Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 180


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Tika POV.


Setelah selesai membersihkan diri, aku dan mamah segera kembali ke depan pintu ruangan operasi. Sesampainya di sana, aku melihat banyak sekali yang berkumpul. Salah satunya Lisa, dia langsung menghampiriku dan memelukku dengan begitu erat.


“Semua ini karena aku! Mestinya semua gak akan terjadi kalau aja aku gak berpikiran bodoh. Seharusnya aku yang di dalam sana. Seharusnya aku yang mengalami semua ini. Dulu juga kamu begini dan aku malah masih terus menyalahkan kamu! Aku pantas mati!!” Lisa menangis tersedu-sedu dengan wajahnya yang menempel di pundakku.


Aku hanya bisa membalas pelukannya. Mengelus pundaknya pelan lalu berkata, “Gak ada yang salah. Berhenti menyalahkan diri sendiri, Lis. Kita sudah sepakat buat menutup masa lalu bagian itu, 'kan?” Aku merenggangkan dekapan kami lalu menatap wajahnya yang sudah di penuhi dengan air mata.


Menegok wajahnya yang ia sembunyikan menunduk. Aku menangkupkan kedua telapak tanganku pada kedua sisi pipinya lalu membawa wajahnya untuk menatapku. “Sudah ya? Jangan bahas masa lalu. Kita hidup untuk masa depan dan masa lalu biarin berlalu,” jelasku padanha.


“Kamu gak akan marah ataupun dendam sama aku?” lirihnya membalas menatapku.


“Buat apa? Semua itu hanya sia-sia. Aku gak mau ngelakuin sesuatu yang percuma.” Aku lepaskan kedua tanganku dari wajahnya.


“Kamu gak kepingin ngebalas aku?”


“Lisa, aku cuman punya kamu! Kami semua sayang sama kamu. Jadi gak mungkin aku punya pemikiran begitu. Berhentilah memikirkan hal yang tidak-tidak, aku minta doakan suamiku agar dia baik-baik aja,” pintaku padanya kemudian kembali memeluknya.


Dari kejauhan aku melihat Max dan Alex yang tersenyum padaku. Aku membalas mereka dengan tersenyum pula.


Tak lama setelah itu, Haikal muncul dari balik pintu ruang operasi. Kami semua segera mendekat. Haikal mengatakan bahwa peluru itu telah berhasil dikeluarkan dari dadanya yang nyaris saja menyentuh jantungnya.


“Sekarang kami memerlukan beberapa mililiter kantung darah bergolongan sama. Aku tidak akan menanyakannya lagi, sebab kejadian ini sudah seperti dejavu bagiku dan bagi kalian semua. Max, bisa ikut aku?” tanya Haikal.

__ADS_1


“Kenapa bukan aku?” sanggahku.


“Sesekali kamu masih perlu memberikan asi pada kedua buah hati kalian. Dan aku juga gak mungkin meminta pada kedua orang tua Jefri, dengan alasan kesehatan mereka berdua. Maaf, Om, Tante.” Haikal menjelaskan sedikit kemudian langsung kembali pergi bersama Max, memasuki pintu operasi itu.


Tidak ada lagi bantahan atau sejenisnya yang keluar dari mulutku. Saat ini aku hanya bisa berdoa untuknya. Untuk masa depan kedua buah hati kami. Namun, begitu mendengar semuanya dari Haikal, aku percaya padanya. Dia pasti akan melakukan yang terbaik untukku—untuk adiknya sendiri.


Sesekali tetesan air mataku jatuh begitu saja tanpa bisa aku tahan. Dan aku rasa, dalam kondisi seperti ini, pasti akan sulit untuk mengendalikan semua perasaan yang berkecamuk di dalam dada.


“Ini, aku membelinya tadi di depan.” Lisa memberikan sekotak minuman kopi hitam. Aku tersenyum menerimanya, Lisa tahu betul mana yang menjadi kesukaanku. Bahkan sampai minuman instan begini saja, dia menghafalnya.


“Makasih ya.” Aku menyentuh tangannya lalu menggenggamnya sebentar.


Kemudian aku meminum isi kotak itu. Aku memang merasakan dehidrasi yang sangat teramat berlebih. Sebab terakhir kali aku minum, itu tepat saat di gedung kantor Igo. Sebelum kami pergi untuk menyelesaikan semuanya.


Suasana di sini masih sangat kritis, kami semua masih menunggu kabar selanjutnya. Bahkan kedua orang tua suamiku terlihat begitu cemas. Teman-temannya pun tampak serupa, Alex dan Brandy berkumpul bersama Reza dan Igo sambil berbincang, mungkin mereka menceritakan kejadian tadi pada Alex.


Sebuah sentuhan di pundak membuatku mengangkat wajah dan segera membuka mata lalu menoleh. Senyuman mamah terpancar dengan belaian lembutnya, terasa sangat menyejukkan melihatnya. Kemudian aku menyandarkan kepala dalam dekapannya. Meringkuk layaknya anak kecil yang merindukan kasih sayangnya.


Mamah membelaiku dengan lembut. Beruntung aku masih dapat melihatnya. Setidaknya aku masih bisa mengucapkan rasa terima kasihku padanya di setiap hari untuk ke depannya. Tidak akan ada rasa penyesalan dalam dada ini, jika suatu saat dia pergi meminggalkanku karena usianya.


Dan itu juga yang sudah aku lakukan dengan Jefri, sebelum melakukan semua ini, aku sudah meminta pengampunannya, sebaliknya pun begitu. Jadi mungkin, tidak akan ada perasaan menyesal apabila sesuatu terjadi di antara kami. Dan setidaknya, aku tahu, dia begitu mencintaiku di setiap embusan napasnya.


Tiba-tiba aku melihat Jefri yang berdiri di depanku, tersenyum menatap dengan begitu hangat. Bahkan perlahan dia menjulurkan tangan kanannya lalu berkata, “Ayo ikut aku, kita tinggalin semuanya. Kamu mau kita hidup dengan bahagia, 'kan? Apa kamu mau hidup hanya dengan banyak masalah?” ajaknya tegas.


Aku tidak menyambut tangannya, yang aku lakukan malah sebaliknya. Menatapnya dengan bingung lalu segera duduk dari sandaran kursi. “Loh, aku gak mau kebahagian yang sempurna kalau isinya cuman kita berdua aja. Lagi pula dari awal kamu ngelamar aku, sudah dengan jelas kamu bilang kalau kamu gak bisa menjanjikan kehidupan yang tanpa masalah dan aku menerimanya. Jadi aku gak masalah punya kehidupan yang begini adanya.” Dengan tegas aku mengatakan semua kalimat itu.


Namun, seketika Jefri menurunkan tangannya lalu tersenyum tipis memandangku sambil berjalan mundur. Menjauhiku lalu menghilang saat tubuhku terasa bergoyang.

__ADS_1


“Tik ... Tika ... bangun!” Suara Haikal membuatku membuka mata. Aku tertidur dalam dekapan mamah. Cukup lama. Mamah tersenyum, aku mendapati keringat yang bercucuran pada kening dan sekujur tubuhku.


Untunglah yang tadi


“Ada apa?” tanyaku dengan suata parau.


“Ikut aku ke dalam sekarang.” Haikal meraih tanganku, menggenggam dan membawaku masuk ke ruangan operasi.


Saat mengenakan pakaian pelindung khusus untuk ke ruangan steril di dalam sana, aku sempat menanyakan perihal kondisi Jefri pada Haikal. “Kal, Jefri baik-baik aja, 'kan?”


Haikal hanya memandangiku, tersenyum tipis lalu kembali menarik tanganku begitu aku selesai memasang pakaian berwarna biru muda ini.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Hanya dengan menekan tanda like dan memberikan komen kalian pada cerita ini, sudah cukup untuk membuatku senang.


Dan jika ingin memberikan vote koin/poin silakan klik karya terbaru aku yang berjudul "The Hand of Death" atau klik akun profile-ku di beranda depan dan berikan vote ke judul itu.


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2