
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Napasku menggebu, emosiku memuncak. Aku bersandar pada mobil ayah yang terparkir di halaman luar rumah sakit ini. Aku yakin ayah pasti akan menyusulku ke sini. Sebab, bagaimana aku bisa pulang ke rumah, jika dompet dan ponsel saja aku lupakan di rumah. Dan lagi, tidak ada kendaraan umum di jam tengah malam seperti ini.
Semilir angin dingin semakin kencang berembus. Menyapu tubuhku hingga merasuk ke dalam sendi. Menemani rasa sepi dan kalutnya pikiranku serta semakin menyadarkanku akan tragedi yang baru saja terjadi. Aku masih berdiri di samping mobil ayah ini, untuk menunggunya, tentu saja.
Bunda sudah pergi meninggalkanku. Bahkan belum sempat aku mengatakan pada beliau, bahwa aku sangat menyayanginya, sangat memujanya sebagai seorang ibu untukku dan juga seorang istri dari ayah. Beliau tidak pernah sedikit pun melewatkan kewajibannya pada kami berdua. Semua tugasnya ia kerjakan sendiri, bahkan tanpa keluhan.
Di umurku yang menginjak 28 tahun, tidak pernah sekalipun aku melihatnya bertengkar dengan ayah. Yang ada hanya keharmonisan serta kebahagiaan yang mereka perlihatkan di mata kepalaku. Andaikan mereka melakukan argumen ataupun perdebatan, semua secara terbuka dan berakhir dengan sebuah kecupan hangat pada kening masing-masing.
Setidaknya itu yang terjadi di depanku dan aku tidak ingin tahu dengan apa yang terjadi di belakangku. Dan aku ingin menjadi seperti bunda, yang selalu bertutur kata lembut kepada ayah. Bahkan kepada orang lain.
Aku menghela napasku berkali-kali, dada ini semakin terasa sesak, semakin sulit rasanya untuk bernapas. Mengingat aku memiliki penyakit asma yang aku derita sedari kecil. Ditambah lagi dengan sikap Haikal tadi, aku menyayangkan semua itu harus terjadi. Mengapa dia harus berpikiran secepat itu?
Sebuah kaleng bekas minuman di depan kakiku menjadi sasaran pelampiasan amarah ini. Aku menginjaknya dengan kuat. Serta dengan kedua tanganku yang berlipat di depan dada dan mengepal.
“Bagus! Biarkan kaleng itu menjadi pelampiasan. Setelah itu lupakan kejadian tadi. Pemakaman bunda jauh lebih penting,” ucap ayah tiba-tiba berada di dekatku.
Kemudian beliau membukakan pintu mobilnya untukku. “Cepat masuk,” perintahnya seraya melemparkan tas bunda ke arah belakang kursi belakangan lalu melangkahbmemutar menuju pintu sebaliknya untuk mengendarai mobil.
Klontang!!
__ADS_1
Aku menendang kaleng tadi hingga tepat masuk ke dalam selokan, setelah sebelumnya menabrak jeruji besi menutup bagian atas dari lubang kotor itu. Kemudian masuk ke dalam mobil, di mana ayah sudah terlebih dahulu berada di dalamnya dan menyalakan mesin mobil itu.
“Trus bunda gimana?” tanyaku pelan sembari memasang safety belt.
“Nanti Haikal yang memberikan alamat rumah kita pada pengemudi ambulance-nya. Kita harus menyiapkan rumah dan juga mengabari keluarga yang lain.” Ayah menjelaskan.
Aku tidak berani untuk memandangi ayah saat ini. Sebab aku yakin, ayah pasti sedang marah pada sikapku yang menepis tangannya tadi. Benar-benar tidak sopan aku melakukan itu, apalagi di depan orang lain.
“Ayah tahu kamu berduka, kehilangan, sedih, menyesal ataupun yang perasaan lainnya. Sama ... ayah juga merasakan itu. Tapi ayah mencoba berpikir rasional untuk anak ayah. Agar ayah bisa menjadi contoh yang baik untuk anak ayah. Bukan untuk orang lain.” Ayah membuka suara, setelah sedikit jauh dari wilayah rumah sakit.
Spontan aku menoleh melihatnya. Dia masih terus memandang lurus ke depan tanpa melirik padaku, walaupun hanya sekilas. Dia bersikap seperti tadi untukku?
“Maksud Haikal itu benar, dia mengkhawatirkan kamu sebagai calon istrinya. Dia ingin kamu sehat, berumur panjang hingga bisa melihat cucu kalian lahir suatu saat nanti. Bukan hanya sekedar ingin untuk hidup bersama berdua,” tutur ayah menambahi dengan nada suaranya yang tegas.
“Kamu beruntung Haikal bisa dengan cepat tanggap akan penyakit asma kamu itu. Dan dia seorang dokter yang pastinya memiliki banyak koneksi untuk berkonsultasi pada dokter penyakit lain. Sedangkan ayah?” Suaranya terdengar lirih.
Aku menegakkan dudukku lalu menoleh menatapnya. Terkejut dengan apa yang ayah ucapkan pada kalimat terakhirnya.
“Ayah terlambat mengetahui penyakit bundamu itu dan ayah sudah kehabisan cara untuk memberikan dukungan padanya.”
“Maksud ayah?!”
“Ayah menemukan kartu jadwal periksa bundamu. Dia hanya mengikuti beberapa kali pemeriksaan lanjutan. Selebihnya dia berbohong pada ayah setiap mengatakan keluar rumah untuk menuju rumah sakit,” tutur ayah yang masih memandang lurus ke depan.
Kemudian aku menoleh ke kursi belakang dan memandangi tas bunda tadi lalu mengambilnya. Dengan perasaan tidak menentu, aku membuka tas itu, mencari kartu yang ayah maksudkan. Mengeluarkan semua isi tas sampai akhirnya aku menemukannya dibalik selipan bagian dalam tas.
__ADS_1
Aku memerhatikan selembar kartu berukuran buku catatan kecil itu, di bawah cahaya remang lampu jalanan. Di sana memang tertera jika bunda hanya mengikuti pemeriksaan terakhir pada beberapa bulan yang lalu. Yang mana artinya beberapa bulan terakhir bunda tidak lagi mengikutinya. Aku tercengang hebat lalu menutup mulutku yang menganga lebar.
“Kenapa bisa seperti ini, Yah?” Tanganku bergetar memegangi kartu periksa bunda itu. Suaraku pun ikut terdengar getir saat bertanya pada ayah. Kini air mataku sudah bersiap untuk kembali jatuh, tinggal menunggu saat yang tepat.
Kami sampai di depan rumah dengan begitu cepat, sebab jalanan yang kami lewati tadi begitu lenggang di jam tengah malam seperti ini. Kemudian ayah mematikan mesin mobilnya, aku meraih lengannya dan ayah pun menoleh menatapku.
“Mungkin di dalam ruang operasi tadi, bunda kamu memilih untuk menyerah daripada berjuang bersama ayah. Dan ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Andaikan saja bisa organ tubuh ini didonorkan untuk bundamu, ayah rela asal dia bisa melihatmu menikah dan menggendong cucunya, anakmu kelak.” Tetesan air mata ayah jatuh begitu saja di tanganku. Kemudian beliau keluar dari mobil, melangkah masuk menuju ke dalam rumah. Meninggalkan aku yang masih duduk di dalam mobil ini. Tidak tahu harus berkata apa.
Di saat aku melihat punggungnya menghilang dari depan pintu rumah, tepat di saat itu pula air mataku jatuh seketika. Tidak menyangka jika ayah akan lebih merasa terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian bunda.
Bukan aku saja yang merasakan sakit berlebih karena kehilangannya tetapi ada ayah yang jauh lebih merasakan sakit kehilangan pendamping hidupnya selama puluhan tahun. Dengan semangat bunda yang ternyata palsu di mata ayah.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.
Terima kasih 💋
@bossytika
__ADS_1