
Haikal POV.
Panik. Itulah yang aku rasakan sekarang. Berlari-lari aku membopong Clara menuju mobil. Secara tiba-tiba saja dia menutup mata lalu menjatuhkan tubuhnya lunglai hingga ambruk di atas lantai. Kecepatanku bergerak untuk menangkapnya tidak terlalu gesit seperti di film-film action.
Bahkan karena kecepatanku itu, aku menjatuhkan gelas yang aku gunakan untuk menikmati Ice Latte hingga pecah. Untung saja para pegawai di sana mengenaliku, hingga mereka membantu serta membiarkanku mengurusi Clara terlebih dahulu.
Kini mobilku sudah keluar dari wilayah parkiran mall, melaju menuju ke rumah sakit. Butuh waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit untuk sampai ke sana. Begitu jalanan terlihat lenggang, semakin aku injak pedal gas untuk menambah kecepatan. Agar semakin cepat pula untuk sampai di rumah sakit.
Sesekali kupandangi dia yang tergeletak di kursi belakang, terbaring pingsan tak sadarkan diri. Pikiranku kacau sekacau-kacaunya melihat kondisinya seperti ini.
Masa cuman karena kata-kata aku melamarnya tadi, bisa membuatnya seperti ini?
Begitu sampai, aku segera melarikannya ke UGD. Di sana ada Ranti, dia yang membantuku untuk menangani Clara. Karena pikiranku yang kacau serta jantungku yang tidak menentu, aku tidak berani untuk ikut dalam tindakkan yang akan dilakukan. Aku menunggu di luar.
Perasaanku saat ini benar-benar kacau, bingung, bahkan aku baru saja teringat akan kedua orangtuanya yang sedang ada di sini, di rumah sakit ini.
Apa yang harus aku katakan pada mereka?
Bagaimana caraku menjelaskan semuanya?
Sialan!! Kenapa hal ini harus terjadi?
Seharusnya tadi aku langsung saja memintanya jadi istriku, bukan berbelit mengatakan hal yang tidak penting.
Aku merutuki semua yang telah aku lakukan. Menyesali beberapa sikap yang mestinya tidak aku perbuat. Mestinya aku tidak melakukan semua ini terlalu cepat.
Aku terus saja menyalahkan diri sendiri. Duduk di ruang tunggu sambil menarik-narik rambut kepalaku. Air mataku menetes saat aku menundukkan kepalaku. Apa aku menyakiti Clara?
Tiba-tiba bahuku disentuh oleh sesuatu, lalu aku mendongakkan kepala sambil segera mencari tahu siapa yang menyentuh bahuku itu. Ternyata Ranti. Dia tersenyum padaku, membuatku sadar akan air mata yang berlinang di kedua pipiku, aku segera menghapusnya dengan tangan kasarku.
Ranti duduk di sampingku, masih dengan tangannya yang menggenggam bahuku, kemudian menepuknya pelan. Aku menghela napas sebelum membiarkan Ranti bicara.
"Dia gak papa. Cuman sesak napas." Ranti tersenyum menatapku. Dengan sambil mengelus pundakku, Ranti menjelaskan bahwa Clara diduga mengidap penyakit Asma. Oleh karena itu, Clara akan melakukan tes Spirometri untuk memeriksa cara kerja paru-parunya. Tes ini mengukur seberapa cepat dan banyak udara yang dapat dia hirup serta dia embuskan.
Jika tes itu sudah memiliki hasil konkrit. Maka tidak akan ada lagi tes lanjutan, seperti yang telah bundanya lewati.
Ranti juga menyarankanku untuk segera memberitahukan kondisi ini pada kedua orangtuanya. Aku hanya menganggukkan kepala dengan lemah
Setelah berkali-kali aku mengambil napas dan mempersiapkan diri untuk menemui kedua orangtuanya, barulah aku beranjak melangkahkan kaki menuju ke ruangan di mana terdapat ayah dan bundanya di sana.
Awalnya, aku masuk dengan perlahan lalu menyapa mereka. Untungnya, sang bunda belum tertidur. Dengan susah payah lidahku bergerak untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi pada anak semata wayang mereka.
Namun di luar dugaan, mereka menanggapi semua itu dengan begitu bijak dan tenang. Mungkin sang ayah sudah belajar dari kejadian sebelumnya. Ya, mungkin saja.
Dengan bantuan kursi roda, bundanya turun dari ranjang kemudian di dorong oleh suaminya, pergi menuju lantai bawah untuk melihat keadaan putri mereka. Aku merasa bersalah.
***
Tokk ...
Tokk ...
Tokk ...
Seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku. Aku berseru untuk mempersilakan orang itu masuk, ternyata Ranti. Dia langsung masuk dan duduk di kursi di depan meja kerjaku.
"Clara udah sadar. Sekarang lagi sama orangtuanya." Ranti membuka suara, lalu kembali menjelaskan kondisi Clara setelah siuman.
Aku tidak bisa berkata banyak, hanya diam dan mendengarkan ucapannya. Ada rasa takut dan khawatir yang menjadi satu. Membuat kepalaku serasa berdenyut.
"Lu gak mau ke sana? Ngeliatin?" Ranti memberikan opsi.
Aku berpikir sejenak sambil menatapnya lekat. Apa yang harus aku lakukan?
"Kal? Haikal?"
"Ya?" Aku tersadar dari lamunanku.
"Lu kenapa sih? Lu sayang sama tu dia?" Pertanyaan Ranti membuatku yakin, bahwa aku memang takut kehilangannya. Aku mengangguk menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Ya kalo lu sayang, kejar dong. Dapetin. Jangan kayak anak SMP yang malu-malu kucing. Digenjot sama kucing lain baru nyaho lu. Gigit jari." ucapnya sambil berdecih.
"Ya trus gua mesti gimana???"
"Ya datengin lah. Pake nanya lagi!"
Aku memastikan hatiku sekali lagi, sambil memegang kotak cincin yang sedari tadi kusimpan dalam saku celanaku. Yang membuatku berpikir bukan karena penyakit Asma-nya yang baru aku ketahui. Tapi aku takut akan reaksi kedua orangtuanya. Apa mereka tahu jika anaknya juga mengidap penyakit itu?
"Yaelah pake mikir lagi. Udah sana!!" Ranti kembali membuyarkan lamunanku.
Beginilah aku, terlalu banyak berpikir dan hanya berpikir. Aku menyadari jika aku memang kurang dalam bertindak. Kurang terbiasa untuk menanggapi hal-hal semacam ini. Aku menghela napas beberapa kali, kemudian berdiri dan segera beranjak menuju UGD.
Terlintas sekilas senyuman Clara yang selalu hadir dalam pikiranku. Dalam langkahku itu, aku mencoba mengatur detak jantungku. Mencoba menenangkan sedikit rasa gugupku untuk menghadapi kedua orangtuanya.
Aku harus gentle!
Aku yang menyebabkannya pingsan.
Setibanya di depan bilik tempatnya terbaring, aku mengatur napasku, sebelum kusingkap gorden yang membatasi di depan wajahku ini.
Sraakk!!
Gorden itu kusingkap. Wajah Clara terlihat lesu. Sedangkan kedua orangtuanya menatapku nanar.
"Hai, gimana kondisi kamu?" Kulangkahkan kakiku mendekatinya dari sisi sebelahnya yang kosong. Dia hanya menatapku dengan mata sendunya.
"Maaf jika perkataanku tadi bikin kamu kaget. Aku cuman—"
Clara meraih tanganku lalu menggenggamnya, membuatku menghentikan ucapanku selanjutnya. Mata kami saling berpandangan. Seolah membiarkan saling memahami isi hati.
Kemudian aku membuang pandanganku, menatap kedua orangtuanya secara bergantian. "Om, Tante, saya ingin meminta izin untuk menikahi Clara. Apapun yang terjadi nantinya. Dan seperti apapun dia nantinya, saya akan berusaha untuk tetap mencintainya," ucapku yakin sambil menggenggam erat tangannya.
Sesekali aku menatap Clara yang tercengang. Sedangkan kedua orangtuanya terdiam, lalu mengembalikan semua jawaban dan keputusan kepada Clara.
Kurogoh kotak cincin yang ada dalam saku celanaku, kemudian kubuka dan kusodorkan padanya. Ujung matanya seakan menahan genangan air mata yang tidak mampu lagi dia bendung.
"Sebenarnya aku ingin berlutut di lantai, mengatakan ini sekali lagi. Biar kayak di film-film, tapi kayaknya gak mungkin. Ntar kamu gak liat," ucapku datar dengan mengangkat kedua bahuku sekilas.
"Jawab dong, jangan angguk-angguk aja. Aku butuh jawaban dan kepastian ini," rengekku.
"Iya iya. Aku mau," sahutnya sambil mengusap air mata di pipinya lalu tersenyum menatapku.
Tidak bisa lagi aku ungkapkan bagaimana rasanya hati ini. Tidak ada satu katapun yang bisa melukiskan perasaan ini. Terlalu indah dan terlalu bahagia.
Kedua orangtua Clara pun terlihat senang, tersenyum menatap kami.
***
"Kamu enggak kerja apa?" tanya Clara saat aku senang menungguinya di ruang rawat inap.
Ya, Clara telah di pindahkan ke kamar inap, sebab kondisinya telah dinyatakan stabil dan butuh istirahat. Sambil menunggu besok pagi, untuk melakukan tes lanjutan pada dokter spesialis paru.
Pakaiannya pun telah digantikan dengan pakaian khusus pasien rawat inap. Sekarang kami hanya berdua di ruangan ini. Ayahnya masih menemani bundanya di ruang rawat inap yang berbeda. Beliau memintaku untuk menjaga dan menemani putri semata wayangnya ini. Aku menyanggupinya. Lagi pula, jam kerjaku bisa ditukar dengan Ranti ataupun Adam.
Namun sebenarnya bukan itu alasan utama aku menyanggupi permintaan ayahnya itu, melainkan aku merasa banyak yang perlu aku bicarakan dengannya.
Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya, sedangkan mataku tak henti-henti untuk menatapnya. Aku tidak mengira dia akan menerima lamaranku ini dan disetujui pula oleh kedua orangtuanya. Dan di umur kami sekarang, rasanya terlalu kekanak-kanakkan jika mengadakan pesta perkawinan yang megah.
Astaga, jauh sekali pemikiranku ke arah ini. Tapi rasanya tidak adil jika melakukan pesta sederhana untuknya, sebab dia adalah anak tunggal. Dan kedua orangtuanya pasti menginginkan pesta pernikahan anaknya yang meriah dan habis-habisan.
"Kamu mikirin apa sih? Keliatan banget kalo lagi mumet," tegurnya sambil mencoel ujung hidungku. Aku tersenyum, kemudian mencium punggung tangannya.
"Mmm, kamu maunya kapan?"
Clara memundurkan kepalanya, terkejut. "Kapan apanya? Jangan ambigu deh kalo ngomong."
Aku terkekeh geli di balik genggaman tangan kami. Kembali menatap wajahnya yang manis, tidak membuatku bosan.
"Hei, tadi pertanyaannya apa? Mau dijawab gak? Katanya tadi butuh jawaban dan kepastian," ledeknya dengan senyum simpul.
__ADS_1
Aku kembali terkekeh. Kemudian Clara mengangkat tangan kirinya sambil memerhatikan cincin berlian yang kini terlilit di jari manisnya. Cocok dengan kulitnya yang bersih bersinar.
Padahal di punggung tangan kirinya sedang tertancap jarum infus untuk asupan tubuhnya. Tapi dia tidak ragu untuk menggerakkannya, bahkan terlihat senyuman yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Kamu seneng gak?"
Dia langsung menoleh menatapku, lalu menutupi mulutnya dengan tangannya sambil memperlihatkan cincin itu padaku. "Bagus gak?"
Aku terus saja tersenyum melihat tingkahnya. Kedua sudut bibirku tak henti-hentinya tertarik, mengembangkan senyum bahagia.
"Kalau gak bagus, mana mungkin aku pilih jari itu untuk jadi pemiliknya," jawabku sesimpel mungkin. Sedangkan dia mengulum senyumnya.
Pipinya menjadi merah merona, malu-malu.
Terbesit sebuah pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya. Tapi aku ragu untuk mengucapkannya, sebab pertanyaan ini adalah pertanyaan yang klise menurutku. Pertanyaan yang jika diajukan, pasti akan membuat bingung. Karena begitu juga yang akan aku alami, jika tiba-tiba pertanyaan ini dilontarkan padaku.
"Kenapa kamu mau aku nikahi?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku tanpa bisa aku tahan.
"Trus kenapa kamu minta aku jadi istri kamu?"
Aku tertawa terbahak-bahak. Benarkan? Akhirnya pertanyaan ini akan menjadi boomerang untukku. Pertanyaan yang penting untuk di tanyakan karena membuat penasaran, tapi juga merupakan pertanyaan jebakkan. Aku kembali menciumi punggung tangannya.
"Kita belum lama kenal dan aku tahu kita masih perlu untuk saling memahami karakter masing-masing. Tapi untuk hubungan di awal ini aku mau jujur satu hal sama kamu. Boleh?" ucap Clara memandangiku dengan mata sendunya.
Aku mengernyitkan sebelah alisku. "Apa itu?"
Jantungku langsung berdegup tak karuan, spontan setelah mendengar ucapannya. Mataku hanya terfokus memandangi gerak bibirnya, menantikan jawaban akan pengakuan jujurnya.
Dengan selang oksigen yang masih menempel di lubang hidungnya, dia menghela napasnya lalu mengembuskan perlahan. Kemudian menatapku.
"Aku mengidap penyakit Asma dan aku yakin, kamu pasti sudah tahu," ucapnya penuh penekanan. Aku mengangguk.
Kemudian dia menceritakan jika, kurang lebih sebulan yang lalu dia pernah jatuh pingsan karena sesak napas, sama seperti tadi sore. Lalu dokter di rumah sakit yang sebelumnya mendiagnosa jika adanya penyakit Asma yang mengidap pada pernapasannya.
Lalu dokter itu juga mengatakan jika saat itu sudah termasuk dalam golongan yang kronis. Tapi dia menolak untuk mempercayainya. Dia juga sengaja meminta pihak rumah sakit untuk tidak memberitahukan itu kepada kedua orangtuanya. Maka saat orangtuanya bertanya, dia hanya menjawab pingsan karena kelelahan bekerja.
Jadi pada saat dia sadar dari pingsannya, dia melihat bundanya yang menangis tersedu. Ditemani oleh ayahnya yang berdiri di pinggiran brankar tempat dia terbaring di bilik UGD tadi.
Kedua orangtuanya terkejut dengan pernyataan dari dokter Ranti sebelum dia sadarkan diri. Yang menyatakan bahwa dia mengidap penyakit Asma. Hingga saat dia sadarkan diri, bundanya langsung memeluknya dan meminta maaf atas penyakit yang disebabkan oleh bundanya itu, karena kedua orangtuanya mengira, penyakit itu disebabkan oleh bawaan genetik.
Namun untungnya, setelah dokter Ranti kembali. Ia kembali menjelaskan, jika Asma bukanlah penyakit genetik, melainkan disebabkan oleh faktor lingkungan.
"Trus bunda kamu gimana akhirnya?"
Kejadian itu terjadi saat aku memang sedang di dalam ruang kerjaku, sibuk berpikir serta menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi.
"Ya udah gak apa-apa. Cuman bunda keliatan kayak ngerasa bersalah gitu. Apalagi ayah, dia kayak tertekan, takut. Waktu bunda pingsan aja, ayah panik luar biasa. Tapi mungkin dia tahan, dia tutupin, biar aku gak ikutan panik," ceritanya santai dan teratur.
Aku menghela napas. "Aku akan usahain jaga kamu, apapun yang terjadi nanti ke depannya, jangan kamu pikirin dulu. Yang terpenting, kita jalani yang sekarang," ucapku tegas sambil menggenggam erat tangan kanannya dengan kedua telapak tanganku.
Tiba-tiba air matanya jatuh, menetesi kedua pipinya. Masa karena ucapanku?
Aku segera beranjak dari kursiku dan duduk di sampingnya lalu membawanya masuk ke dalam dekapanku. Mengelus rambutnya yang lembut dan wangi. Lalu mengecup puncak kepalanya, lama. Hingga dia membalas dekapanku, melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku dan mengeratkannya.
Aku berjanji akan mencintainya sepenuh hatiku.
Aku berjanji akan menjaganya hingga maut memisahkan kami.
Dan aku berharap, dia sehat dan selalu bisa mendampingiku hingga hari tua kami bersama.
Doaku dalam hati.
Bersambung ...
———————————————
Jangan lupa kasih ratting, like tiap episodenya, trus kasih komen sebanyak-banyaknya yaah 💋
__ADS_1
#salambucin💋