Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 86


__ADS_3

Warning Adult Content!!!


Jangan coba membacanya jika belum berumur 21+


Tika POV.


Aku memainkan ponselku sejak tadi hingga menjadi lupa diri, lalu mendongakkan kepalaku menatap jendela, langit di luar sana sudah mulai gelap. Sekilas kulihat Alex yang juga sedang memainkan ponselnya. Terlihat jelas dari posisiku sekarang, jika ia sedang bermain game kekinian 'Mobile Legend'. Kemudian aku melayangkan pandanganku ke arah di mana Lisa sedang terlelap.


Tak berapa lama pintu ruangan terbuka, aku menunggu siapa orang yang muncul di balik pintu itu. Ternyata seorang wanita dan lelaki paruh baya, tersenyum padaku.


"Loh mama, papa?" seru Alex yang kemudian berdiri menyalimi punggung tangan mereka satu persatu.


Dari cara Alex menyapa mereka, dapat kupastikan jika mereka berdua adalah orangtua Alex. Kemudian aku tersenyum sambil beranjak berdiri mendekati mereka, melakukan hal yang sama yang Alex lakukan, menyalimi punggung tangan mamanya dan papanya secara bergantian. Lalu mempersilakan mereka untuk duduk di sofa.


Di saat yang bersamaan, Lisa melenguh, ia terbangun dari tidurnya lalu segera duduk sambil mengucek-ngucek matanya. Ia tersentak, kaget mendapati di depannya kini berdiri kedua orangtua Alex, calon mertuanya.


Alex dengan gesit langsung menghampiri Lisa, diikuti dengan kedua orangtua Alex. Lalu dengan santai papa Alex berkata, "Kamu gak apa-apa 'kan?"


Sekilas Lisa melirik Alex yang berdiri di samping ranjangnya, sebelum menjawab pertanyaan dari papa Alex. Lalu Lisa menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. Namun sepertinya mama Alex seakan menyadari raut wajah Lisa yang terlihat tertekan dengan mata yang masih terlihat sembab. Beliau dengan lembut mengusap bahu Lisa lalu meraih tangannya. Duduk di samping Lisa di atas ranjang itu.


Aku memerhatikan mereka. Mama Alex dengan lembut membelai tangan Lisa, kemudian mengatakan bahwa beliau kemari tidak ada maksud untuk memaksa Lisa agar kembali pada Alex. Mungkin Alex sudah menceritakan kepada kedua orangtuanya tentang apa yang terjadi antara dia dan Lisa, hingga kedua orangtuanya datang menjenguk. Atau mungkin om dan tante Alex kemarin yang mengabarkan kepada kedua orangtua Alex, bahwa Lisa dirawat di rumah sakit. Entahlah, yang jelas saat ini mereka berkumpul.


Dari kejauhan dapat kulihat kembali, kedua bola mata Lisa yang kembali berkaca-kaca, siap untuk menjatuhkan bulir-bulir airmatanya. Ternyata benar saja, saat salah satu tangan mama Alex mencoba menyentuh salah satu sisi pipi Lisa, dengan spontan tangan Lisa juga meraih jemari mamanya Alex lalu memeluk beliau dengan begitu erat.


Lisa memang merindukan kehangatan sebuah keluarga. Itu terbukti saat kemarin mamahku datang dan juga memeluknya, ia meneteskan airmatanya. Kali ini pun sama, Lisa lagi-lagi meneteskan airmatanya namun saat ini lebih banyak dari sebelumnya. Lisa seakan meluapkan rasa bersalahnya.


Belum lama situasi itu berlangsung, pintu ruangan kini kembali terbuka lalu tertutup seketika, menghadirkan sesosok pria yang aku cintai di balik ambang pintu itu. Siapa lagi kalau bukan Jefri. Dengan sebuah kresek disalah satu tangannga, ia mengenali kedua orangtua Alex lalu bersaliman satu persatu. Jefri juga menyapa Lisa, menanyakan bagaimana kondisi Lisa saat ini dan Lisa menjawab seadanya setelah mencoba menghapus airmatanya dan kembali menenangkan perasaannya.

__ADS_1


Jefri beranjak dari sana, setelah memberikan kantong kresek itu pada Alex, kemudian melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah di mana aku duduk. Ia membungkukkan tubuhnya, kedua tangannya meraih masing-masing dari pipiku lalu mendongakkan kepalaku menghadap padanya. Ia mencium kilas keningku lalu beringsut duduk di sampingku.


"Maaf lama ya?" lirihnya pelan, aku menatapnya sambil tersenyum manis.


"Udah kelar semua?"


Jefri menjawab pertanyaanku dengan anggukkan kepalanya yang tegas. Lalu ia mengatakan bahwa besok sampai weekend nanti ia tidak akan langsung masuk ke perusahaan papanya, melainkan mengambil libur dulu sebelum kembali bekerja. Walaupun dengan posisi dan jabatan yang berbeda.


Setelah melihat Lisa yang kembali tersenyum dan tertawa akibat candaan dari papanya Alex, aku merasa lega. Kemudian aku dan Jefri memutuskan untuk segera pulang. Sebab esok hari aku masih harus bangun pagi untuk berangkat ke kantor. Aku meraih tasku di atas meja lalu melangkah bersama Jefri menuju ranjang Lisa dan berpamitan. Alex juga mengatakan bahwa dirinya yang akan menemani Lisa malam ini. Yang mana artinya, Alex akan menginap di sini.


Aku menjadi merasa semakin lega begitu mendengarnya. Lalu aku dan Jefri juga berpamitan dengan kedua orangtua Alex.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung menaiki anak tangga menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhku.


Aku mulai menyalakan keran air hangat untuk mengisi bathup lalu meneteskan beberapa tetes campuran aroma therapy setelah mencampur air tersebut dengan bath soap. Sembari menunggu air di sana penuh, aku membersihkan wajahku dengan bantuan makeup remover yang aku tuangkan di atas kapas.


Setelah itu aku segera menanggalkan pakaianku, satu persatu dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Memutar keran air untuk menutupnya. Lalu perlahan aku mencelupkan kakiku bergantian, memasuki bathup dan duduk berselonjor. Perlahan aku basahi pundak hingga leherku yang tidak ikut terendam. Setelah itu aku mencoba menghirup aroma wangi yang semerbak dalam ruangan ini, yang ujar wanginya dapat menenangkan pikiran.


Setelah itu aku memutuskan untuk mencoba memejamkan mata. Merebahkan kepalaku pada sandaran kepala bathup hingga akhirnya aku terlelap.


"Sayang ...." Jerfi memainkan jari jemarinya yang menari menyusuri tubuhku dari balik busa yang dihasilkan oleh bath soap tadi.


Perlahan sayup-sayup aku mendengar suara Jefri yang memanggilku hingga aku membuka kembali kedua mataku. Mengerjab berkali-kali agar penglihatanku kembali normal. Dengan tanganku yang mencoba menangkap tangannya agar berhenti menggerayangi tubuhku.


Aku terbelalak begitu penglihatanku kembali normal dan terang, melihat Jefri yang sudah bertelanjang dada dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Duduk tersenyum di pinggiran bathup sambil menatapku dan dengan tangannya yang berhasil aku tangkap.

__ADS_1


"May I join with you?" Jefri berdiri sambil bersiap melepas lilitan handuknya, aku mengangguk.


Jefri langsung masuk ke dalam bathup, mengambil posisi duduk berselonjoran di belakangku. Lalu ia menyelipkan kedua tangannya pada pinggangku dan menarikku, agar tubuh kami saling melekat. Ia memelukku dari belakang. Masih dengan kedua tangannya yang melingkar ke atas perutku. Suamiku ini terlalu manja jika sudah begini. Ia menyelipkan kepalanya di sela-sela ceruk leherku lalu berkali-kali menciumi leherku. Hingga aku melenguh tergoda.


Satu tangannya mengelus lembut permukaan perutku, kemudian tangannya yang satu lagi sedang asyik bermain dengan salah satu bukit kembarku. Memilin dan memijatnya. Hingga akhirnya aku kembali melenguh sambil menggerakkan kepalaku, menghindari gerakkan dari mulutnya. Namun sayang, Jefri sudah terlalu ahli dalam memainkan gerakkan untuk membuatku terpuaskan.


Kini mulutnya sudah berhasil mengisap ujung daun telingaku. Untung saja aku sedang tidak menggunakan anting hari ini. Hingga pada akhirnya lidahnya kini memasuki lubang telingaku dan bermain di sana. Membuat hasratku kembali bergairah.


Jefri menghentikan aksinya, mengecup mesra pipiku, kemudian ia berdiri meraih keran shower dan mengajakku berbilas. Jika sudah begini, aku paham maksud hatinya.


Ia menangkupkan kedua telapak tangannya pada masing-masing pipiku, lalu mengecup lembut bibirku di bawah guyuran air. Perlahan kuselipkan kedua tanganku, masuk melepaskan dekapan kedua tangannya di pipiku lalu kulingkarkan tanganku di pundaknya. Dengan tubuh yang masih basah ia mengangkatku keluar menuju kamar. Sebelum itu ia sempat meraih selembar handuk yang ia kenakan di awal.


Direbahkannya tubuhku dengan penuh hati-hati di atas ranjang. Aku yang dari tadi hanya diam, kini jadi terkekeh geli. "Kamu kenapa dua malem ini jadi begini?"


Jefri hanya menyeringai. Ia meneruskan kegiatannya mengeringkan tubuhku dengan handuk. Begitu pula dengan tubuhnya, dikeringkan menggunakan handuk yang sama. Kemudian ia berdiri, meraih celana trainning panjangnya lalu mengenakannya. Sedangkan baju kaosnya diberikannya padaku.


"Duduk, pakai ini," titahnya.


Jika Jefri sudah dalam mode tegas seperti ini, jujur saja aku seakan takut dengan suami sendiri. Namun berbeda dengan malam ini. Ia kembali menyuruhku berbaring, lalu mematikan lampu dan segera bergabung denganku di balik selimut hangat kami. Saling memeluk dan saling menikmati sunyinya malam.


"Tadinya aku pikir kamu mau ngajakin mak—" Perkataanku dihentikan oleh sebuah jari yang menyentuh bibirku, dapat dipastikan jari itu milik Jefri bukan jari yang tiba-tiba muncul seperti di film-film horor. Jari yang tanpa wujud pemiliknya.


Jefri kembali terkekeh kemudian memelukku erat dari samping.


———————————————


Jangan lupa dilike trus dikomeeeennn 🤭

__ADS_1


With bucin, Tikaliesmana.


__ADS_2