Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 101


__ADS_3

Warning adult content!!!


Khusus pembaca berumur 21+.


Harap bijak dalam memaknai sebuah tulisan.


———————————————


Jefri POV.


Pagi ini aku membuka mataku dengan sangat bahagia.


Wajah cantiknya yang membuatku mabuk kepayang hingga detik ini, kini berada tepat di sampingku, sedang tertidur dengan pulasnya. Helaian rambutnya yang memesona, seakan menjadi perpaduan yang cocok pada wajahnya. Kulit putih mulusnya begitu bersinar kala cahaya mentari masuk menyapa tubuhnya.


Dia masih Tika yang sama saat pertama kali kami bertemu. Wanita yang akan melenguh jika punggungnya kusentuh dan wanita yang akan mendesah jika daun telinganya kukecup. Bahkan terkadang, dia masih suka menggodaku.


Aku membelai wajahnya yang kini berbaring tengkurap menghadapku, setelah menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya sebagian. Dia terlihat letih. Ya, kami kembali melakukan pertempuran panas di atas ranjang. Entah berapa kali kami saling terpuaskan. Yang aku tahu, wanita ini selalu melayaniku dengan baik. Wanita yang kini sedang mengandung calon anak pertamaku.


Sempat terlintas di otakku akan kata-katanya beberapa waktu yang lalu, yang memintaku untuk melindungi anak kami, apapun yang terjadi. Dan aku menyetujui janji itu, walau sebenarnya hati kecilku menolak janji itu.


Aku tidak akan mungkin membiarkan terjadi sesuatu padanya. Aku akan melindungi wanitaku, kekasih hatiku. Jika nantipun aku akan di hadapkan pada pilihan itu, anak atau dirinya, aku akan memilih dirinya. Sebab aku merasa belum cukup untuk membahagiakannya. Belum cukup banyak waktu yang kami lewati berdua. Dan jika Tuhan mengizinkan, semoga pilihan itu tidak akan pernah datang menghampiriku.


Tak terasa, aku meneteskan air mata. Dengan cepat segera kuhapus tetesan air mata di pipiku ini. Aku teringat kembali dengan janji awalku padanya. Bahwa aku tidak mampu menjanjikan kehidupan yang tanpa masalah, tapi aku berani menjanjikan kebahagiaan yang selalu ada dirinya di dalamnya. Dan oleh karena itu, aku harus membuatnya bahagia. Aku harus menjauhkan orang-orang yang merenggut kebahagiaannya saat bersamaku.


Kuusapkan jemariku lembut di atas punggungnya. Membelainya dengan segenap jiwaku. Hingga akhirnya ia membuka matanya, tersenyum menatapku.


"Morning my sunshine ...," sapaku yang membuatnya mengulum senyumnya. Kemudian dengan cepat ia menarik selimut dan menutupi wajahnya.


'Mungkin dia malu, tapi ... buat apa lagi dia malu?' pikirku.


Perlahan kuraih tangannya yang menarik selimut tadi, kemudian kutarik perlahan hingga wajahnya kembali terlihat. Kini kedua pipinya merah merona. Terlihat jelas karena kulitnya yang putih. Aku terkekeh geli melihatnya.


"Kamu malu?" ucapku lagi.


Dia membalikkan tubuhnya, lengkap dengan selimut yang membalutnya. Menutupi setengah wajahnya lalu berkata, "Kamu ngapain ngomong begitu?" rengeknya dengan nada suara yang manja.


Kumiringkan tubuhku menghadapnya, lalu kusandarkan kepalaku pada tangan sebagai penyangganya. Sedangkan sebelah kakiku sengaja kubelitkan pada area kakinya, agar dia tidak bergerak. Kemudian tanganku yang satunya lagi, sekarang sedang mencoba menarik selimut yang menutupi sebagian wajahnya (lagi).


"Emang salah aku bilang 'sunshine' ke kamu?" tanyaku lagi. Ia menurunkan selimutnya.


Kini dengan pipinya yang merah merona itu, dua menjawab, "Biasanya gak bilang gitu," sahutnya masih dengan suara manjanya, membuatku semakin gemas dengan sikapnya ini.


Perlahan kukecup keningnya, kilas. Kemudian dia menarik tengkuk leherku lalu bibirnya mengecup bibirku. Mengecap setiap jengkal hingga menyelipkan lidahnya. Membelit satu sama lain. Tanpa terasa kini tangan Tika sudah berada di belakang kepalaku. Jemarinya menyelip ke sela-sela rambutku lalu mencengkramnya pelan.


Kami bisa tahan dengan waktu yang lama hanya untuk saling mengecap, bahkan tidak pernah merasa bosan. Kutarik perlahan selimut yang menutupi tubuhnya, dia diam, tidak menolaknya, malah dia seakan membiarkanku untuk melepaskan selimut yang menempel di tubuhnya itu.


Kulepaskan kecapan kami, kupandangi wajahnya yang tersenyum menggoda padaku. Tadinya, sebelah tanganku yang berhasil melepaskan selimut itu kuletakkan di atas perutnya. Namun kini kubiarkan menjalar ke atas hingga memegang kedua lengannya.


Kuletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, kemudian aku langsung menyerang ceruk lehernya, mengecup hingga mengisap pelan. Ia membalikkan arah kepalanya ke kanan dan ke kiki, mengikuti gerakkanku. Perlahan kecupanku turun ke bagian dadanya. Menikmati kedua bukit itu dengan mulut dan tanganku, secara bergantian. Posisiku pun kini sudah berada di atasnya, bukan di sampingnya lagi.


Berkali-kali dia melenguh bahkan mendesah, menikmati setiap sentuhan yang aku berikan. Dan berkali-kali pula ia membusungkan dadanya, meluruskan ujung kakinya. Aku menyukai saat melakukan itu.


Kulepaskan cengkraman tanganku pada tanganya. Membebaskan jemarinya menyelip pada sela-sela rambutku lagi. Ya, aku juga menyukainya saat ia mencengkram lembut rambutku. Aku kembali mengecap bagian lain dari tubuhnya yaitu, pusar. Ia kembali melenguh, serta membengkokkan tubuhnya.


Nafsuku kembali meningkat. Kini kami selalu bermain dengan cara kami. Tanpa bicara atau mengobrol, hanya lenguhan dan desahan kami berdua yang menjadi saksi atas kepuasan batin kami. Sesekali kami saling menatap yang kemudian di akhiri dengan sebuah kecupan manis.



🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'

__ADS_1


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎶


Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, kuhentikan kecapanku padanya lalu melirik ponselku yang ada di atas meja buffet lalu berdecak kesal.


"Aish ... selalu aja deh!" ucapku yang di tertawakan oleh Tika.


Kami sering sekali menghadapi situasi seperti itu, dari dulu hingga sekarang. Untungnya kami menikah, jadi jika seperti ini, kami tidak terlalu sakit kepala saat mengangkat telepon dari yang mengganggu permainan kami. Karena kami masih bisa melanjutkan kapan saja dan di mana saja, tanpa ada batasan waktu seperti dahulu.


Aku segera meraih ponselku yang sudah berdering dua kali. Kulihat siapa yang meneleponku, ternyata mama.


"Hallo? Hm ... kan besok pulangnya, Ma. Kenapa?" jawabku dengan posisi dudukku di atas tubuh Tika, seperti bersimpuh.


Tak lama setelah telepon itu, akhirnya aku putuskan sambungannya. Kulemparkan ponselku ke sisi ranjang lainnya lalu Tika menanyakan siapa yang menelpon. Kujelaskan bahwa mama yang menelpon, yang hanya menanyakan kapan jadwal kepulangan kami, sebab ada suatu hal yang perlu segera di bereskan. Entahlah apa itu, aku tidak mengerti. Yang jelas, saat ini aku tidak ingin memikirkan hal itu. Aku masih butuh morning glory-ku. Tapi ... rupanya tidak dengan Tika.


Ia langsung memintaku menyingkir sesaat setelah ia bertanya siapa yang menelepon. Lalu ia langsung menuju ke kamar mandi. Aku menghela napasku. Akhir-akhir ini begitulah Tika. Jika gairahnya akan sesuatu sengaja di hentikan, maka hasratnya untuk melanjutkan pemainanpun juga bisa menghilang begitu saja. Dan ini yang membuat kepalaku sakit!


Kini aku memutuskan untuk pergi ke dapur. Mencoba melihat isi kulkas, siapa tahu ada bahan masakkan yang bisa aku buat. Benar saja, aku bisa membuat sandwich kesukaannya, setelah melihat isi dapur. Aku mulai memasak.


——————————


Setelah permaian yang tertunda itu, napsuku tiba-tiba langsung menghilang begitu saja. Hingga aku memutuskan untuk segera mandi membersihkan tubuhku dari sisa-sisa keringat permainan tadi malam yang masih melekat.


Sekilas pikiranku kembali melayang, teringat akan kisah Lisa tadi malam.


Setelah kepulanganku dan Jefri dari makan malam di restoran ternama di sini, aku memutuskan untuk menelpon Lisa. Sembari menunggu Jefri yang ingin merokok dari dua hari yang lalu. Jefri merokok balkon luar sedangkan aku di dalam kamar, menekan nomer Lisa untuk sekedar bercerita.


Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Maldives hanya dua jam. Jadi jika saat ini aku di sini pukul sebelas malam, maka di Jakarta sudah memasuki pukul satu dini hari. Aku yakin sekali jika Lisa belum tidur. Sebab saat kami makan malam tadi, dia sempat mengirimkan foto selfie-nya sedang bersama Alex.


Ternyata benar dugaanku, Lisa belum tertidur, sebab dia mengangkat telepon dariku.


Kemudian dengan nada yang tersengal, napas yang tidak beraturan dan ngos-ngosan, dia mengatakan jika dia ketakutan, dia sedang ketakutan. Hanya raungannya yang ku dengar. Kemudian perlahan ia bisa menenangkan dirinya sendiri. Dan di saat itu lah aku baru berani bertanya padanya tentang apa yang telah terjadi.


Lisa menceritakan isi mimpinya. Mimpi yang begitu mengerikan sekaligus memprihatinkan.. Mimpinya yang membuatku kesal sendiri, jika kembali mendengar kisahnya diceritakan ulang. Mimpi yang membuatku kembali membenci Dana hingga berlevel-level tertinggi.


Bagaimana tidak?


Lelaki mana yang dengan tega menyiksa seorang wanita? Mengancam keselamatannya hingga membuatnya takut untuk menjalani hati. Merusak mentalnya sedikit demi sedikit. Dan itu kelakuan yang menjijikkan bagiku. Aku membenci itu!


Kuselesaikan mandi keramasku dengan cepat pagi ini. Agar aku dapat kembali menikmati liburanku dengan gembira dan ceria tanpa memikirkan masalah yang ada. Ya setidaknya, aku bisa melupakan masalah itu sejenak hingga nanti aku kembali ke Jakarta lagi.


Begitu selesai aku segera mengenakan baju kaos gober-ku, kemudian berjalan menyusul Jefri yang sepertinya sedang berada di dapur. Bagaimana aku tahu dia di dapur? Tentu saja dari aroma wangi masakkan yang di buatnya.


Dari kejauhan aku mendekatinya, perlahan aku memilih duduk di atas meja yang membelakangimya memasak. Dia terlihat seksi pagi ini. Dengan celana panjang sutranya lalu menggunakan celemek untuk menutupi tubuhnya. Aku terkekeh geli melihat itu.


"Kenapa cowok seneng banget masuk dapur tanpa pake baju?" celetukku, membuatnya berbalik melirikku sebentar lalu kembali melanjutkan masakkannya.


Ia kembali berbalik dengan kedua tangannya yang berisikan beberapa lapis sandwich dalam piring dan sebuah pisau. Berjalan ke arahku dan meletakkan piring itu di depanku. "Dan kenapa cewek seneng banget gak pake celana?" balasnya menjawab pertanyaanku.


Aku menarik celemeknya untuk dilepaskan, dia menurutinya. "Padahal 'kan sayang kalo sampe ada minyak goreng yang kena badan kamu?"

__ADS_1


Ia kembali terkekeh mendengar ucapanku, kemudian tangannya mengelus kedua pahaku. "Padahal 'kan sayang kalo sampe ada minyak goreng yang kena paha kamu?" sahutnya lagi sambil menatapku dan perlahan mengecup pangkal pahaku.


Aku tertawa meledak kali ini, karena ia sempat menyelipkan kepalanya masuk ke dalam baju gober-ku untuk mengecup perutku. Mengecup calon anak kami. Lalu ia mengecup bibirku dan kembali memotong sandwich-nya.


"Hari ini mau jalan-jalan kemana?" tanyanya sambil menyuapiku dengan sepotong sandwich tadi.


"Mungkin jalan-jalannya bisa ntar sore aja, siang ini kita di sini dulu. Gimana?" usulku.


"Ngapain kita di sini?"


"Bercinta," jawabku spontan yang membuatnya tercengang melihatku. Aku memang sudah sengaja mengatur pertanyaan itu agar aku bisa menjawab pun seperti itu, aku ingin melihat reaksinya. Ternyata diluar dugaan, reaksi membekunya yang hanya beberapa detik itu mampu membuatku tertawa terbahak-bahak.


"Kamu bercanda 'kan?"


"Siapa yang bercanda? Aku beneran," jawabku meyakinkan.


Ia kembali memberikanku potongan sandwich-nya, tapi kali ini melalui mulutnya yang di sodorkannya padaku. Aku melahapnya sekaligus mengecup bibirnya. Ia tersenyum.


Lalu, kami melewati sarapan berdua hanya dengan ditemani obrolan-obrolan ringan seperti itu. Dengan segelas susu khusus ibu hamil yang dibuatkannya untukku dan segelas orange jus untuknya.


***


Kami kembali berbaring pada ranjang kamar ini. Bermalas-malasan sambil memikirkan dan membicarakan banyak hal. Mulai dari cara merawat kandunganku nanti, lalu mengurusi bayi kami hingga membahas tentang di mana aku akan tinggal setelah melahirkan nanti. Belum lagi membahas kamar anak yang tidak pernah kami siapkan sebelumnya.


Ya, rumah kami hanya memiliki dua kamar tidur. Yang pertama kamar tidur kami lalu yang kedua kamar tidur khusus tamu yang kami siapkan di dekat kolam renang, yang dulu pernah di gunakan Lisa. Dan Lisa menjadi orang pertama yang tidur di sana.


Jefri juga mengingatkanku untuk memeriksakan keadaan bayi kami sepulangnya dari sini.


"Tapi kamu nemenin 'kan?" rengekku yang berbaring di atas dadanya.


"Ya iya lah, masa aku biarin kamu ke rumah sakit sendirian?"


Kami juga membahas apa saja yang akan kami lakukan nanti sepulangnya dari sini. Banyak rencana yang dibuatnya untukku, untuk kami mempersiapkan kelahiran bayi kami. Membeli peralatan serta pakaiannya, membeli ranjang tidurnya, bahkan sampai membeli boneka yang akan diberikan pertama kali kepada bayi kami nanti.


Semua itu sudah tersimpan rapi dalam ponselnya, karena saat dia meminta izin untuk merokok, tidak ada hal lain yang mengganggu pikirannya selain memikirkan calon anak kami itu, ujarnya.


Dan itu semua terlihat jelas di mataku, bahwa ia ingin memberikan semua hal yang terbaik untuk anak kami kelak. Semaksimal mungkin membuatku nyaman dan membuat anak kami tidak kekurangan suatu apapun. Dan itu membuatku, semakin mencintainya.


Aku merasa semakin beruntung memilikinya. Hingga tak terasa air mata kembali membasahi pelupuk mataku. Bukan karena sedih dan bukan karena ia menyakiti hatiku tapi karena aku bersyukur memilihnya. Bersyukur karena telah memperjuangkan dirinya, menetapkan hatiku untuknya. Walaupun di saat itu aku sadar, ia memiliki wanita lain, tapi bukan sebagai istrinya.


Dan walaupun dulu aku sempat mengacuhkannya, setidaknya itu membuatku tahu, kemana hatinya akan berlabuh. Kemana jiwa dan ragaku akan kuberikan. Dan kini semua terasa lebih sempurna saat kehamilanku, menunggu hadirnya buah cinta kami.


"Kenapa malah nangis?" Suaranya membuyarkan semua lamunan dan pemikiranku. Mungkin air mataku terasa membasahi dadanya hingga ia menyadari akan tangisku.


Kedua tangannya mengarahkan wajahku untuk menatapnya, kedua ibu jarinya menghapus lembut air mata yang membasahi kedua sisi pipiku.


Aku kembali teringat akan janjinya saat melamarku, dulu waktu ulang tahun Max. Dengan satu kaki berlutut di lantai, ia mengatakan bahwa:


"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin akan terjadi. Beberapa waktu telah kita lewati, gak mudah memang. Aku gak mampu menjanjikan kehidupan yang tanpa masalah, tapi aku berani menjanjikan kebahagiaan yang selalu ada kamu didalamnya. Kamu alasan aku tersenyum bahagia. Jadilah matahariku di setiap pagi aku membuka mata. Jadilah penyejukku di kala amarah melanda. Jadilah istriku dan ibu untuk keturunanku kelak."


"Kamu inget waktu dulu ngelamar aku?" ucapku sambil menatapnya.


Ia tersenyum sambil membelai rambutku. "Masa aku lupa sama yang aku lakukan?" tegasnya.


Aku menegakkan tubuhku dari dada bidangnya, mengangkat kepalaku sambil menatapnya tajam. "Berarti kamu inget apa aja yang kita lakuin sebelum kamu ngelamar aku?" sergahku sambil mengigit bibirku sendiri.


Wajahnya merona. Dia malu saat aku mengatakan kalimat itu, dengan sambil memutarkan bola matanya, ia menjawab, "Ya ingetlah, semuanya aku inget. Kamu mau aku sebutin satu persatu semuanya yang pernah kita lakuin? Pertama kit—"


Aku segera menutup mulutnya dengan telapak tanganku. Tapi dia terus saja berbicara bergumam dibalik telapak tanganku, sambil mencoba melepaskan mulutnya dari bekapan tanganku. Dengan sambil tertawa ia selalu mengejekku dengan beberapa kalimat yang sempat aku ucapkan dulu. Dan itu membuatku malu setengah mati.


Bersambung ...


————————————


Hayuks dikomen lagi, berikan komen kalian untuk episode kali ini yaaa 😘😘😘😘

__ADS_1


Babay 💋


__ADS_2