
Tika POV.
Aku mencoba tenang, setelah banyak aku habiskan airmataku untuk menangisi Lisa. Aku menatap Lisa yang terbaring lemah tak berdaya. Memegangi tangannya sebagai tanda memberi kekuatan untuknya. Entah apa yang membuat Lisa menjadi seperti ini. Baru kemarin malam kami bersenda gurau bersama, duduk semeja untuk makan malam yang istimewa. Aku bahagia melihat tawanya yang berkali-kali pecah karena candaan Max dan Jefri.
Namun pagi ini, hatiku kembali berduka melihat kondisinya, walaupun hanya pingsan. Aku kembali menciumi punggung tangan kanannya. Lisa sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Kurebahkan dahiku pada tangannya yang kuletakkan di samping tubuhnya. Aku menghela napasku berkali-kali, mencoba menenangkan detak jantungku yang berdegup tak beraturan. Sebelum sesuatu terasa menyentuh bahuku.
Aku menoleh untuk mencari tahu siapa yang ada di belakangku, ternyata Haikal.
"Lisa mau di pindahin ke ruang rawat inap dulu, sekalian di bersihin badannya." Haikal memintaku untuk melepaskan genggamanku, aku menurutinya.
Para perawat langsung mengambil alih bilik itu, sedangkan Haikal membawaku untuk duduk bergabung dengan Jefri. Aku langsung menghambur ke pelukkannya, menahan tangisku dan berusaha menguatkan diriku sendiri.
"Udah, Lisa baik-baik aja 'kan. Kamu jangan khawatir lagi, 'kan Haikal langsung yang tanganin," ucap Jefri sambil membelai lembut kepalaku.
"Permisi, Dok, pasien atas nama Nona Lisa Stillman belum terdaftar untuk masuk ruang rawat inap," ujar seorang perawat yang mendatangi kami. Aku kembali duduk dengan tenang di samping Jefri. Sambil memperhatikan Haikal yang berjalan menjauh menuju meja center UGD dan mengurus beberapa dokumen untuk Lisa.
***
"Kamu udah kabarin mamah?" tanya Jefri saat kami berada di dalam lift menuju ke ruangan Lisa. Sedangkan Lisa di antar oleh para perawat melalui lift khusus untuk pasien, didampingi oleh Haikal.
Aku membuka tas selempangku dan mencari ponselku di dalamnya, kemudian segera menekan nomer mamah.
Tuutt..
__ADS_1
Tuutt..
"Hallo, Mah? Lisa masuk rumah sakit, enggak, dia pingsan. Iya ... ya udah, biar Jefri yang jemput. Hm, bye." Kuakhiri sambungan telepon dengan mamah dan keluar dari lift. Jefri mengenggam tanganku sambil berjalan bersama menuju ruangan Lisa.
Kondisi Lisa masih tidak sadarkan diri, dengan selang oksigen yang terpasang di kedua lubang hidungnya dan selang infus yang menembus urat nadi di lengan kirinya. Tapi kini Lisa terlihat jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya, sebab pakaiannya telah digantikan dan wajahnya telah dibersihkan.
Para perawat mengecek sekali pagi semua alat yang terhubung pada tubuh Lisa, lalu pamit undur diri setelah semuanya selesai diperiksa. Haikal masih bersama kami di sini, berdiri di sisi ranjang satunya lagi sambil memperhatikan Lisa.
"Sayang, aku jemputin mamah dulu ya?" lirih Jefri yang tiba-tiba menyambar pipi kiriku setelah kalimat itu berhasil dikatakannya. Aku mengangguk, lalu ia segera pergi meninggalkanku dengan Haikal dan Lisa.
Aku menarik sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari posisiku berdiri, kemudian aku letakkan di samping ranjang Lisa untukku duduk sambil menunggunya sadar. Tak banyak yang bisa aku lakukan saat ini selain berdoa, berharap agar Lisa segera sadar dan kembali pulih.
Terbesit sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Haikal saat ini. "Kok dia bisa pingsan?"
Aku menatap tajam ke arah Haikal yang berdiri mematung di tepi ranjang. Ia membalas tatapanku. Kemudian beranjak mendekatiku, lalu sama sepertiku yang menarik sebuah kursi dan meletakkannya tak jauh dari posisi dudukku saat ini. Berdempetan.
"Jadi nyokabnya Clara juga pingsan??" pekikku tidak percaya.
Haikal hanya menjawabnya dengan dehaman. Lalu kembali menceritakan tentang kejadian demi kejadian yang ia lalui hingga saat ini. Bisa kulihat dengan jelas pancaran wajahnya saat menceritakan tentang Clara. Terlihat sangat bersemangat, sangat cerah dan penuh dengan senyuman. Baru kali ini aku melihat Haikal seperti ini.
Tebakkan ku benar, Haikal memang sedang dilanda asmara, dia jatuh cinta pada Clara, namun ia enggan mengakuinya. Hingga akhirnya, sebuah senyuman manis tersungging di bibir tebalnya.
"Kal?!"
__ADS_1
Haikal membelalakkan matanya sambil berdeham menyahuti, lalu aku membalas tatapan mata tajamnya dengan santai dan menyangga daguku pada sandaran tangan di kursiku. Menatapinya dengan senyum miringku. Haikal mengernyitkan dahinya.
"Apa? Kenapa liatin begitu?"
Aku menggelak tawaku dengan menutupi mulut dengan telapak tanganku, menahan tawaku agar tidak semakin menjadi. Sedangkan Haikal mencibir dengan penuh kesal melihat tingkahku. Setelah tawaku menjadi sedikit lebih tenang, barulah aku mencoba menjelaskan pada Haikal, alasanku jadi menatapnya seperti ini.
Aku menjelaskan padanya teori jatuh cinta yang dapat kulihat dari kedua mata tajamnya. Namun ia masih saja mencoba mengelak semua teori itu, ujarnya perasaan itu bukanlah perasaan jatuh cinta. Lalu aku kembali mengajukan beberapa pertanyaan yang awalnya ia bisa menjawab dengan fast response kemudian perlahan menjadi lambat, yang akhirnya satu pertanyaanku dapat membuat mulutnya bungkam seribu bahasa.
"Kamu sering tiba-tiba kepikiran dia 'kan?"
"Iya, tapi nggak sering juga!" elaknya.
"Tapi kalo lagi di deket dia kamu ngerasa seneng 'kan? Sadar nggak suka senyum-senyum tanpa alasan?" cercaku membuatnya terdiam, berpikir keras.
Haikal memang seperti ini, sadar tapi tidak mau menyadarinya. Terlalu gengsi untuk mengatakan perasaannya pada seorang wanita. Hingga diumurnya yang sekarangpun, dia ternyata masih saja seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum menanti jawaban darinya.
Beberapa menit Haikal berpikir, hingga menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi agar menjadi lebih rileks, sambil menatapku dengan wajah yang terlihat jelas sedang berpikir keras. Menelaah pertanyaanku, lalu ia berkata, "Ya, kayaknya aku jatuh cinta."
------------------
Hollaaaaaa 😁
Happy valentine guys (walaupun ucapan ini terlambat) 🤣
__ADS_1
Jangan lupa vote yaa, kerahkan poin kalian hingga hari Minggu 🤭 aku akan berusaha untuk memperbanyak updatenya, tenang saja 🤗
#salambucin💋