
Jefri POV.
Pikiranku agak sedikit kacau hari ini. Saat ini pun aku tidak bisa berpikir jernih.
Sesampainya kami didepan ICCU, terlihat hanya ada Jerry, Nita dan Jordy disana. Tidak ada Mama.
"Mama mana?" tanyaku pada Jerry yang memegang lengan Jordy.
"Ontyyy onttyyyy!" seru Jordy berusaha melepaskan pegangan Ayahnya.
"Mama didalam. Tadi Papa nyari lu," jawab Jerry.
Jordy berlalu memeluk Tika, ia menyambut Jordy dengan pelukan hangat. Menggendongnga dan menghamburi Jordy dengan kecupan kasih sayang di pipi gempalnya. Jordy kesenangan.
"Ga papa kali ya, kalo gua masuk?" tanyaku pada Jerry.
"Ya coba aja," sahut Jerry singkat.
Aku menoleh pada Tika, "Aku ke dalam dulu ya?"
"Iya," jawabnya mengizinkanku.
Tidak menunggu lama lagi, aku segera melangkahkan kaki ku memasuku ruangan ICCU.
Seorang perawat menghampiri saat aku berhasil masuk, kenudian perawat itu mengizinkanku untuk menemui Papa.
Terlihat Mama sedang duduk di sebuah kursi disamping ranjang Papa. Menggenggam erat jemari Papa sambil saling berpandangan. Tanpa sepatah kata pun. Mereka seperti sepasang kekasih diusia muda.
Perlahan aku mendekati mereka, hingga pandangan Papa menyadari kehadiranku. Menangkap jelas sosokku yang kini berdiri dibelakang tempat duduk Mama.
Ku cengkram bahu Mama lembut. Salah satu tangan Mama meraih cengkraman ku. Menyentuh dan menepuk punggung tanganku kilas.
"Maaf permisi," suara seseorang di belakang kami.
Aku menolehkan pandanganku, ternyata itu suara Dokter tadi siang yang sempat menemui kami. Dokter yang menangani Papa.
"Untuk sementara waktu, Pak Atta belum bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Kami masih harus memeriksa keadaan beliau lebih intensif lagi. Sekali lagi kami minta maaf, ini untuk kemajuan kondisi dari Pak Atta sendiri," ucap Dokter itu.
Mama beranjak dari kursinya, berdiri berhadapan dengan Dokter itu, "Iya, tidak apa-apa, Dok. Saya mohon bantuannya untuk kesembuhan suami saya."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Sebentar lagi kami akan melakukan pemasangan Selang Nasogastrik, itu adalah selang makan yang digunakan untuk menyuplai asupan nutrisi serta gizi yang Pak Atta butuhkan. Selang itu akan dimasukkan melalui hidung hingga ke lambung beliau. Oleh karena itu, kami butuh persetujuan dari pihak keluarga, karena jika dilihat dari kondisi beliau, sungguh tidak memungkinkan untuk beliau makan seperti biasanya." jelas Dokter itu.
"Lakukan mana yang terbaik menurut Dokter," ucapku menyela.
"Baik, bisa salah satu ikut saya keruangan untuk tandatangan surat persetujuan itu?"
"Biar saya aja, Dok ....," sela ku lagi, "Mama disini aja, temenin Papa."
__ADS_1
Aku melangkah keluar dari ruangan kaca dimana Papa di rawat. Mengikuti langkah Dokter di depan ku ini.
Sesampainya diruangan Dokter itu, aku dipersilahkan duduk olehnya. Ruangannya sangat bersih dan rapi.
"Sebenarnya selain penandatanganan dokumen ini, ada satu lagi yang ingin saya beritahukan. Untungnya Anda yang bersedia menandatangani ini," ucap Dokter itu sambil mengambil sebuah map yang terletak di dalam laci mejanya.
Kemudian Dokter itu duduk di kursinya, manarik nafas pelan lalu menghembuskan perlahan.
"Sebelum tandatangan persetujuan, saya ingin menjelaskan sedikit tentang kondisi Pak Atta dulu,"
"Papa saya kenapa, Dok?" tanyaku berusaha tenang.
"Setelah tadi siang kami melakukan serangkaian pemeriksaan total. Kami tidak hanya menemukan tanda stroke yang dialami Pak Atta, ada pula kami temukan pembekuan darah dibagian tengkorak kepala beliau. Namun kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi," jelas Dokter Farhat.
Ya, aku baru mengetahui nama Dokter itu dari papan nama yang bertengger diatas meja nya.
"Maksudnya, Dok?"
"Perkiraan saya pembekuan darah tersebut akibat dari menyempitnya pembuluh darah, namun saya belum menemukan dimana letak tepatnya. Hal itu yang membuat beliau terkena stroke."
"Tapi masih bisa disembuhkan kan, Dok?" ucapku penuh penekanan.
"Pasti kami usahakan, namun kami juga butuh dukungan dari pihak keluarga. Selain untuk mengontrol makanan beliau, kami juga butuh keluarga untuk mengontrol pemikiran beliau."
"Oh, baik, Dok."
"Nanti malam akan segera kami lakukan pemasangan selang ini."
"Dok, saya boleh minta tolong sesuatu?" tanyaku penuh harap.
"Boleh, apa itu?"
"Tolong untuk ke depannya jika ada sesuatu yang penting segera kabari saya. Hanya saya."
"Baik," sahut Dokter Farhat tegas.
Aku berdiri dan mengajak Dokter Farhat untuk berjabat tangan, dengan spontan beliau berdiri dan menyambut jabatan tanganku.
"Terimakasih, Dok. Tolong sembuhkan Papa saya."
"Kami akan berusaha semaksimal kami dan jangan berhenti untuk berdoa, kekuatan doa itu sungguh luar biasa."
Aku mengangguk mantap kemudian segera keluar dari ruangan itu. Ku tinggalkan Dokter Farhat yang masih berada dalam ruangannya.
Ada sedikit rasa lega dalam hatiku karena mengetahui kondisi Papa yang sebenarnya. Sambil kembali menuju ruangan dimana Papa terbaring.
Aku membuka pintu yang memang tidak melewati pintu utama dimana Tika dan yang lainnya sedang menunggu. Dari kejauhan ku lihat Mama masih dengan setia menggenggam tangan kanan Papa yang di infus.
__ADS_1
Papa terlelap, matanya terpejam. Ku dekati mereka dengan perlahan kemudian ku sentuh bahu Mama. Mama hanya menoleh sekilas.
Bunyi mesin detak jantung meramaikan suasana ruangan berdinding kaca ini. Dingin. Ku pandangi raut wajah Papa yang terlihat letih atau mungkin itu adalah raut wajahnya yang sedang menahan sakitnya. Melawan penyakit yang dideritanya.
"Ma, biarkan Papa istirahat. Mama juga butuh istirahat," lirihku membungkukkan badan.
Mama hanya mengangguk pelan kemudian berdiri. Mengecup kening Papa dengan penuh kelembutan, mengelus pipinya lalu berbalik menghadapku dan tersenyum. Lebih tepatnya memaksa untuk tersenyum.
Ku raih lengan Mama dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan ini. Mama menurutiku.
Dengan perlahan ku rangkul tubuh Mama menyamping sambil berjalan, "Mama harus kuat. Papa pasti sembuh."
Tanpa berkata apapun, Mama kembali mengangguk pelan sambil tersenyum paksa dengan pandangan yang kosong. Sisa beberapa langkah lagi kami sampai didepan pintu utama, tiba-tiba langkah kaku Mama terhenti kemudian dengan spontan Mama langsung memelukku membuat ku agak sedikit terpekik karena kaget.
"Wow! Ma?"
Mama memeluk erat kemudian perlahan ku dengar suara isak tangisnya.
"Ma, Ma ... Mama kenapa?" tanyaku mencoba sambil mengelus punggungnya, mencoba untuk menenangkannya.
"Sudah ya, Ma? Kan tadi aku udah bilang, Mama harus kuat demi Papa, demi kami. Papa pasti gak mau liat Mama begini. Kalo Mama gini, trus siapa yang kuatin Papa? Siapa yang nyemangatin Papa buat sembuh? Iya kan?" lirihku mencoba menguatkan Mama.
Perlahan ku genggam kedua lengan Mama, ku dorong pelan agar aku dapat mematap wajah Mama. Saat itu aku baru menyadari, dia adalah sosok wanita satu-satunya di dunia ini yang paling rapuh yang pernah aku temui. Apalagi saat kondisi seperti ini.
"Ma, liat aku?" pintaku.
Perlahan Mama mengangkat wajahnya, mengusap airmata yang membasahi kedua pipinya. Menatapku dengan tatapan sendu. Pandangannya kosong. Semua itu terlihat jelas saat ini.
"Mama harus kuat, demi Papa. Mama harus selalu sehat biar Papa ada yang ngurusin. Ya?" lirihku lagi.
Mama terdiam sejenak, memandangi wajahku. Kemudian tiba-tiba Mama kembali memelukku. Namun kali ini tanpa tetesan airmata lagi, tanpa isak tangisnya lagi. Aku membalas pelukkan Mama erat.
Dia wanita yang paling wajib untuk ku lindungi saat ini selain istriku. Sebab, kedua orangtuaku selamanya akan selalu menjadi tanggung jawabku, selalu akan menjadi kewajibanku untuk merawat mereka. Dengan ataupun tanpa persetujuan istriku sekalipun, batinku.
----------------------------
Hai readers!!!
Mohon maaf sebelumnya yaa, atas berkurangnya proses update yang aku lakukan pada ceita ini.
Aku harap kalian tetap terus mendukungku dalam berkarya.
Dan kalian tidak perlu khawatir, cerita ini akan terus berlanjut. Hanya saja memang akan berjalan seperti siput, lamban.
Terimakasih pada kalian semua yg masih mau setia menunggu bahkan membaca kembali season pertama hingga berulang kali.
Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa 😘
__ADS_1