
Jefri POV.
Setelah lumayan lama Tika menangis, akhirnya ia tertidur dengan matanya yang sembab. Perlahan aku memindahkan kepalanya ke bantal. Lalu menarikan selimut untuk menutupi tubuhnya. Kuselipkan anakan rambut yang terurai menutupi sebagian wajahnya.
Mengapa ia harus menerima kenyataan pahit ini?
Melihatnya seperti ini sungguh membuat hatiku pilu.
Baru saja ia bahagia dapat melihat kedua anaknya bernapas. Dan kebahagiaan itu belum sempurna kami rasakan karena kami belum bisa membawa kedua anak itu pulang ke dalam dekapan kami. Sekarang malah disuguhi lagi dengan masalah ini.
Terlalu berat baginya.
Andai kata Tika tidak terlalu berlebihan dengannya, mungkin ia tidak akan seperti ini. Tidak akan berharap lebih dan tidak akan pula sesakit ini. Tapi nasi telah jadi bubur. Semua yang Tika lakukan pun pastilah dianggap tak berarti baginya. Lalu untuk apa terus memikirkannya?
Ya, Tika harus bangkit. Aku harus mendukungnya dengan apapun yang ia putuskan nantinya. Tapi sebelum ia memutuskan aku juga harus memgingatkannya sebagai istriku. Sebab aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.
๐ถ
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
๐ถ
Tiba-tiba ponselku yang tadi sempat aku letakkan di atas meja makan berdering. Segera aku melangkahkan kakiku, menginjak anak tangga dan menuruninya. Menuju ke meja makan. Sebelum kusentuh benda ajaib itu. Aku melihat sebuah nama yang tertulis di layar luar. Haikal.
Segera aku menggeser tombol hijau pada layar sentuh ponselku. Lalu mengangkat benda itu dan menempelkannya di telingaku.
"Hallo?"
"Kamu di mana?" Suara Haikal di seberang telepon sana.
"Di rumah, kenapa?"
"Loh, udah di rumah aja. Bukannya tadi ke sini? Aku barusan dari liatin si twins. Kata perawat di sini tadi ada kalian," jelas Haikal.
__ADS_1
Kemudian aku kembali menjelaskan pada Haikal jika beberapa jam yang lalu aku dan Tika memang sedang berada di sana. Lalu saat ingin pulang, di lobby rumah sakit kami bertemu dengan Alex. Yang mana membuat kami bingung.
Lalu Alex mengatakan bahwa Lisa sedang di rawat di rumah sakit. Tadinya aku dan Tika berpikir, di rawat karena sakit yang lain. Tapi tidak kami sangka nyatanya malah sebaliknya. Bahwa Lisa kecelakaan di hari yang sama saat Tika selesai melahirkan.
Dan yang lebih membuat kami berdua bingung adalah Haikal sendiri. Mengapa dia tidak memberitahukan aku dan Tika?
Aku akui, aku memang kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Lagi-lagi nasi sudah menjadi bubur.
"Kenapa kamu gak ngabarin aku atau Tika, Kal?, Kalau kondisi Lisa ituโ"
"Aku minta maaf, mungkin aku terlalu banyak berpikir." Sela Haikal memotong pembicaraanku.
Namun aku juga tidak ingin membuat masalah menjadi begitu rumit. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri panggilan telepon itu, dengan alasan aku ingin segera pergi, kembali menuju kantorku. Haikal memahami keputusanku dan kami sepakat menyudahi pembicaraan lewat telepon itu.
Aku kembali meletakkan ponselku di atas meja makan. Kemudian aku bejalan menuju meja kitchen di dapur. Meminta tolong pada bi Mince yang saat itu selesai mencuci piring makannya, untuk menyiapkan makan siangku.
Aku memaksa untuk mengisi perutku sebelum aku kembali ke kantor. Suap demi sesuap sendok nasi aku masukkan ke dalam mulut. Agar tubuhku tetap bisa melakukan aktififas dengan stabil. Namun di saat aku sedang makan, tiba-tiba saja mataku tertuju pada sebuah kotak coktat yang terletak di atas mesin pemanas makanan kamu alias oven.
Dari posisiku duduk, aku mencoba memperhatikan dari kejauhan. Tadinya aku berpikir jika kotak itu hanya sebuah kotak hiasan biasa untuk mempercantik bagian atas oven. Sampai akhirnya mataku menemukan sebuah kejanggalan pada kotak kerdus itu. Yaitu sebuah pita.
Ya, pita dari salah satu agen pengiriman barang. Bukan pita hias yang biasanya di gunakan untuk menghiasi sebuak box atau kotak kerdus supaya terlihat cantik.
Aku melepaskan sendok dan garpuku di atas piring. Beranjak perlahan mendekati kotak itu. Melupakan makanan nikmat yang sebagian tadi sudah aku habiskan. Dan sekarang sedang bersarang dengan baik di dalam perutku.
Aku sedang sendiri saat ini, bi Mince sudah masuk ke kamarnya untuk istirahat, sebab ia mengurusi rumah seharian ini.
Aku meraih kotak kerdus coklat itu, lalu membukanya tanpa berpikir panjang. Aku langsung membukanya dan mendapati sebuah mainan bayi yang berwarna-warni. Yang biasanya di gantung pada atas tiang kelambu bayi lalu mengeluarkan nada-nada lembut yang membuat mata mengantuk. Dengan mainannya yang berputar. Aku tidak tahu nama mainan ini.
Apa tika membelinya secara online? Mengapa hanya satu? Bukan kah kami memiliki bayi kembar? Entahlah, aku segera mengembalikan barang mainan itu ke kotaknya, lalu meletakkannya ke tempat asal.
Setelah selesai makan, aku langsung membersihkannya alat makanku tadi lalu bersiap untuk kembali ke kantor.
***
Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan memasuki gedung kantorku. Kemudian berjalan ke arah lift untuk menuju ke lantai tujuh gedung ini. Bukan lantai paling atas. Ruanganku tepat berada di tengah-tengah gedung ini.
Begitu keluar dari lift aku segera kembali melangkahkan kaki menuju ke ruanganku. Sesampainha di sana, betapa terkejutnya aku begitu memasuki ruang kerjaku. Ada sosok seseorang yang sedang duduk di kursiku dengan sebuah koran di tangannya tang terbentang, hingga wajahnya tertutup dengan koran itu. Dikarenakan meja kerjaku yang terbuat dari sebuah kaca tebal yang transparan, menyebabkan aku bisa melihat dengan jelas jia ia berpakaian seksi untuk masuk ke kantorku.
Ya, dengan penglihatanku di posisiku berdiri saat ini, aku dapat melihat dengan sangat jelas jika itu adalah seorang wanita. Yang menggunakan sebuah rok yang sangat mini. Yang mana akhirnya memperlihatkan bagian pahanya dan kaki jenjangnya.
Sebelum sosok wanita itu menyadari kehadiranku di sana, aku sudah bisa menebak dengan jelas jika semua ini pasti kerjaannya pak Hardi, siapa lagi?
โโโโโ
Max POV.
Sudah setengah isi dari sebungkus rokok yang aku miliki tadi habis aku nikmati. Di temani dengan suara desiran ombak serta embusan semilir angin, yang mestinya menenangkan jiwa.
Langit kini mulai berubah warna dan angin sejuk semakin kian menyapa. Menerobos masuk melalui pakaianku, membuatku menjadi merasa kedinginan.
๐ถ
My location unknown tryna find a way back home to you again
__ADS_1
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
๐ถ
Entah ini sudah dering yang ke berapa kalinya lagu dengan judul 'location unknown' dari Honne ini berkumandang. Lagu yang sengaja aku gunakan sebagai panggilan masuk seluruh panggilan masuk di ponselku.
Jangankan untuk menerima telepon itu, bergerak untuk mengambil dan melihat nama siapa yang menghubungiku saja, aku malas. Kubiarkan ponsel itu terus berbunyi dalam kantong celanaku. Aku benar-benar menghiraukan bunyi itu sambil kembali menyulut sebatang rokokku.
Aku menghisap asap rokokku lalu mengembuskannya sekaligus mengembuskan napasku yang berat. Sesekali aku memijati pelipis mataku sendiri. Hingga akhirnya aku memilih berdiri, menepuk-nepuk bokongku lalu sekali lagi membuang napasku dengan kasar di tempat ini. Setelah itu barulah aku beranjak pergi, kembali menuju ke mobilku.
Sebelum memasuki mobil, aku menundukkan tubuhku, menancapkan putung rokok yang masih menyala itu ke dalam pasir agar mati dengan sendirinya. Barulah aku masuk ke dalam mobilku, setelah mengepak-ngepakkan telapak kakiku.
Aku tinggalkan semua rasa penyesalanku di pantai ini, lalu aku nyalakan mesin mobil dan mengarahkannya menuju pulang ke rumahku.
Di sepanjang perjalanan hanya wajah Shilla yang aku bayangkan. Rasanya aku ingin sekali cepat-cepat sampai ke rumah. Merengkuh tubuhnya dan mengatakan padanya betapa aku mencintainya.
Tidak ada lagi sebuah keraguan yang membelenggu kalbuku dengan kedok sebuah rasa tanggung jawab. Aku merasa bebas kali ini, tanpa beban. Dan mungkin ini yang terbaik untuk jiwaku. Bertahun-tahun terasa sesak, kini aku bisa melepaskannya. Ya benar, aku melepaskan sebagian sudut hatiku itu.
***
Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Perlahan aku meraih kenop pintu depan rumahku, lalu mendorongnya dan masuk ke dalam rumahku sendiri. Suara anak pertamaku yang sedang bermain terdengar pertama kali. Ya, suara Icel. Dia berlari menghampiriku dengan kedua tangannya yang diangkat sebagai tanda ia ingin dirinya gendong. Aku melakukannya.
Kuciumi pipi kiki dan kanannya serta tak lupa juga keningnya, lalu terakhir kudaratkan bibirku ada bibir anakku sendiri. Icel masih belum terlalu fasih untuk berbicara. Masih dengan cadelnya dan terkadang menggunakan 'bahasa planet'-nya tapi itu cukup membuatku tertawa.
Suasana rumah yang benar-benar selalu aku nantikan jika pulang dari kantor.
Aku membawa Icel kembali ke ruang tengah, berkumpul dengan Feli, anak keduaku. Dan juga ada mamah di sana. Aku mengecup pipi mamah dan Feli untuk menyapa mereka.
Setelah itu aku langsung melangkahkan kakiku menuju dapur, sebuah sudut rumah yang menjadi tempat favorite istriku. Tempatnya bereksperimen untuk menghasilkan aroma wewangian yang selalu saja membuatku betah untuk makan di rumah.
Dia tidak menyadari kehadiranku saat ini, membuat aku semakin mengendap-endap untuk merengkuh tubuhnya. Melingkarkan kedua tanganku pada perutnya. Lalu mengecup tengkuk lehernya yang terbuka. Akibat ikatan rambut yang digunakannya.
"Heii, kenapa ini?" tegurnya yang seraya berbalik lalu menghadapku.
"Awas kena penggorengan. Panas," ucapnya lagi.
Aku terkekeh kemudian berbisik, "Lebih panasan kamu," godaku.
Bersambung ...
โโโโโ
Happy fasting ...
And happy reading ...
Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)
#salambucin! ๐
__ADS_1