
Tika POV.
Aku telah sampai pada sebuah bangunan tua. Ya, bukan rumah, sebab tempat itu tidak layak untuk disebut sebagai rumah. Sangat kotor, tidak terawat bahkan rerumputan dibiarkan tumbuh dengan tinggi. Tidak ada pagar yang membentengi bangunan itu, bahkan lampu yang terpasang disekitar bangunan sungguh sangat sedikit. Membuat suasana terasa mencekam dan mengerikan bagiku.
Dengan susah payah aku menelan salivaku sendiri, berharap dapat membasahi tenggorokkanku yang seketika terasa sangat kering dan pahit. Sambil mengusap permukaan perutku, berkali-kali aku menarik napas da mengembuskannya dengan satu kali embusan melalui mulutku. Mencoba menenangkan detak jantungku.
Aku akui, ini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan selama ini. Apa lagi dengan kondisiku yang seperti ini. Lagi-lagi aku menarik napas, menghirup udara yang bergerak bebas di sekitaranku tanpa terasa dan terlihat. Mencoba mengembalikan ritme jantungku seperti biasanya.
Kuraih ponselku yang sedari tadi berada di atas pangkuanku. Lalu kunyalakan mode senyap dan menyimpannya pada laci dashboard tengah. Sebelum turun, sekali lagi aku melihat-lihat di sekitaran rumah itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa Max sudah di sini. Tidak ada pula tanda jika Max mengetahui tempat ini. Apa Max di arahkan pada tempat lainnya sebagai jebakan? Lalu apa aku harus menghubunginya sekarang?
Tokk tokk tokk!
Aku terpekik kaget dan segera menoleh melihat siapa yang telah mengetuk kaca jendela mobil ini. "Keluar!" ucap seorang lelaki berbadan gempal dengan wajahnya yang beringas. Dengan perasaan takut dan gugup aku membuka pintu, mengurungkan niatku untuk menghubungi Max.
Dengan kasar lelaku itu menarik lenganku, lalu memaksaku untuk berjalan cepat di depannya, menuju ke dalam rumah. Setelah hampir sampai di depan pintu rumah, aku baru menyadari ternyata banyak orang yang menjaga di luar. Rata-rata mereka menggunakan pakaian penyamaran. Sangat rapi dan tidak terlihat. Mungki karena di dukung oleh cahaya lampu yang minim.
Setelah pintu dibuka, lelaki gempal itu mendorong bahuku. Membuat keseimbangan tubuhku nyaris hilang. Untung saja aku tidak jatuh dan tersungkur di lantai.
Begitu di dalam rumah, pemandangan yang hampir sama dengan di luar kembali kutemui. Dingin, pengap bahkan menjijikan. Ada beberapa orang yang berdiri di hadapanku. Dan mereka semua memiliki tubuh yang lumayan kekar dan berotot.
Aroma yang tidak nyaman kembali merasuki lubang hidungku, hingga membuatku merasakan ketidaknyamanan. Tanpa berpikir panjang. Aku langsung menanyakan di mana posisi Dana saat ini.
"Mana bos kalian? Gua mau ketemu Dana!" Aku berucap dengan lantangnya. Semua menatapku dengan pandangan menakutkan.
Aku tersentak melihat mereka yang satu persatu mulai berdiri dari duduknya yang mendekatiku. Bahkan beberapa dari mereka menyeringai jahat, membuat napasku benar-benar tersengal tanpa aku harus berlarian. Mata mereka semua bagaikan seekor singa yang siap menerkam. Bagai haus akan sebuah kenikmatan dunia.
__ADS_1
Perlahan aku memundurkan langkahku hingga sebuah suara teguran, membuat para lelaki itu sadar dan segera menundukkan wajah mereka. "Hei ... hei ... bukannya Dana sudah bilang sama kalian kalau wanita ini miliknya?" Sebuah suara menggema, sepertinya berasal dari lantai yang sama.
Satu per satu para lelaki di hadapanku ini mulai menggeserkan langkah kaki mereka, membuka jalan untuk seseorang di belakang mereka yang tadi berseru. Aku menantikan kemunculannya di antara para lelaki kekar itu. Bak seorang pejabat dengan deretan bodyguard yang melindunginya, seorang lelaki muncul di hadapanku.
Sambil memegangi perut, aku menatapnya, mencoba mengenali siapa dia. Tapi sayang, aku benar-benar tidak tahi siapa lelaki ini. Tapo bagaimana dia bisa mengenaliku?
"Mana Dana? Kalian sembunyiin di mana Lisa?" ucapku tegas, tetapi napas tersengal. Lelaki itu tersenyum memperlihatkan seringaiannya saat menatap turun ke arah perutku. Lalu hanya dengan sekali gerakan kepala yang nyaris tak terlihat oleh mataku, kedua lelaki yang berdiri paling dekat denganku langsung menyergap kedua tanganku. Memeganginya dengan sangat kuat.
"Kenalkan, aku Dave, kakak Dana." Dengan perlahan ia berjalan mendekatiku, menyentuh daguku dan menariknya dengan kuat. Aku meringis karena ulahnya ini.
Kemudian ia mengatakan bahwa Dana sedang bersenang-senang dengan Lisa di kamar atas. Ia juga mengatakan bahwa dirinya lah yang menikmati Lisa lebih banyak di bandingkan adiknya sendiri. Jadi saat ini ia sedang memberikan waktu kepada adiknya, agar adiknya bica mencapai kepuasan yang tiada tara sebelum kembali bersamaku.
"Tapi sepertinya ... Dana gak bisa nikmatin tubuh kamu dengan kondisi seperti ini. Walla!! Kamu benar-benar di luar ekspektasi," ucapnya sambil diakhiri dengan decaknya yang membuatku semakin takut.
—————
Alex POV.
Kini bukan Max lagi yang memimpin gerakan penyelamatan ini tapi seseorang yang mungkin berpengaruh sangat besar. Entahlah, aku tidak mengenali seorang pun di sini, hanya Max.
Namun Max seakan syok mendengar kabar bahwa saat ini adiknya, Tika, sudah masuk ke dalam tempat iti seorang diri. Mungkin Max akan menyalahkan Jefri, ya, pasti. Aku yakin sekali dengan itu. Tapi aku juga meyakini, Jefri pasti memiliki alsannya sendiri. Lagi pula tadi saat kuhubungi, ia mengatakan jika sedang baik-baik saja bersama Tika dan ia tidak mengetahui mengapa penyebabnya Tika sambil berani mengambil keputusan sepihak.
Tapi aku tidak ingin membuat semuanya semakin kacau dengan pemikiranku sendiri. Oleh karena itu, aku memilih untuk diam saat ini dan mengamati satu per satu semua gerakkan yang mereka lakukan. Agar aku dapat ikut dengan mereka untuk menyelamatkan Lisa dan Tika.
Max tiba-tiba muncul saat kami membahas sebuah rencana. Dari sorot matanya, aku bisa melihat dengan begitu jelas bahwa tekadnya kembali membara. Aku pun ikut terpacu.
__ADS_1
Semua rencana telah siap. Aku juga sudah mengirimkan lokasi tempat ini pada Jefri agar ia segera datang. Kemudan kami bersiap untuk melakukan penyerangan secara terbuka.
Untuk di awal kami akan melakukannya dengan tanpa suara alias tanpa senjata. Agar dapat melumpuhkan para penjaga dari luar. Kemudian masuk dengan sembunyi-sembunyi dan tetap menggunakan tangan kosong, sambil mencari tahu di mana keberadaan Lisa dan Tika.
Dengan mudah kami dapat melumpuhkan musuh. Ada sekitar lima belas orang lebih yang berhasil kami buat pingsan hanya dengan sekali gebrakan di bagian luar halaman depan rumah dan sekelilingnya. Semua yang melakukannya adalah orang-orang kepercayaan dari Max tadi. Dengan keahlian khusus yang dimiliki oleh memimpin strategi sebelumnya, namanya Igo.
Ya, lelaki itu terlihat mahir menggunakan sebilah pisau di tangannya. Aku hampir terpukau dibuatnya. Semua kami lakukan dengan keheningan. Dan berkat Igo berserta orang-orangnya, aku dan Max tidak harus mengotori kedua tangan kami.
Saat kami bersiap untuk memasuki rumah, semua sudah pada posisinya masing-masing. Namun seperti biasanya, sesempurna apapun rencana yang manusia buat pasti selalu akan ada kecacatan yang terjadi. Dan benar saja, saat semua sedang sibuk dengan lawan masing-masing, tiba-tiba seseorang muncul dari belakangku dsn menancapkan sebuah pisau pada pundakku. Aku meringis mendapatkan kejutan itu. Lututku langsung kehilangan keseimbangan yang pada akhirnya aku luluh lantah ke lantai.
Max yang menyadari itu, tiba-tiba berbalik lalu mendaratkan bogem mentah pada orang yang sudah menusukku. Dan tidak tanggung-tanggung, seorang pria lainnya juga mencekik Max dari belakang dengan lengannya yang kokoh. Dengan sekuat tenaga, Max menarik kuda-kuda pada kepalanya sendiri untuk membenturkannya pada kepala lelaki yang sedang mencekiknya. Dengan ayunan kepala yang di tengadahkannya dengan spontan dan kuat.
Buukk!!
Tiba-tiba pria di belakangnya itu kini tersungkur di lantai, dengan kepala depannya yang bocor akibat ulah Max. Tidak berhenti sampai di situ saja. Aku masih melihat Igo, yang perlahan menaiki tangga dengan pistol yang ia pegang dengan kedua tangannya. Erat. Sambil berwaspada siapa tahu ada musuh yang ingin mencalakainya. Dan benar saja, seseorang muncul dari puncak tangga dan menerjang Ijo hingga mereka berdua harus merasakan sakitnya tergulung dan terhempas pada lantai bawah.
Belum selesai di situ. Kini Igo sudah di kunci gerakannya oleh lelaki lainnya yang memukuli Igo tanpa henti dari atas tubuhnya. Bak peninju professional yang mendaratkan hantamannya yang bertubi pada wajah Igo dan membuat Igo banyak kehilangan tenaga.
Mereka semuanya menghadapi lawannya masing-masing, dengan tenaga mereka yang membara. Sedangkan aku, akibat sebuah tusukkan yang aku dapatkan di pundakku, membuat penglihatanku semakin perlahan semakin mengabur. Bahkan rasa nyeri di pundak belakangku kini semakin jelas terasa.
Tidak ada yang dapat aku perbuat, hingga sebuah suara mendekatiku, diiringi dengan suara tembakan beberapa kali. Namun kepalaku sudah terlalu pusing untuk mengenali siapa lelaki yang menggoncang tubuhku.
"Lex, bangun, sadar!"
Bersambung ...
__ADS_1