
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Aku sungguh tidak menyangka jika akan masuk ke dalam sebuah keluarga yang seperti ini ikatannya. Sangat begitu kuat bahkan saling menjaga. Sebuah keluarga yang tidak membedakan posisi sebagai menantu, hingga membuat aku merasa bagian dari mereka, bukan menantu yang terasing. Bahkan mereka semua menerimaku dengan apa adanya diri ini. Bukankah sulit mendapatkan keluarga semacam ini?
Apalagi dengan adik wanita seperti Tika, aku benar-benar bersyukur. Selama 29 tahun aku hidup sebagai anak tunggal, ingin sekali rasanya memiliki saudara. Dan untungnya terwujud dengan datangnya Haikal. Bahkan dia juga memberiku seorang kakak lelaki dan seorang ibu lagi sebagai pengganti bunda yang menyayangiku. Aku sungguh bahagia.
“Bukalah,” ucap beliau menyuruhku untuk membuka kotak itu.
Dengan rasa haru yang bercampur dengan bahagia aku membuka kotak itu dan betapa terkejutnya aku saat melihat isinya. Menoleh kepada Haikal yang tersenyum padaku, aku melipat kedua bibirku, tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
“Jangan pernah merasa berbeda dari kami, kita semua sama. Dan kamu kakak ipar aku, adik ipar Shilla. Semuanya anak mamah, iya 'kan Mah?” ucap Tika kepada mamahnya lalu mereka memandangiku.
Seketika bulir air mata timbul dan mengalir begitu saja di wajah ini, aku benar-benar beruntung dibawa bergabung dengan keluarga ini, menjadi salah satu di antara mereka. Aku berdiri dari kursiku mendekati mereka berdua, lalu dalam sekejap aku memeluk mamahnya. Beliau sungguh baik, tidak seperti kata orang yang mana ibu mertua selalu membedakan antara menantunya dengan anaknya yang lain.
“Makasih, Mah, sudah mau nerima Clara.” Aku benar-benar terharu hingga suaraku bergetar mengucapkan semua itu. Erat beliau memelukku. Diiringi dengan elusan tangan Tika di pundakku.
Siang ini terasa begitu spesial untukku. Bukan hanya karena satu set perhiasan pemberian ibu mertua, tetapi juga karena cara mereka menerima kehadiranku. Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung.
Setelah makan siang usai, aku membantu Shilla untuk menyusun beberapa alat makan yang telah selesai digunakan tadi setelah selesai Shilla mencucinya. Aku mengeringkannya alat-alat makan itu lalu memasukkan kembali ke dalam sebuah lemari. Sedangkan Tika dan bi Mince menjaga anak-anak.
“Aku harus panggil apa?” sapaku pada Shilla, dia tersenyum.
“Cukup namaku aja, kayak Tika memanggilku. Kamu juga adik aku sekarang.”
Hati ini kembali terenyuh begitu mendengar Shilla mengatakan itu. Aku tidak pernah merasakan memiliki kakak perempuan dan kali ini aku memilikinya, walaupum tidak sedarah. Dan Shilla ... dia baik sejauh ini padaku, tidak seperti sesama ipar di luaran sana yang saling iri hati dan membenci.
“Hei, kenapa bengong?” tegur Shilla.
Aku menggelengkan kepala dan terasa sangat bahagia mendapatkan respon positif dari Shilla, karena baru kali ini aku berbincang hanya berdua dengannya. Dan ini terasa menyenangkan.
Setelah semuanya selesai, Haikal dan aku segera berpamitan untuk kembali ke kantor.
**
Waktu terasa semakin cepat berlalu. Semua pekerjaanku di kantor telah selesai tepat sebelum jam empat sore ini. Tentu saja dengan bantuan beberapa rekan kerjaku pada bagian pelayanan di depan. Seperti Joanna, Mira Lusia, Arie Kusuma, Cila dan juga Amelya. Jika tidak ada mereka, mungkin pekerjaan ini tidak akan cepat selesai.
Tok tok tok!
“Masuk,” sahutku spontan begitu mendengar pintu ruang kerjaku diketuk.
Kepala Cila menyembul dari balik pintu dan berkata, “Permisi Mba, ada tamu. Katanya sudah bikin janji.”
Aku mengernyitkan keningku, rasanya aku tidak memiliki janji dengan siapa pun hari ini. Apa mungkin aku melupakannya?
“Kamu tadi tanyain siapa namanya?” tanyaku pada Cila.
“Iya, Mba, namanya Raline Siva, katanya perwakilan dari wedding organizer.”
Saat Cila mengatakan itu, barulah aku mengingatnya. Ya, aku memang memiliki janji dengan vendor tersebut beberapa hari lalu yang menjadwalkannya untuk hari ini. “Ah, iya bener ... persilakan dia masuk. Makasih ya Cila!” seruku gembira.
Tak selang beberapa detik kemudian, karyawan perwakilan dari vendor wedding organizer itu masuk ke ruanganku lalu aku persilakan untuk duduk dan kami langsung membahas susunan acara dari rencana pernikahanku itu.
“Maaf ya Mba, karena pimpinan saya gak bisa ikut hadir. Soalnya beliau harus pergi ke Surabaya secara mendadak tadi pagi. Karena ada beberapa kerja sama di sana yang harus segera di selesaikan oleh beliau langsung.”
“Iya gak apa-apa, saya sudah lama kenal sama Mba Icha Cerah. Beliau juga nasabah saya, jadi saya bisa mengerti kesibukannya. Lagi pula ada Mba sekarang yang handle. Saya lebih tenang,” tuturku.
Kemudian Mba Raline segera menjelaskan beberapa prosesi yang biasanya termasuk dalam rangkaian acara pernikahan. Yang mana sebagian memang aku pilih dan sebagian lagi tidak aku laksanakan.
“Mungkin nanti untuk masuk ke ballroom-nya secara terpisah. Karena calon suami saya maunya seperti itu,” jelasku.
__ADS_1
“Oh iya, gak apa-apa Mba, kalau memang mau terpisah. Mungkin nanti hari Rabu, minggu depan, kita bisa ketemu di sana Mba? Sekalian sama suaminya. Biar kita bicarakan kembali susunan acara dan rangkaian lainnya. Agar kami bisa memperkirakan untuk persediaan personil penjagaan.”
“Oh iya betul, nanti kita ketemu lagi aja di sana, biar ini denahnya lebih jelas. Karena rencananya untuk dekor, mereka memulai pengerjaannya hari Senin,” usulku.
Selama satu jam lebih aku dan pihak WO ini berbincang. Dia menjelaskan dengan detail tentang semua yang aku tanyakan padanya. “Saya tadinya kaget, begitu ibu Icha menunjuk saya untuk handle acara suaminya. Soalnya saya dulu pernah dirawat dengan beliau,” ceritanya sesaat sebelum berpamitan.
“Lalu begitu melihat desain ballroom dari hotel Raffles itu, saya sempat takut, apa bisa saya handle acara sebesar itu? Pak Haikal 'kan termasuk terkenal di kota ini. Siapa yang tidak tahu dengan dokter ganteng pimpinan rumah sakit pertama di kota ini.”
Seketika tawaku pecah begitu saja mendengar penuturannya. Ternyata sangat banyak wanita di luaran sana yang mengagumi calon suamiku. Dan betapa beruntungnya aku memilikinya sebentar lagi.
Setelah perbincangan itu, mba Raline akhirnya memutuskan untuk berpamitan karena urusan kami telah selesai. Aku mengantarkannya hingga ke lantai bawah.
“Hei!!” Suara seseorang yang menegurku, bersamaan dengan sebuah tangan yang menepuk pundakku. Membuatku spontan berbalik arah setelah memerhatikan mobil mba Raline yang perlahan meninggalkan area halaman gedung.
Aku bingung melihat seorang wanita yang tadi menepuk pundak dan menyapaku. “Maaf, siapa ya?”
“Astaga, Clara ... kamu ngelupain aku? Ini aku Dyta, Devia Tatoreh! Dulu kita tetanggaan. Waktu kecil ....” Wanita itu menjelaskan sedikit tentang latar belakangnya.
“Ya ampun ... dulu kita sering sembunyi di samping rumah-rumahan kayu di taman, waktu Dana sama Dave nyari kita. Inget gak?”
Perlahan aku kembali mengingat memori indah itu, memori masa kecilku. “Astaga, Dyta? Dyta yang dulu sering aku ketuk pintu rumahnya buat aku ajakin main sampai malam itu? Yang orang tuanya sering ngomelin aku itu?”
“Iya bener! Astaga! Kamu makin cantik ya?!” Kami berdua sama-sama saling berseru dan saling menautkan tangan lalu berpelukan. Melepas rindu akan masa kecil kami.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku padanya.
“Aku kerja di sini, di lantai paling atas. Kamu sendiri?”
“Aku kerja di sini juga, di lantai lima, perusahaan asuransi. Kok aku baru ini lihat kamu? Apa karena aku lupa?” Aku benar-benar lupa dengan wajahnya, sebab dia sangat terlihat berbeda.
“Enggak kok, aku baru beberapa bulan ini di terima kerja di sini. Kamu udah pulang kerja ini?” tanyanya.
“Udah kok, cuman tas aku masih di ruangan. Tadi aku nganterin tamu pulang.”
“Kamu pulang naik apa? Kita nongkrong dulu yuk! Sekalian ngumpul sama yang lainnya. Aku ada contact mereka loh!” tawar Dyta.
Dyta menganggukkan kepalanya. Kemudian aku mengatakan padanya jika aku akan pulang naik taksi tetapi begitu dia mendengar itu, dia malah menawarkan untuk mengantarkanku pulang setelah kami selesai berkumpul dan bertemu dengan yang lainnya.
Aku segera meminta izinnya kembali ke lantai atas untuk mengambil tas dan memintanya menungguku di sini. Dia menyetujuinya. Setelah itu barulah kami pergi menuju ke sebuah kedai kopi ternama untuk segera menghubungi teman-teman yang lainnya.
Di sepanjang perjalanan Dyta menceritakan perjuangan hidupnya hingga akhirnya dia mendapatkan pekerjaannya yang sekarang. Dyta memang pribadi yang ceria dan mudah bergaul. Sifatnya yang di waktu kecil senang guyon pun masih terasa hingga sekarang.
“Beberapa hari yang lalu, aku ketemu Jovanka loh! Aku juga minta nomer teleponnya.”
Lalu aku menceritakan pertemuanku dengan Jovanka di salah satu mall. Namun, tiba-tiba saja Dyta terlihat malas mendengarkannya hingga akhirnya dia mengatakan suatu hal yang membuatku tercengang.
“Kamu gak tahu apa kalo Jovanka itu simpenan om-om tajir?”
“Hah?!” Aku benar-benar terkejut mendengarnya, sebab aku benar-benar tidak tahu apa pun lagi tentang mereka semua semenjak pindah dari perumahan yang dahulu.
“Idiih iya, coba deh ya, nanti tanya aja sama Riska trus sama Luna juga. Mereka aja tahu, malah mereka pernah lihat Jovanka keluar hotel gandeng tangan om-om tuir!”
“Apaan tuir?” tanyaku bingung.
“Tuir itu tua. Om-om berumur.”
Setelah itu kami melanjutkan pembicaraan itu di salah satu kedai kopi hingga Riska dan Luna datang. Kami berempat melepas rindu, membicarakan banyak hal tentang masa kecil dulu, bahkan Luna selalu saja menggodaku dengan memyebutkan nama Dave. Ya, Dave adalah teman lelaki kami dahulu yang terlalu nakal dan jahil. Tetapi, jika dibandingkan dengan Dave, aku lebih menyukai adiknya, Dana. Karena dia sangat lembut dan juga terlihat kalem.
Namun semua itu hanyalah masa lalu. Kenangan kecil yang membuatku merasa bahagia. Merasa senang, tetapi tidak setelah orang tua kami semua perlahan memutuskan untuk pindah dari lingkungan itu satu per satu. Dengan alasan yang tidak pernah aku ketahui dan tidak pernah aku tanyakan pada orang tuaku.
“Oh iya, aku lupa sesuatu.” Aku langsung mengambil tasku yang diletakkan di belakangku duduk dan mengambil tiga buah undangan pernikahanku. Lalu membagikan pada mereka satu per satu.
Mereka terkejut lalu bersorak. Menyerukan ketidakpercayaan mereka akan undangan itu.
“Ini seriusan?” seru Luna.
__ADS_1
“Jangan becanda deh!” Dyta membulatkan matanya menatapku.
“Iya ih, masa pertama ketemu lagi udah dikasih undangan begini?” Riska menimpali.
Aku tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. “Iya, sepuluh hari lagi aku nikah. Dan itu undangan buat kalian, jangan gak dateng!”
Mereka bertiga masih tidak menyangka dengan apa yang aku ucapkan. Sampai akhirnya aku kembali memgambil undangan itu lalu menuliskan nama mereka di sana. Ya, aku masih mengingat nama lengkap mereka semua. Dyta Tatoreh. Riska Ayunda. Dan yang satunya Luna Vivian. Teman masa kecil yang membuat memori masa kecilku begitu bahagia dan berarti.
Tidak terasa kami menghabiskan waktu hingga malam hari. Membicarakan banyak hal hingga kembali memperbincangkan tentang kehidupan Jovanka yang kelam.
Luna mengetahui segalanya, sebab sebelum kedua orang tua Jovanka meninggal, mereka berdua masih sering bertemu. Tetapi begitu Jovanka hidup sendiri, Luna melihat ada gelagat aneh darinya. Yang mana tiba-tiba Jovanka tidak lagi menerima Luna datang ke rumahnya. Belum lagi Luna yang melihat beberapa mobil yang sering keluar masuk ke rumah Jovanka yang berpagar beton.
Dan ketika kami sedang asyik bercerita tentang itu tiba-tiba saja ponselku yang berada di dalam tas berbunyi.
🎶
Monday
Took her for a drink on Tuesday
We were making love by Wednesday
And on Thursday and Friday and Saturday
We chilled on Sunday
I met this girl on Monday
Took her for a drink on Tuesday
We were making love by Wednesday
And on Thursday and Friday and Saturday
We chilled on Sunday
🎶
Ternyata sebuah panggilan telepon dari Haikal. Aku langsung meminta izin kepada mereka untuk segera menerima telepon itu.
“Hallo?”
Haikal menanyakan keberadaanku saat ini dan aku mengatakan padanya jika aku masih berkumpul bersama dengan teman-temanku ini. Sebab sebelum pergi, aku sempat memgiriminya sebuah pesan, yang mana aku mengatakan jika tidak perlu menjemputku sore tadi sepulang bekerja.
“Iya, paling sebentar lagi. Ya udah, gak apa-apa kalo kamu mai jemputin aku ke sini. Nanti biar sekalian aku kenalin sama temen aku waktu dulu. Ya udah, aku tunggu ya. Bye.” Aku langsung mengakhiri sambungan telepon itu.
“Calon suami kamu mau ke sini?” tanya Dyta.
Aku mengangguk. “Iya, kayaknya kamu gak perlu repot buat anterin aku pulang.”
“Tapi nanti dia ke sini dulu 'kan? Kenalinlah sama kami, siapa tahu ketemu di jalan. Jadi gak salah naruh umpan.” Riska menggoda. Seketika kami berempat kembali tertawa. Aku mengerti istilah yang diucapkan olehnya itu, sebab mereka ternyata juga masih melajang.
Bersambung ...
——————————
Hayoooo kali ini nama siapa dari kalian yang muncul?? 🤭 Maaf gak bilang dan gak izin sebelumnya. Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku pada kalian, karena kalian sering memberikan komentar pada setiap bab. Dan untuk yang belum/tidak disebutkan namanya, aku juga berterima masih. Mungkin akan aku sebutkan di episode selanjutnga ataupun di naskah Milik Wanita Lain dan karya-karyaku nantinya.
Sebab mencari nama lengkap untuk seorang tokoh itu sangat sulit bagiku. Butuh waktu berhari-hari. Tetapi dengan adanya nama kalian, aku jadi mendapatkan ide ini dan merasa lebih terbantu.
Sekali lagi terima kasih untuk semua para pembaca 💋
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
__ADS_1
Babay ...
@bossytika 💋