
Jangan lupa siapkan sekotak tissu di samping kalian saat membaca episode ini.
Masih menyedihkan ๐
Happy reading ๐
โโโโโ
Still Max POV.
Shilla berhasil menenangkan emosiku. Bahkan saat ini aku masih menyandarkan kepalaku pada bahunya. Kemudian dia sempat menanyakan kondisi mamah padaku, yang belum aku jenguk sejak tadi. Begitu pula kondisi Alex dan ... Lisa.
Aku hanya diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Segera kutepis pemikiranku tentang semuanya, termasuk Lisa. Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Apa semua ini adalah sebuah hukuman untukku?
๐ถ
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
๐ถ
Tiba-tiba ponselku berdering. Dengan sigap aku langsung mengambil benda persegi panjang yang sangat tipis itu dari kantong celanaku. Retakkan layar LCD-nya begitu kentara akibat pergulatan beberapa saat lalu, akan tetapi aku masih bisa melihat nama siapa yang sedang menghubungiku itu. Aku segera menggeser tombol hijau pada layar kaca.
"Iya? Tahan dulu, masih ada urusan yang lebih penting." Kemudian aku segera mengakhiri panggilan tersebut. Telepon itu berasal dari orang suruhan Reza yang membantuku tadi. Mereka mengatakan jika mereka akan menahan kedua lelaki yang berbuat onar itu. Sambil mereka semua membersihkan tempat kejadian perkara. Agar tidak ada polisi yang terlibat.
Sebenarnya aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang department kepolisian. Sebab Reza benar-benar sudah merencanakan semuanya dengan begitu matang. Bahkan beberapa orang suruhannya tadi juga berasal dari kepolisian.
Aku mengembuskan napasku. Mencoba kembali menenangkan pikiran. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang menghampiri, belum lagi masalah kestabilan perusahaan Jefri yang harus aku awasi.
"Sayang ... aku tadi bawain kamu beberapa pakaian. Kamu bisa ganti dulu, ini terlalu banyak darah," lirih Shilla yang sudah tidak lagi merasakan takut melihat darah. Aku menerima papar bag itu. "Kasih satu buat Jefri. Kalian benar-benar terlihat kacau." Shilla menambahi sambil menatap Jefri dengan nanar.
Ya, aku tahu kelemahannya berada pada adikku. Sudah berkali-kali aku melihat kondisi ini. Sejak mereka belum bersatu hingga saat ini. Namun tak jarang mereka juga sering berselisih paham yang pada akhirnya, keduanya sama-sama bersikap keras hati. Tapi tetap bisa mengatasi semuanya dengan cara mereka sendiri.
Bahkan kesetiaan di antara mereka berdua membuatku banyak belajar, bahwa begitu lah semestinya sebuah pasangan bersikap dalam bahtera pernikahan. Berbulan-bulan mereka kuat dengan ego masing-masing, lantas tidak membuat mereka saling berpaling. Malah semakin saling mengasihi.
__ADS_1
Sekarang entah sudah yang ke berapa kalinya aku mengembuskan napas dengan kasar. Menundukkan kepalaku lalu kembali menatap istriku, ia membalas tatapanku. Lalu meletakkan salah satu telapak tangannya pada pipiku.
"You're gonna be okay. You must be the strongest for all of them," lirihnya dengan penuh penekanan lalu tersenyum padaku. Sebelum berdiri menuju kamar kecil, kuberikan sebuah kecupan pada keningnya. Bukan sebagai penyesalan karena beberapa saat lalu sempat berpaling, tapi karena rasa bersyukur. Beruntungnya aku sudah mendapatkan dirinya.
***
Setelah selesai aku mengganti pakaianku, aku memutuskan untuk pergi sebentar ke ruangan di mana mamah di rawat. Pergi menjenguknya sebentar di sela-sela menunggu kabar dari operasi yang dilakukan Haikal pada Tika. Lagi pula tadi aku semoat berpesan pada Shilla untuk segera mengabariku jika terjadi apa-apa.
Tanpa mengetuk pintu, aku langsung mendorong kenop pintu ruang rawat inap mamah. Kulihat mamah sedang tertidur dengan bi Mince yang menemani, duduk di samping ranjangnya. Perlahan aku berjalan mendekati belau lalu menyentuh pundaknya. Beliau sempat terpekik kaget setelah akhirnya melihat aku yang datang, beliau kembali tersenyum.
"Barusan dokter Ranti ngasih obat tidur. Katanya ibu perlu istirahat total," lirih bi Mince. "Gimana kondisi non Tika?" tambah beliau lagi.
Aku menghela napasku. Lagi-lagi dengan berat. "Belum ada kabar, Bi. Aku hanya sebentar. Shilla juga udah dateng, nanti aku suruh dia ke sini. Aku titip mamah ya, Bi?" ucapku sembari mencium kening mamah.
Lalu tanpa menunggu jawaban dari bi Mince, aku kembali melangkah keluar kamar. Membiarkan mamah beristirahat. Namun tidak di sangka, saat aku menutup pintu kamar dan berbalik, aku malah mendapati sosok Lisa. Ia berdiri dengan raut wajah yang menggambarkan keterkejutannya. Tidak kalah terkejutnya denganku yang melihatnya muncul.
Seketika bibirku kembali kelu, mulutku seakan terkunci rapat. Kini tubuhnya sudah tertutup dengan satu setel pakaian khas pasien di rumah sakit ini. Aku merasa lega begitu melihat kondisinya saat ini. Berbeda saat beberapa jam yang lalu melihatnya terikat di atas ranjang kotor itu.
Aku juga sempat melirik bagian pergelangan tangannya yang meninggalkan bekas ruam dan beberapa luka mengering di sana. "Gimana kabar Tika?" ucapnya sambil tertuntuk, seperti takut untuk menatapku dan memilih untuk memperhatikan kedua ujung kakinya.
Suaranya bergetar menanyakan itu. Membuat hatiku seakan terenyuh. Mereka berdua benar-benar seperti saudara selayaknya. Saling memerhatikan, melindungi bahkan menyayangi. "Pelurunya sudah berhasil keluar. Sekarang dia menjalani melahirkan secara darurat."
Mendadak Lisa mengangkat wajahnya lalu menatapku. Kedua matanya berkaca-kaca tapi melihatnya yang seperti itu, malah membuat hatiku terasa sakit. Bukan sakit karena kasihan. Tapi hatiku sakit karena menyadari suatu hal yang hilang pada diri adikku. Yaitu priority.
"Jawab pertanyaan aku dengan jujur. Apa hanya karena sebuah materi? Kamu jadi rela memberikan tubuh kamu dan semua informasi tentang Tika ke pria itu?" Bergetar suaraku mengucapkan kalimat ini. Sungguh, tidak ada niatan sedikitpun untuk menyakiti hati Lisa. Tapi pertanyaan ini memang harus aku lontarkan sekali lagi.
"Aku sudah menjawab sebelumnya." Lisa mengelak sambil kembali menundukkan wajahnya.
Ada sebuah rasa ketidakpercayaan yang muncul dalam diriku, padanya. Terlebih lagi pada saat ia menundukkan wajahnya. Rasanya tidak mungkin jika awal mula permasalahan ini hanya lah tentang sebuah materi. Pasti ada pemicu lain yang membuatnya semakin rumit.
Aku meraih dagunya, mengangkat wajahnya agar membalas tatapan mataku. Mengembuskan napasku berkali-kali dengan pelan.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Tika, ini semua adalah salah kamu. Karena kamu yang sudah menyeret dia masuk ke dalam masalah ini." Aku berusaha tegas padanya.
"Tapiโ"Seakan tidak terima dengan tuduhanku itu, ia menarik kasar dagunya itu hingga aku mendengar suara decakkan lidah.
"Iya!!! Aku iri sama dia. Semua orang sayang sama dia. Kalian semua sayang sama dia. Terus aku? Aku cuman dapat kasih sayang yang bekas dia! Sisa dari dia! Semua yang deketin aku bekas dari dia!!" Lisa berteriak lalu berlari menjauhiku. Entah kemana ia pergi, aku tidak tahu.
Hanya saja, tiba-tiba hatiku seakan tertusuk sembilu. Aku terkejut mendengar ucapannya yang begitu sederhana, alasan yang seharusnya dari awal aku tahu, bahwa dia hanya merasa kurang disayangi. Padahal kami semua menyayanginya, terlebih lagi aku, yang sempat berkali-kali memalingkan hatiku dari Shilla, hanya untuk mencari tahu bagaimana kabarnha saat dia diluar negeri.
__ADS_1
โโโโโ
Jefri POV.
Kini aku kembali pada tempat dudukku semula, di lantai, di samping pintu operasi. Sambil bersandar pada tembok yang dingin. Sedingin hatiku saat ini. Dengan sabar aku menunggu kabar lagi dari Haikal tentang kemajuan proses operasi ini. Hingga akhirnya, pintu operasi kembali terbuka.
Bukan Haikal yang muncul dari balik pintu itu, melainkan dokter lain, yang aku kenal sebagai dokter kandungan Tika. Aku, mama, papa dan Shilla yang sedang ada di sini dengan spontas bergegas berdiri dan menghampirinya.
Ia mengatakan jika Tika kehabisan banyak darah hingga membutuhkan bantuan donor darah secepatnya. Sebab bank tabungan darah pada rumah sakit ini tinggal memiliki dua kantong darah lagi yang cocok untuk Tika. Beruntung di saat itu terjadi, Max datang dan langsung menawarkan dirinya. Sebelumnya aku sempat menawarkan diriku, karena dulu akunjuga pernah mendonorkan darah ku untuknya. Tapi kali Max benar-benar melarangku.
"Tunggu di sini sampai dia sadar. Kali ini cukup aku yang mendonorkan darahku!" ucapnya dengan begitu tegas. Kedua orangtuaku juga menyetujui keputusan Max hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan tersinggung. Max memang kayak gitu. Lagi pula ada benarnya, kecuali donornya masih kurang. Kamu masih harus nemenin Tika begitu dia selesai operasi." Shilla menambahi setelah Max berlalu pergi mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruangan itu.
Perlahan aku mulai mengerti posisi Max dan aku mulai mengerti dengan segala keputusannya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah dua jam lebih operasi di dalam sana berlangsung. Otak dan pikiranku selalu mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Membuatku semakin panik.
Tak lama berselang setelah pikiranku semakin panik, Max keluar dari balik pintu itu dengan tergesa-gasa. Ia menghampiriku lalu memelukku dengan erat. Seketika aku merasakan getaran tubuhnya yang disusul dengan suara isak tangisnya.
Aku sangat yakin, ini adalah berita kesedihan!
Lututku terasa melemah, rasanya aku hampir tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri dan sekarang ditambah dengan beban tubuh Max. Lalu perlahan Max mengatakan bahwa aku kehilangan kedua anakku. Anak kembarku yang selama ini aku nantikan.
Tubuhku seketika bergeming, tanganku meraih tembok di belakangku untuk menahan diriku sendiri setelah Max melepaskan dekapannya padaku. Lalu ia memilih duduk di kursi untuk menenangkan dirinya sendiri di temani dengan papaku.
Sedangkan mamaku perlahan mendekatiku, lalu kuangkat wajahku untuk menatapnya. Seketika itu aku terjatuh ke dalam pelukkannya. Tidak kuhiraukan lagi semuanya, aku menangis merasakan sakit di relung hati ini. Rasanya tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.
Sampai akhirnya Haikal keluar dari ruangan itu dan menghampiriku. Dia menyatakan permohonan maafnya karena tidak bisa menyelamatkan kedua nyawa malaikat kecilku. Namun dia juga menyatakan bahwa kondisi Tika yang sedang dalam fase pemulihan dan tinggal menunggunya sadar dari pingsannya.
Lalu apa yang harus aku katakan padanya saat dia sadar nanti?
Bukankah aku pernah berjanji untuk menyelamatkan buah hati kami, apapun yang terjadi?
Namun aku kembali teringat sesuatu. Dulu aku sempat mengatakan pada Max, jauh sebelum semua ini terjadi bahwa aku mencintai adiknya melebihi apapun di dunia ini. Dulu, Max juga pernah bertanya padaku, saat aku dan adiknya sedang ada masalah. Aku masih ingat betul pertanyaan itu. Pertanyaan di mana aku harus memilih, antara Tika atau kedua anak kembarku. Lalu dengan lantang aku menjawab, bahwa aku lebih memilih Tika, walaupun aku harus kehilangan calon buah hatiku. Sebab aku merasa tidak sanggup jika harus melewati hari tanpa Tika. Dan untuk anak, semua masih bisa kami dapatkan kembali.
Lalu apa ini semua menjadi doa?
Sampai akhirnya Tuhan mengabulkan perkataanku itu?
__ADS_1
Entahlah ...
Mungkin kali ini harus aku yang egois. Aku tidak sanggup untuk kehilangan Tika dan tidak akan pernah sanggup ...