Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 106


__ADS_3

Still Tika POV.


Dengan sisa tenaga yang kumiliki akibat semuanya, kutekan lampu baca yang berada di samping ranjangku. Betapa terkejutnya aku setelah mendapati lelaki yang berdiri dari lantai itu adalah suamiku sendiri.


Ya, dia Jefri. Lelaki yang barusan aku tendang dengan sekuat tenaga itu adalah Jefri. Ia berdiri sambil menatapku dengan mata yang membulat, kerutan di dahinya serta mulutnya yang menganga sempurna.


Aku mencengkram erat bed cover yang telah menutupi tubuhku. Menangis menatap suamiku sendiri. Bagaimana mungkin aku melihat wajah Dana dalam remang-remang cahaya lampu tadi? Padahal itu memang jelas-jelas suamiku sendiri.


Jefri segera mendekatiku, merengkuh tubuhku yang terasa lemah olehku sendiri. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukkannya. Perlahan Jefri menanyakan padaku, apa penyebabnya jadi aku sampai berani menendangnya tadi. Menjatuhkannya dari atas ranjang dengan sekuat tenaga.


Dan dalam sela isak tangisku, aku mencoba menjelaskan padanya. Bahwa penglihatanku yang salah. Aku melihat raut wajah Dana yang menyeringai licik padaku. Seperti seorang lelaki yang telah berhasil menikmati dengan paksa tubuh wanitanya.


Aku memeluk Jefri dengan begitu kuat. Tidak sedikitpun ia marah karena telah aku tendang tadi. Bahkan saat ini, dengan sabarnya ia mengelusku, menenangkanku hingga aku terlelap dalam sisa isak tangisku.


"Pak Hardi, saya belum bisa masuk kantor hari ini. Kemungkinan besok baru bisa. Saya juga sudah mempelajari beberapa dokumen yang dikirimkan kemarin. Iya, tiba-tiba ada hal lain yang lebih penting. Terima kasih." Suara samar dari Jefri itu membuatku terbangun.


Perlahan aku membuka kelopak mataku. Kudapati wajahnya yang tersenyum menatapku. Semalaman aku tertidur dalam dekapannya, dengan lengannya sebagai alas kepalaku.


Jefri kembali merengkuh tubuhku, sambil menggenggam ponselnya. Mengecup keningku. Lalu membelai rambutku. Mungkin ponselnya sudah di letakkannya di belakangku. Entahlah.


Semakin kubenamkan kepalaku pada dada bidangnya. Menghirup aroma tubuhnya yang membuatku tenang. Ya, aku masih ingat dengan jelas kejadian tadi malam. Aku sendiri tidak habis pikir, mengapa mataku bisa memunculkan wajah Dana saat itu?


"Sudah ... ayo bangun. Mata kamu sembab. Biar kita kompres. Setelah agak mendingan, mungkin kita bisa ke rumah mamah Ida, gimana?" bujuknya.


Aku mendongakkan kepalaku. "Kenapa gak ke kantor? Ini hari pertama 'kan? Aku udah baikan."


Jefri menggelengkan kepalanya pelan lalu membelai wajahku. "Kamu lebih membutuhkan aku di sini."


"Tapi ntar siang aku masuk kerja," lirihku.


Kemudian Jefri tersenyum lalu mengatakan padaku bahwa ia sudah menelepon bos-ku untuk meminta izin sakit, sepulang dari liburan kami dan bos-ku mengizinkan. Aku bernapas lega.


Untuk beberapa saat kami masih saling mendekap di atas ranjang. Hingga akhirnya aku mengutarakan permohonan maafku karena telah menendangnya. Jefri malah tertawa sambil mengelus punggungku yang polos.


"Mungkin lebih baik ke depannya kita main di terang kali ya? Gak usah main gelap-gelapan lagi," sarannya yang membuatku tertawa.


Aku menyelipkan tangan kiriku ke pinggangnya lalu mencium dadanya. Sedangkan ia mencium pucuk kepalaku. Lalu samar-samar ia kembali berbisik, "Mau main sekarang gak?"


***


Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Aku dan Jefri telah membersihkan diri setelah bergumul lama di atas ranjang. Dan tentunya dengan cahaya penerangan yang cukup.


Sama-sama saling menuntaskan hasrat yang tertahan akibat halusinasiku yang berlebihan tadi malam.


"Sayang, kita sarapan di luar aja ya? Jadi kamu gak usah capek masak," saran Jefri setelah selesai mengenakan kaosnya lalu mencium pucuk kepalaku. Sambil memandangiku dari pantulan cermin. Mengelus dagu serta leherku saat aku baru selesai ber-make up dan mengeringkan rambutku.


Aku menggenggam lengannya yang menyentuh leherku. "Aku tunggu di mobil," ucapnya lagi. Belum sempat tangannya lepas, aku kembali menariknya. Memintanya untuk mencium bibirku. Dengan kepala yang kutengadahkan dan bibir yang sengaja kumoncongkan. Mata kami masih saling menatap lewat pantulan cermin itu.


Ia kembali mendekatiku. Meraih leherku dan membuat tengadah kepalaku lebih sempurna lalu ******* bibirku. Dengan puncak kepalaku yang di sematkannya pada dada bidangnya. Hingga ujung hidungku menyentuh dagunya. Begitu pula sebaliknya.


Cukup lama hingga lidahnya menyelip dan kami kehabisan napas. Lalu tertawa bersama. Kini perasaanku telah kembali normal, kembali seperti biasanya.


Setelah sarapan, kami segera menuju ke rumah mamahku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Walaupun sesaat sebelum keberangkatan kami liburan kemarin mamah menyusulku ke bandara. Rasanya tetap saja merindukannya. Ya, aku sangat merindukannya.

__ADS_1


"Maahh ... Mamaahh ...," teriakku setelah memasuki rumahnya.


Aku hanya bertemu dengan bi Mince yang sedang membersihkan meja ruang tamu. Kemudian aku memeluk beliau, aku juga merindukannya. Lalu aku menanyakan di mana keberadaan mamah padanya. Aku segera mendatangi mamah.


Tidak lagi aku hiraukan Jefri yang terus saja membuntutiku di belakang.


Seperti biasanya, jika jam siang seperti ini, mamah pasti berada di dapur. Sedang memasak atau sedang makan siang. Dan itu pula yang tadi dikatakan oleh bi Mince.


Mamah sudah selesai dari makan siangnya, laly memelukku saat melihat kedatanganku. "Mamah kangen banget sama anak perempuan mamah satu-satunya ini," rengek mamah yang terdengar sangat lucu bagiku.


"Gimana liburannya? Kandungan kamu baik-baik aja 'kan?!" Mamah mulai cerewet karena mungkin mengkhawatirkanku.


Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu mengatakan bahwa kandunganku baik-baik saja dan balik bertanya, menanyakan kondisinya yang terlihat kurang lesu dari raut wajahnya.


Jefri juga memeluk mamah, mencium tangan mamah. Lalu memberikan bingkisan oleh-oleh yang kami beli khusus untuk mamah. Mamah menerimanya dengan senang. Kemudian Jefri meminta izin untuk duduk di ruang televisi sambil mengecek laptop-nya.


Tak lama setelah Jefri menghilang dari dapur, mamah menyuruhku untuk duduk. Banyak yang beliau tanyakan padaku. Mamah juga menyodorkan beberapa macam buah-buahan untukku. Aku merasa senang dapat bercerita pada mamah tentang liburan kami.


Rasanya aku seperti kembali saat bujangan dulu. Duduk bercengkrama dengan mamah di dapur sambil melihatnya memasak. Kini aku sudah menikah, dengan seorang bayi yang tumbuh dalam rahimku. Mamah mengelus pelan perutku lalu memelukku lagi.


Kini aku beranjak untuk mendatangi Jefri di ruang tengah. Dia sedang asyik dengan tatapan mata yang terfokus pada layar laptopnya. Belum sampai aku menghampirinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


🎢


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Figure out where we're growin'


🎢


Dia melirik layar ponselnya lalu membiarkan ponselnya berdering untuk beberapa saat. Membuat langkah kakiku lebih melambat dari pada sebelumnya.


Sampai akhirnya Jefri mengangkat panggilan telepon itu. "Hallo?" Ia nampak ketus menjawabnya.


"Iya, kabari terus. Aku butuh perkembangan." Kalimat itu yang terakhir diucapkannya, sesaat sebelum kududuk di sampingnya. Lalu ia memutuskan sambungan telepon itu.


Aku sempat menanyakan siapa yang menelepon, tapi jawaban Jefri 'bukan siapa-siapa'.


***


Hari sudah semakin sore. Saat Lisa datang ke rumah mamah dengan membawakan berbagai macam keperluannya untuk menyiapkan pernikahannya.


Ya, memang masih lama, sekitar tiga bulan lagi. Tapi kali ini dia memintaku untuk membantunya memilih design undangan yang akan dibuatnya.

__ADS_1


"Tikaaaaaaa!" teriaknya begitu membuka pintu depan rumah mamah. Berjalan berlenggang dengan kedua tangannya yang penuh dengan barang bawaan.


"Kebiasaan teriak-teriak." Aku masih duduk santai dengan Jefri sambil menonton televisi.


Lisa mendekat dan langsung duduk di sebelahku, lalu melepaskan beberapa barang yang tadi dibawanya.


Sebelumnya Lisa memang mengabariku lewat pesan singkat, jika dia hendak menemuiku. Untungnya aku cepat membalas, jika tidak dia pasti sudah meluncur ke kantorku.


Lisa memperlihatkan beberapa design undangannya serta beberapa contoh bahan kertasnya. Lalu memperlihatkan beberapa foto kue pernikahan serta foto gaun pengantin.


Akan tetapi, di saat kami sedang asyik, secara tiba-tiba saja ponsel Jefri kembali berdering.


🎢


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Figure out where we're growin'


🎢


Jefri meraihnya dengan mata yang masih terfokus pada laptopnya itu. Aku melihatnya yang memasang tampang aneh dengan beberapa kerutan di dahinya. Lalu tak lama menempelkan ponselnya ke telinga.


"Hallo? Siapa?!" Jefri menoleh padaku setelah nadanya yang sedikit naik, "lakukan apapun yang bikin lu puas. Tapi jangan harap bisa nyentuh apapun yang sudah jadi milik gua!" Kemudian ia memutuskan sambungan telepon itu.


"Siapa?" tanyaku sambil menatapnya. Jefri hanya menggelengkan kepalanya, tersenyum lalu mengelus kepalaku. Aku menatapnya penuh curiga.


"Kalian mau minum? Aku bikinin sekalian." Jefri berdiri sambil meraih gelas minumnya yang sudah kosong. "Ya udah aku bikinin."


Belum lagi aku menjawab Jefri sudah beranjak pergi menuju dapur. Aku menyenderkan punggungku pada sofa. Mencoba menerka siapa yang menelponnya tadi.


"Udah gak usah dipikirin." Lisa tahu betul jika aku memang tipe pemikir dan penasaran akut. Dia kembali menyodorkan album gambar dari gaun-gaun pengantin.


Sesaat jiwaku memang terasa ada di sana, tapi beberapa saat kemudian kembali menghilang. Hanya karena sebuah panggilan telepon itu, aku sampai harus seperti ini.


β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”


Lohaaaa πŸ₯³


Kali ini aku akan meminta kebesaran hati kalian untuk melakukan VOTE pada judul karya ini 😁 Jika dinyatakan masuk 20 besar pada senin depan. Aku akan update kembali setiap harinya πŸ˜‚


Gimana? Setuju??


Silahkan untuk melakukan ritual setelah membaca, habiskan poin kalian untuk judul karyaku ini πŸ’ƒ

__ADS_1


#salambucin


With love, tika.


__ADS_2