari terakhir Jefri bekerja di perusahaan batubara milik bosnya itu. Banyak hal yang harus ia selesaikan, bukan hanya berkas laporan, namun juga beberapa file perencanaan untuk masa akan datang dari perusahaan itu. Otomatis dia akan sangat sibuk sekali hari ini dan memintaku untuk makan siang sendiri nanti. Aku mengiyakan saat kami telah memasuki halaman parkir kantorku. Dan seperti biasanya, Jefri selalu mencium bibir dan keningku sebelum aku melangkah turun dari mobilnya. Tapi pagi ini ada yang berbeda, ia menahan tanganku setelah melakukan kecupan wajib itu.


"Kenapa?" tanyaku.


"Cium lagi ...." Jefri memintanya dengan wajah yang sengaja dibuatnya bermanja. Mengerucutkan bibirnya layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk.


Aku terkekeh geli melihat permintaannya kali ini. Lalu tanpa basa-basi lagi, kuraih tengkuk lehernya kemudian sedikit kutarik agar bibirku dapat menyentuh bibirnya. Awalnya hanya ku kecup sekilas, tetapi entah mengapa saat aku mendengar napasnya yang memburu membuatku sedikit tergoda.


Aku menarik tengkuk lehernya lagi, lalu mengecap bibirnya berkali-kali hingga terdengar bebunyian dari bibir kami yang saling bertaut. Tangannya mulai menyentuh pinggangku lalu menjalar semakin naik hingga mengelus lembut salah satu bagian bukit kembarku. Ia menyelipkan lidahnya penuh gairah ke dalam mulutku, sambil salah satu tangan yang masih aktif bergerak memanjakan dan memijatnya.


Aku mencengkram kuat rambut di bagian belakang kepalanya sebagai tanda, bahwa aku sungguh menikmatinya. Lalu perlahan kami saling melepaskan karena kehabisan oksigen. Napas kami bersengal dengan mata yang saling menatap. Hanya berjarak beberapa senti, lalu dengan gesit Jefri mengecup ceruk leherku kilas dan tertawa. Setelah itu ia mengizinkanku untuk turun dari mobilnya dan melangkah memasuki kantor.


Aku menyapa semua karyawan bahkan rekan kerja yang aku kenali saat berpapasan di lobby ataupu di tangga menuju ke meja kerjaku di lantai dua. Namun jika aku tidak mengenali orang-orang tersebut, dengan reflek aku hanya akan memberikan sedikit senyumku pada mereka.


Aku langkahkan kakiku dengan perasaan yang cukup bahagia. Bukan tanpa alasan, aku sangat bahagia akan hubunganku dengan Jefri. Aku merasa ia benar-benar sungguh mencintaiku hingga membuatku selalu tersenyum setiap harinya. Sejenak melupakan masalahku sambil mencari jalan keluar dari masalah yang sedang aku hadapi.


Baru saja hatiku gembira, namun kembali menjadi suram begitu kulihat kondisi meja kerjaku dari kejauhan. Kudapati lagi sebuah kotak berwarna hitam yang menutup sebagian space kosong dari meja kerjaku. Aku penasaran, segera kupercepat laju langkah kakiku dan meraihnya.


From: Dana


For: My Love, Tika.


Begitulah yang tertulis pada secarik kartu yang terselip di atas kotak box berwarna hitam itu. Kali ini tanpa menduga atau tanpa berprasangka buruk, aku langsung membuka penutup kotak box itu lalu mendapati isi kotak berupa sebuah kue. Ya benar, kue seperti layaknya birthday cake. Sebuah kue strawberry yang berlapis cream tipis, yang berbeda hanyalah bagian atas kue yang bertabur dengan buah strawberry segar. Dan ini adalah kue kesukaanku.


Aku memandangi kue yang masih tersimpan rapi dalam box itu, hingga akhirnya sebuah senggolan bahu mengagetkanku.


"Apalagi isi kotaknya? Oh strawberry. Terlalu pagi untuk yang manis-manis." Metta membuyarkan pikiranku yang hampir ingin memakan kue itu.


Aku menyeringai sinis setelah Metta mengucapkan kalimat itu lalu duduk di kursi kerjanya. Tiba-tiba suara ponselku berbunyi dari dalam tas.


๐ŸŽถ


You so fuckin' precious when you smile

__ADS_1


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


๐ŸŽถ


Dengan cepat aku membuka tasku dan mengambil ponsel itu, lalu melihat siapa yang sedang menelponku. Dan lagi-lagi, kudapatkan sebuah panggilan telepon dari 'unknown number'. Aku sudah bisa menebak siapa yang menelponku itu.


"Sebuah kotak hadiah setiap hari yang kamu kirim, tetap gak akan mampu bikin hati aku berpaling. Walaupun isinya sebongkah berlian utuh, aku tetep gak akan mau balik sama kamu." Dengan lantang aku mengucapkan semua itu, namun berbalas hanya dengan sebuah kelakar gelak tawa yang menggema.


Batinku kesal mendengar gelak tawanya yang khas. Tawa itu seolah memperolokku. Meremehkan setiap kalimat yang aku ucapkan tadi. Namun akibat kekesalan itu, aku sampai mengucapkan beberapa kalimat menantang untuknya. Menantangnya untuk bertemu, karena jujur saja aku tidak suka seperti ini. Aku tidak suka di kirimi hadiah setiap hari, kemudian di telepon dengan nomer rahasia dengan dalih agar aku mencintainya kembali.


Mungkin baginya mengirimiku seperti ini, membuat hatinya puas dan bahagia, tapi tidak untukku. Aku membencinya dan aku merasa ini sudah seperti kelakuan orang sinting!


Benar, orang yang menelponku ini memang orang sinting. Mengapa sinting? Jelas saja, aku sudah memiliki suami dan sekarang sedang hamil. Lalu dengan mudahnya, ia menganggap aku bisa kembali padanya hanya dengan semua ini. Ia terlambat untuk mengemis hatiku kembali.


Kemudian dengan sombongnya, lelaki di seberang telepon sana mengatakan, bahwa ia akan terus mengirimiku barang-barang yang menjadi kesukaanku dan aku harus wajib menerimanya, jika tidak ia akan terus menyakiti Lisa. Menghancurkan hidup Lisa. Tunggu, tunggu dulu. Dia mulai mengancamku dengan memperalat Lisa?


Namun di saat lelaki itu sedang asyik memuja bentuk tubuhku dan mengatakan beberapa hal jorok, aku sibuk mengedarkan pandanganku, mencoba mencari tahu dari mana ia bisa melihat penampilanku pagi ini.


Sebuah kamera CCTV di tengah ruangan menjadi satu-satunya kecurigaanku. Lelaki itu terus saja mengoceh, mengatakan hal-hal yang menjijikkan sampai akhirnya aku merasa jengah lalu kuputuskan sambungan telepon itu sepihak. Aku menghela napas, lelaki itu sungguh membuatku semakin merasa kasihan padanya, bukan merasa jatuh hati.


'Sungguh Dana yang malang,' batinku.


Kemudian aku mencoba untuk rileks, mengambil napas lalu menghembuskannya, ku lakukan kebiasaanku itu berkali-kali hingga detak jantungku kembali berdetak dengan stabil. Lalu aku kembali memulai rutinitas pekerjaan kantorku hingga waktu istirahat makan siang.


"Tik, bukannya lu ada metting siang ini?" tanya Metta yang tiba-tiba memunculkan kepalanya dari bilik pembatas meja kerja kami. Aku hanya menatapnya sekilas.


"It was. Beberapa menit tadi beliau ada nge-chat, katanya untuk pertemuan awal biar beliau sendiri dulu yang handle sampai deal, kalau sudah, baru gua yang disuruh lanjutin."


Metta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti akan ucapanku. Lalu aku menawarinya untuk makan siang bersama, ia menyetujuinya. Kami memutuskan untuk makan siang di kantin kantor, berjalan bersama ke lantai bawah dengan membawa kotak kue itu di tanganku.


Sesampainya di kantin, belum lagi aku memesan makan, kotak kue itu langsung kuberikan pada pemilik kantin dan meminta beliau untuk membagikannya.

__ADS_1


"Gua juga mau, Tik!!" pekik Metta di belakangku lalu ia bergegas menyingkirkanku agar bisa mengambil potongan kue itu.


***


Sepulang bekerja, Jefri kembali menjemputku kemudian mengantarkanku ke rumah sakit untuk menjenguk Lisa sedangkan dia kembali lagi ke kantor, sebab pekerjaannya belum juga selesai.


"Aku antar kamu sampai sini aja ya? Gak papa 'kan? Nanti malam aku jemputin lagi," usul Jefri saat ia memberhentikan mobilnya di depan lobby rumah sakit.


Aku menyetujuinya kemudian aku turun dari mobil dan membiarkannya pergi hingga bayangan mobilnya menghilang di persimpangan jalan.


Sesampainya di depan ruang rawat inap yang Lisa tempati, aku melihat sesosok lelaki yang berdiri menghadap Lisa, namun membelakangiku yang melihatnya dari kaca depan pintu. Raut wajah Lisa tampak pucat saat menatap lelaki itu, bahkan Lisa terlihat serius menanggapinya. Aku ragu ingin membuka pintu kamarnya, padahal tanganku sudah menempel erat di knop pintu itu.


Sesosok lelaki itu berpenampilan sangat rapi, lengkap dengan setelan jas dan celana kainnya yang begitu licin dan mengkilat. Pundaknya begitu bidang jika dilihat dari belakang. Kedua tangannya menyelip ke dalam saku celananya, membuat penampilannya menjadi lebih semakin misterius. Namun ada satu bagian tubuh dari lelaki itu yang membuatku curiga, yaitu potongan rambutnya yang begitu rapi dan tampak klimis dari belakang. Jika lebih diperhatikan lagi, sesosok lelaki itu hampir mirip dengan perawakkan ... Dana.


"Maaf, Mbak ...." Suara sorang perawat yang menyentuh lenganku hingga membuatku menoleh padanya.


"Iya??" Aku menoleh ke arah perawat itu lalu memperhatikannya.


Perawat itu mengatakan bahwa ada seorang wanita yang memintanya untuk menyampaikan bahwa wanita itu ingin menemuiku di depan meja khusus perawat di lantai ini. Itu artinya aku harus segera mengikuti langkah perawat itu hingga ke tempat yang ia maksudkan.


Namun sesaat setelah sampai, aku tidak menemukan siapapun yang sedang menungguku di tempat itu. Bahkan sang perawat seolah berlagak kehilangan wanita yang menyuruhnya tadi. Seketika aku sadar bahwa ini hanya jebakan, agar lelaki yang kucurigai sebagai Dana itu bisa kabur, keluar dari ruangan Lisa. Mengingat semua itu, aku segera berlari kembali menuju ke ruangan Lisa. Sialnya setelah aku langsung membuka pintu ruangan itu, aku hanya mendapati Lisa yang sedang duduk sendiri di atas ranjangnya sambil meminum segelas air.


โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”


Loooohhhhhaaaaaaaaaaa ๐Ÿฆ€


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yang berupa VOTE, LIKE and COMMENT untuk judul ini ๐Ÿ˜


Tenang saja, semua comment kalian di episode sebelumnya sudah aku baca, dan akan aku perbaiki jika ada kekurangan. Terimakasih untuk support kalian selama ini.


With love, TikaLiesmana.


#SalamOtakMeeee ... ๐Ÿคญ


#salambucin๐Ÿ’‹

__ADS_1


__ADS_2